Archive

Archive for June, 2009

Word of Mouth Marketing (WOMM)….dahsyatnya kekuatan pemasaran dari mulut ke mulut

June 21, 2009 wagenugraha 9 comments

Konsumen sebagai sasaran bidik sebuah produk sebetulnya memiliki potensi yang besar untuk memasarkan produk yang dipasarkan. Bagaikan virus yang dapat melakukan penyebaran sangat cepat yang semula hanya diawali oleh satu orang yang memiliki jaringan luas, dapat memberikan pengaruh terhadap pemasaran sebuah produk. Rekomendasi dan pemasaran “dari mulut ke mulut”.

Sehingga saat produk memiliki nilai positif akan memiliki peluang yan sangat besar untuk direkomendasikan konsumen kepada konsumen yang lainnya dan begitu juga sebaliknya saat produk yang dilempar kepasaran dinilai memiliki nilai negatif, maka akan mendapatkan publisikasi negatif oleh para konsumen. Bahkan hasil penelitian sebuah lembaga research menunjukkan untuk hal-hal yang negatif (Negative Word of Mouth, NWOM) memiliki angka penyebaran yang lebih besar dibandingkan hal-hal yang positif (Positive Word of Mouth, PWOM). Berdasarkan hasil riset rata-rata konsumen di Indoensia menceritakan hal yang positif kepada 7 orang, sedangkan hal yang negatif kepada 11 orang. Cukup significant bukan ?. Ternyata konsumen sendiri memiliki kontribusi terhadap aktifitas pemasaran dan pencitraan produk entah itu barang ataupun jasa. Contoh yang mudah terlihat dalam realita adalah bagaimana rumah makan-rumah makan yang sederhana tapi memiliki keunikan tetap mendapatkan pelanggan padahal mereka tidak pernah beriklan sama sekali dalam media massa. Ya kekuatan pemasaran lewat mulut para pelanggannya. Fenomena ini diangkat juga oleh Jurnalis Malcolm Gladwell dalam bukunya “THE TIPPING POINT”. Yang secara umum menyajikan analisa bagaimana hal-hal yang besar dipengaruhi oleh hal-hal kecil termasuk aktifitas Word of Mouth dalam pemasaran.

Sehingga dengan melihat kekuatan pengaruh pemasaran dari mulut ke mulut produsen sebuah produk  perlu untuk lebih fokus dalam menjalankan Word of Mouth Marketing. Membuat para pelanggan kita membicarakan (do the talking), mempromosikan (do the promotion) dan menjual (do the selling).

Dalam aktifitas Word of Mouth Marketing, produsen dapat memanfaatkan para pelanggan potensialnya untuk memberikan kontribusi merubah konsumen lainnya menjadi bersikap positif terhadap produk yang dipasarkan. Para pelanggan ini merupakan profitable talkers yang memiliki pengaruh serta jaringan yang cukup besar untuk mempengaruhi konsumen yang lainnya untuk menjadi positif, mencoba dan membeli produk.

Dalam buku THE TIPPING POINT, Malcolm Gladwell menyajikan analisa mengenai bagaimana beberapa golongan orang dapat memberikan pengaruh yang besar terhadap masyarakat. Entah itu membentuk opini, menggerakkan massa sampai mempromosikan suatu produk. Malcolm menyebut golongan tersebut sebagai para Maven (orang bijak), Connector (penghubung), Salesman (penjual). Masing-masing memberikan kontribusi yang besar dalam memberikan pengaruh kepada massa.

Maven (orang bijak) merupakan orang dengan perbendaharaan informasi yang banyak terutama informasi-informasi baru. Para Maven ini memiliki kecenderungan untuk berbagi pengetahuan yang dimilikinya dengan orang lain tanpa pamrih. Bagi mereka membantu dan menolong orang lain adalah suatu kepuasan. Salesman (penjual), golongan orang yang memiliki pengaruh yang kuat untuk dapat mempengaruhi orang lain secara halus. Umumnya tipe-tipe orang yang memiliki kemampuan lebih dalam hal bernegosiasi dan mempengaruhi.  Connector (penghubung) merupakan tipe orang yang memiliki akses pergaulan yang luas kedalam berbagai jenis kalangan strata social serta mampu “menghubungkan” diantara mereka. Tipe-tipe orang tersebut kemungkinan besar juga terdapat dalam pelanggan yang dimiliki oleh sebuah perusahaan. Bayangkan kekuatan pemasaran yang muncul jika mereka merekomendasikan sebuah produk.

Banyak perusahaan-perusahaan yang mensponsori komunitas pengguna produk, menggandeng pelanggan potensial untuk menjadi “agen” yang dapat membantu memasarkan. Di tengah kelesuan belanja iklan konvensional di media massa serta tuntutan untuk berasing ketat dalam iklim bisnis yang masih kelabu, aktifitas Word of Mouth Marketing merupakan salah satu “resep” jitu untuk meningkatkan brand image produk dan mendongkrak keuntungan usaha.

Bahkan produk-produk berteknologi tinggi serta perusahaan-perusahaan baru banyak menggunakan aktifitas pemasaran Word of Mouth Marketing ini. Produk RIM, Smartphone Blackberry, situs pencarian Google, situs took online Amazon.com, situs jejaring sosial FaceBook merupakan salah satu contoh bagaimana kekuatan pemasaran dari mulut ke mulut memberikan hasil citra positif  dimata konsumen, sehingga memunculkan ketertarikan untuk mencoba dan menggunakan produk mereka.

Tentunya hal ini harus dibarengi dengan penyajian produk yang prima bukan hanya sekedar lips service. Sehingga pelanggan betul-betl tergerak untuk mempromosikan dan memberikan kontribusi pemasaran yang significant. Make your custumers do the talking, promoting and selling.

Refrensi : Businessweek Mei 2009, Sumardy Head of Consulting Octovate

Categories: Ideas Tags:

Great teacher “Mr.B”, catatan mengenai seorang guru teladan

Sepanjang perjalanan kita menempuh jalur pendidikan pasti kita pernah menjumpai guru-guru hebat yang layak menjadi teladan dan memberikan inspirasi. Terinspirasi oleh film lawas Dangerous Mind serta dorama Gokusen jadi terusik ingin menuliskan seorang profil guru yang (menurut saya) sangat layak menjadi teladan dan cukup jarang ditemui dalam lingkungan akademis.

Seorang dosen disebuah perguruan tinggi teknologi terkemuka tanah air, memiliki keahlian dalam bidang korosi, material keramik dan karbon. Selain kemampuan akademis yang mumpuni ternyata sang dosen ini pun memiliki hobi dalam bidang elektronik, seni rupa serta mampu menggunakan beberapa alat musik seperti flute, biola dan gitar. Wah mantapp, seimbang sekali antara otak kiri dan otak kanan. Itu adalah sisi kelebihan beliau dengan kapasitas seorang akademisi dan peneliti. Kami (mahasiswa-mahasiwa bimbingannya) terkadang menyebut beliau dengan sebutan “mr.B”. Tapi satu hal yan membuat saya dan teman-teman lainnya terkesan adalah attitude beliau. Tidak hanya transfer ilmu dan pengetahuan yang beliau lakukan tapi ada hal-hal yang lebih dari itu. Transfer idealisme, semangat serta nilai-nilai religius. Sesuatu hal yang masih agak jarang dilakukan dalam lingkungan perguruan tinggi pada umumnya. Sesuatu yang agak mirip dengan yang dilakukan tokoh Yankumi dalam dorama Gokusen walaupun cara beliau lebih “halus”.

Satu hal yang juga tidak kalah pentingnya contoh keteladanan serta dedikasi terhadap tugas yang beliau contohkan. Sangat-sangat jarang sekali beliau membatalkan perkuliahan atau agenda tatap muka penelitian, tanpa sebab yang jelas atau tanpa pemberitahuan sebelumnya, walaupun mengajar jam 18:00 (ada pergeseran jadwal kuliah dan agenda presentasi). Atau sering beliau saat kuliah pagi membawa sendiri Slide Projector (saat itu LCD projector masih barang langka) dari jurusan ketempat kuliah lantai 3, padahal berat lho dan beliau tidak pernah meminta kepada mahasiwa untuk membawakannya. Akhirnya kami peserta kuliah suka berlomba-lomba dating lebih pagi agar kami bisa membawa Slide Projector tsb. “Bagi saya mengajar itu adalah ibadah” kata beliau, kata-kata itu masih terekam kuat dalam benak ingatan saya saat sehabis diskusi topik penelitian. Hal lainnya yang sering beliau ingatkan adalah sebagai seorang lulusan akademis kami harus memberikan kontribusi positif bagi umat apapun itu.

Maka tak heran kelas-kelas kuliah yang diajar oleh beliau, terutama kuliah pilihan banyak diminati para mahasiswa. Walaupun terkenal beliau suka membuat soal yang susah, unik, ujian Open-Book tapi tidak menyurutkan para peserta kuliah. Bagi saya sendiri seakan ada keasyikan tersendiri dalam mengikuti kuliah beliau, metode pengajaran yang unik, contoh serta ilustrasi yang membumi. Bahkan terkadang beliau suka membawa barang-barang atau suatu prototype yang menggambarkan konsep kelilmuan yang sedang kami pelajari. Pernah beliau membawa mainan kapal-kapalan dari kaleng dengan bahan bakar minyak kelapa. Yang biasanya suka dijual dipinggir jalan (sekarang kayaknya sudah musnah jenis mainan seperti ini). Kapal tersebut digunakan untuk ilustrasi konsep-konsep proses termodinamika yang beliau ajarkan. Dan hal lain yang paling kami ingat saat akses terhadap informasi yang masih kurang, harga buku yang masih mahal bagi ukran kantong mahasiswa yang pas-pasan beliau sering meminjamkan buku-buku ataupun sengaja menyebarkan artikel-artikel ilmiah kepada mahasiswanya .

Kerendahan hati, dedikasi serta keteladanan beliau selama mengajar dan kesabaran menghadapi aneka ragam mahasiswanya membuat kami semua, yang pernah diajar oleh beliau menyimpan rasa hormat yang mendalam bahkan setelah kami lulus. Tahun 2001-2004 Saya dan beberapa orang teman masih suka menyempatkan silaturahim ke rumah beliau. Dan ternyata kesederhanaan dan kearifan dalam mengajar beliau bawa juga kedalam ruang lingkup keluarga beliau. Mungkin profil mr.B ini merupakan contoh dari sekian banyak guru-guru teladan yang ada dinegara ini. Yang mendarma baktikan hidupnya untuk mendidik tidak hanya sebatas mengajar. Walaupun terkadang dinegara ini masih kurang apresiasi yang diberikan kepada guru, cukup julukan Pahlawan Tanpa Tanda Jasa.

………………………………………………………………………………………………….. Kepada Bpk B Terimakasih banyak atas segala yang bapak lakukan kepada kami semoga segala kebaikan bapak mendapatkan balasan oleh Allah SWT sebagai amal shalih yang terbaik

Danke Mr.B, Sie sind die besten

Categories: Experience Tags:

Bisnis dan GO OPEN SOURCE

June 9, 2009 wagenugraha 4 comments

Dell-Desktop-ubuntu-linux

Berbicara mengenai Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) dalam dunia bisnis adalah berbicara juga mengenai nilai kompetitif. Bagaimana tidak, TIK sekarang menjadi salah satu kunci untuk dapat meraih keunggulan dalam iklim usaha yang makin ketat persaingannya. TIK tidak hanya sekedar tool dalam menjalankan core-business tapi juga sebagai daya ungkit untuk memberikan kekuatan dalam meraih pangsa pasar. Maka tidak heran banyak perusahaan yang mengalokasikan dana cukup besar untuk “belanja” TIK yang tentunya dibarengi dengan komitmen yang besar untuk mengmplementasikannya.

Selama ini TIK yang di implementasikan dalam perusahaan-perusahaan skala menengah dan besar masih didominasi perangkat-perangkat lunak berbayar (proprietary). Sebut saja vendor Microsoft, vendor perangkat lunak raksasa dunia yang menyediakan berbagai perangkat lunak kebutuhan perusahaan. Tapi dengan keharusan membayar lisensi aplikasi perangkat lunak dalam kisaran harga yang cukup tinggi membuat perusahaan-perusahaan mencari alternatif lainnya yang lebih ekonomis dengan kemampuan yang handal. Mulailah Open Source System (OSS) dilirik oleh perusahaan-perusahaan.


OO

Apalagi dalam situasi ekonomi yang belum stabil dimana “cash” adalah hal yang vital, maka pengehematan besar-besaran perlu dilakukan agar bisa bertahan. OSS merupakan sistem perangkat lunak yang membebaskan para penggunanya dari biaya lisensi yang mahal. Untuk dapat menggunakannya para pemakai dapat tidak dikenakan biaya ataupun sejumlah biaya tertentu yang tidak begitu besar. Contoh untuk satu unit desktop standar biaya perangkat lunak proprietary dapat mencapai $500 sedangkan jika menggunakan OSS biaya yang diperlukan cukup 1/5-nya. Walaupun tidak betul-betul gratis penggunaan Open Source memberikan nilai kompetitif dari segi ekonomi dan kebebasan untuk memodifikasi sesuai dengan kebutuhan, karena pengguna dapat memodifikasi source code nya untuk memperoleh kinerja dan penyesuaian yang diperlukan sesuai kebutuhan. Hal yang sama sekali tidak bisa dilakukan dalam lingkungan sistem perangkat lunak berbayar.


Banyak perusahaan-perusahaan yang mulai mengimplementasikan Open Source System dalam lingkungan teknologi informasinya. Penggunaan Open Source System memberikan kontribusi efisiensi dari perusahaan-perusahaan dalam memberikan produk atau layanan jasa, perusahaan-perusahaan teknologi tinggi di India dan Cina contohnya. Open Source System disini bisa berarti perangkat lunak yang dibangun dalam template Open Source seperti sistem operasi desktop Linux (serta ratusan turunannya), perangkat lunak yang digunakan untuk keperluan tertentu, Server, email client, aplikasi perangkat Office, data base. Vendor-vendor yang menawarkan produk dan service seputar Open Source System pun mulai banyak bahkan di support oleh vendor teknologi yang bukan OSS. Contohnya adalah NOVELL yang mendapat dukungan AMD atau RED HAT yang memiliki dukungan IBM.


Di Indonesia sendiri implementasi OSS mulai marak digunakan oleh banyak perusahaan skala kecil, menengah dan besar. Apalagi saat isu legalitas perangkat lunak kencang berhembus banyak perusahaan-perusahaan kecil yang switch ke Open Source. Contoh yang paling gampang dijumpai adalah warnet-warnet (warung internet). Untuk skala perusahaan besar, PT. Telekomunikasi Indonesia, Bank Mandiri tbk, PT Tempo Inti Media telah mulai dan sudah menggunakan Open Source System. Tantangan yang dihadapi saat “shifting” ini adalah penyesuaian terhadap pengguna serta pelatihan yang harus kontinu. Karena selama ini pengguna sudah terbiasa bekerja dengan komputer dengan lingkungan sistem proprietary, saat mulai menggunakan Open Source System umumnya mengalami masalah-masalah teknis akibat belum terbiasa. Umumnya makin banyak pengguna dalam suatu perusahaan maka energi untuk membiasakan mereka lancar makin besar juga. Disini biasanya dapat menggunakan jasa outsourcing untuk pelatihan dan implementasi Open Source System. Memang saat transisi ini tidak nyaman dan tidak mudah tapi begitu sistem Open Source ini berhasil digunakan akan banyak diperoleh nilai tambah bagi perusahaan dan para pengguna. Biaya belanja TIK yang ekonomis, stabilitas serta kinerja OSS yang baik dan tidak kalah kualitasnya di banding sistem proprietary.


Menarik menyimak komentar salah seorang top eksekutif IBM Indoensia bahwa Open Source selain faktor technical juga memerlukan perhatian yang khusus dari segi economical. Open Source System harus dimaintain terus dan versi yang diupdate sebagai bentuk penyempurnaan. Sehingga skala ekonomis Open Source System dapat tercapai, yang pada akhirnya betul-betul memberikan value yang optimal kepada para pengguna. Peran hubungan yang erat dan sinergis antara para pembuat software OSS – pemakai/perusahaan pengguna – pemerintah memegang peranan penting dalam mencapai skala ekonomis OSS. Pembuat OSS dapat menyediakan produk OSS yang sesuai dengan kebutuhan pengguna sehingga ada keseimbangan pemakaian produk OSS. Di satu sisi pemerintah sebagai regulator dapat menjaga iklim yang kondusif dengan memberikan insentif terkait pemakaian OSS. Tapi lepas dari itu juga hal lainnya yang tidak kalah penting adalah komitmen dari segenap para pengguna untuk memanfaatkan OSS agar dapat lebih produktif secara efisien.


Bagaimana dengan anda, tertarik untuk mulai Go Open Source ?.

Categories: Teknologi Tags: ,