wagenugraha

Archive for October, 2008

Mencontoh Rasulullah SAW menjadi suami teladan

In Keluarga on October 29, 2008 at 10:56 am

Dari Abu Hurairah r.a., berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Mukmin yang paling sempurna keimanannya adalah yang paling baik akhlaknya, dan yang paling baik di antara kalian adalah yang paling baik terhadap istri-istrinya (Imam At-Tirmidzi)

Kata-kata diatas merupakan sabda Rasulullah SAW yang menunjukkan bagaimana akhlak seorang mukmin kepada istrinya merupakan salah satu parameter cerminan kualitas akhlak seorang mukmin. Sabda beliau diiringi dengan implementasi nyata di lapangan oleh Rasulullah SAW. Siroh telah mencatat bagaimana Rasulullah SAW begitu mulia dan hormat dalam memperlakukan istri-istri beliau.

 

Sikap lembut Rasulullah SAW dan Umar Bin Khattab

Tidak pernah sekalipun ada kekerasan ataupun pemaksaan kehendak dari Rasulullah SAW dalam kehidupan berumah tangga. Walaupun seorang Rasul dan Pemimpin Besar Umat Islam, beliau tidak sungkan untuk membantu pekerjaan rumah tangga yang biasanya dikerjakan seorang istri. Beliau adalah orang yang sangat lembut tidak pernah sekalipun marah akibat hal-hal yang sepele. Saat beliau bertanya kepada istrinya apakah ada makanan yang dapat dimakan, dan ternyata mendapatkan jawaban “tidak ada” beliau memilih untuk shaum sunnah. Saat muncul konflik diantara istri-istrinya beliau menyelesaikan dengan cara yang bijaksana dan penuh kasih sayang.

Sahabat Rasulullah SAW ; Umar Bin Khattab r.a (Khalifah kedua setelah Abu Bakar r.a) bersikap lemah lembut serta penuh kesabaran kepada istrinya. Sehingga dalam suatu riwayat: saat seorang umat yang akan mengadukan istrinya yang cerewet kepada Khalifah Umar Bin Khattab dan menjumpai Khalifah pun menghadapi masalah yang sama dengan istrinya. Tapi Khalifah Umar Bin Khattab berlaku sabar penuh kelembutan. Umat pun menjadi malu. Padahal siapa yang tidak kenal Umar Bin Khattab yang penuh ketegasan, disegani kawan dan lawan dan bergelar “Al-Faruq”. Kepada sahabat yang mengadu Umar Bin Khattab berpesan : muliakanlah istrimu karena istrimulah yang menjaga dirimu dari syahwat yang tidak halal, istrimulah yang mendidik anak-anak yang dititipkan Allah SWT, istrimulah yang bersusah payah mengelola rumah tangga saat ditinggal oleh suami yang mencari nafkah atau berjihad. Sudah sepantasnya kita, sebagai suami memuliakan dan mendidik dengan cara yang hikmah dan penuh kasih sayang.

Islam sebagai Dien (sistem) yang membawa kebaikan bagi sekalian alam sangat menjunjung tinggi peran istri sebagai tiang negara. Sehingga pantas dimuliakan oleh suaminya.

Lembut, sabar dan memimpin dengan penuh hikmah

Bagi kita sebagai seorang mukmin apalagi yang telah diamanahi mengelola sebuah keluarga, contoh Rasulullah SAW tersebut merupakan sebuah contoh pola pengelolaan keluarga yang sempurna. Terutama sebagai seorang suami, memuliakan istri dan mendidik istri dengan cara yang hikmah adalah suatu bentuk kewajiban dan implementasi akhlakul karimah. Dalam Islam lemah lembut dalam berinteraksi dengan istri tentunya tanpa menghilangkan essensi dari pendidikan dan pembinaan. Seorang suami merupakan pemimpin sebuah keluarga salah satu kewajiban utamanya adalah memimpin dan menjaga keimanan elemen-elemen keluarga termasuk istri. Sehingga lemah lembut dan memuliakan disini tetap dalam koridor pembinaan dan pendidikan keluarga, untuk bersama mencapai ketakwaan yang paripurna kepada Allah SWT.

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api
neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya
malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap
apa yang diperintahkan- Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.”(QS.At-Tahrim: 6)

Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan shalat dan Bersabarlah kamu dalam mengerjakannya. kami tidak meminta rezki kepadamu, kamilah yang memberi rezki kepadamu. dan akibat (yang baik) itu adalah bagi orang yang bertakwa.”(QS.Thaha: 132)

Lantas bagaimanakah kita ? Apakah kita sudah mencontoh untuk selalu berbuat baik kepada istri, memuliakan dan mendidik dengan penuh hikmah dan kelembutan. Mencintainya tak lekang oleh usia …”till death do us a part”.

Mari kita melakukan yang terbaik dalam mengemban amanah keluarga.

Wallahua’alam Bishawab.

Salahudin Al Ayubi “Singa Padang Pasir”

In Resensi buku on October 12, 2008 at 5:55 am

Salahudin Al Ayubi atau sering juga di sebut sebagai “Saladin” di dunia barat, merupakan panglima perang Muslim yang dikagumi kepiawaian berperang serta keshalihannya baik kepada kawan dan lawan-lawannya. Keberanian dan kepahlawanannya tercatat sejarah di kancah perang salib.

Juli 1192 sepasukan muslim dalam perang salib menyerang tenda-tenda pasukan salib diluar benteng kota Jaffa, termasuk didalamnya ada tenda Raja Inggris, Richard I. Raja Richard pun menyongsong serangan pasukan muslim dengan berjalan kaki bersama para prajuritnya. Perbandingan pasukan muslim dengan Kristen adalah 4:1. Salahudin Al Ayubi yang melihat Richard dalam kondisi seperti itu berkata kepada saudaranya : ” Bagaimana mungkin seorang raja berjalan kaki bersama prajuritnya? Pergilah ambil kuda arab ini dan berikan kepadanya, seorang laki-laki sehebat dia tidak seharusnya berada di tempat ini dengan berjalan kaki “. Fragmen diatas dicatat sebagai salah satu karakter yang pemurah dari Salahudin, bahkan kepada musuhnya sekalipun. Walalupun sedang diatas angin tetap berlaku adil dan menghormati lawan-lawannya.

Sejarah Hidup Salahudin

Salahudin lahir disebuah kastil di Takreet tepi sungai Tigris (daerah Irak) tahun 1137 Masehi atau 532 Hijriyah. Bernama asli Salah al-Din Yusuf bin Ayub. Ayahnya Najm ad-Din masih keturunan suku Kurdi dan menjadi pengelola kastil itu. Setelah kelahiran Salahudin keluarga Najm-ad-Din bertolak ke Mosul, akibat ada konflik didalam kastil. Di Mosul , keluarga Najm bertemu dan membantu Zangi, seorang penguasa arab yang mencoba menyatukan daerah-daerah muslim yang terpecah menjadi beberapa kerajaan seperti Suriah, Antiokhia, Aleppo, Tripoli, Horns, Yarussalem, Damaskus.

Zangi berhasil menguasai Suriah selanjutnya Zangi bersiap untuk menghadapi serbuan tentara Salib dari Eropa yang telah mulai memasuki Palestina. Zangi bersama saudaranya; Nuruddin menjadi mentor bagi Salahudin kecil yang mulai tumbuh berkembang dalam lingkungan keluarga ksatria. Dari kecil sudah mulai terlihat karakter kuat Salahudin yang rendah hati, santu serta penuh belas kasih. Zangi meninggal digantikan Nuruddin. Paman Salahudin, Shirkuh kemudian ditunjuk untuk menaklukan Mesir yang saat itu sedang dikuasai dinasti Fatimiyah. Setelah penyerangan kelima kali, tahun 1189 Mesir dapat dikuasai.  Shirkuh kemudian meninggal. Selanjutnya Salahudin diangkat oleh Nuruddin menjadi pengganti Shirkuh.

Salahudin yang masih muda dan dinggap “hijau” ternyata mampu melakukan mobilisasi dan reorganisasi pasukan dan perekonomian di Mesir, terutama untuk menghadapi kemungkinan serbuan balatentara Salib. Berkali-kali serangan pasukan Salib ke Mesir dapat Salahudin patahkan. Akan tetapi keberhasilan Salahudin dalam memimpin mesir mengakibatkan Nuruddin merasa khawatir tersaingi. Akibatnya hubungan mereka memburuk. Tahun 1175 Nuruddin mengirimkan pasukan untuk menaklukan Mesir. Tetapi Nuruddin meninggal saat armadanya sedang dalam perjalanan. Akhirnya penyerangan dibatalkan. Tampuk kekuasaan diserahkan kepada putranya yang masih sangat muda. Salahudin berangkat ke Damaskus untuk mengucapkan bela sungkawa. Kedatangannya  banyak disambut dan  dielu-elukan. Salahudin yang santun berniat untuk menyerahkan kekuasaan kepada raja yang baru dan masih belia ini. Pada tahun itu juga raja muda ini sakit dan meninggal. Posisinya digantikan oleh Salahudin yang diangkat menjadi pemimpin kekhalifahan Suriah dan Mesir.

Salahudin dan Perang Salib

Saat Salahudin berkuasa, perang salib sedang berjalan dalam fase kedua dengan dikuasainya Yerussalem oleh pasukan Salib. Namun pasukan Salib tidak mampu menaklukan Damaskus dan Kairo. Saat itu terjadi gencatan senjata antara Salahudin dengan Raja Yerussalem dari pasukan Salib, Guy de Lusignan.

Perang salib yang disebut-sebut sebagai fase ketiga dipicu oleh penyerangan pasukan Salib terhadap rombongan peziarah muslim dari Damaskus. Penyerangan ini dipimpin oleh Reginald de Chattilon penguasa kastil di Kerak yang merupakan bagian dari Kerajaan Yerussalem. Seluruh rombongan kafilah ini dibantai termasuk saudara perempuan Salahudin. Insiden ini menghancurkan kesepakatan gencatan senjata antara Damaskus dan Yerussalem. Maret 1187 setelah bulan suci Ramadhan, Salahudin menyerukan Jihad Qittal. Pasukan muslimin bergerak menaklukan benteng-benteng pasukan Salib. Puncak kegemilangan Salahudin terjadi di Perang Hattin.

Read the rest of this entry »

Mudik dan Lebaran

In Experience on October 1, 2008 at 1:26 am

Kartun merupakan media yang unik untuk menyampaikan pesan. Pas lagi nunggu acara silaturhmi nemu web kartun ini, kartun united..lucu-lucu kartunnya. Salah satunya yang ini mudik santai …he2 :D

 

 

 

 

(sumber:http://kartununited.blogspot.com)