Archive

Archive for July, 2009

Outliers, 10000 jam kerja keras menuju puncak keberhasilan

July 29, 2009 wagenugraha 3 comments

Dalam bukunya Outliers, Malcolm Gladwell mengupas jalan yang ditempuh oleh para juara dalam berbagai bidang, dan menemukan bahwa latihan serta kerja keras mengalahka kecerdasan dan bakat.

outliers2Mengapa Bill Gates sukses menjadi seorang miliarder dan teknokrat ? Menurut analisa Gladwell dalam bukunya tersebut selain cerdas dan ambisius Bill Gates memiliki kesempatan-kesempatan dan momen yang istimewa. Tahun kelahiran Gates yaitu tahun 1955 membuatnya berada dalam iklim yang cukup dewasa untuk bisa memanfaatkan secara optimal momen peluncuran komputer Altair 8800 (komputer pribadi yang terkenal dan cukup mudah digunakan di tahun 1975). Tahun kelahiran tersebut menyebabkan saat itu menjadikan Gates belum terlalu tua dan mapan, sehingga memberikan peluang besar kepadanya untuk lebih leluasa memilih peluang yang lebih besar, dan lebih beresiko. Sampai akhirnya melahirkan Microsoft Corporation yang sekarang telah bertransformasi menjadi perusahaan software raksasa. Apakah ini suatu kebetulan ? Gladwell selanjutnya memberikan contoh enterpreneur-enterpreneur teknologi sukses lainnya, di Silicon Valley yang memiliki kedekatan tahun kelahiran. Paul Allen co-founder Microsoft lahir tahun 1953, pendiri Apple Computer Steve Jobs lahir tahun 1955, Bill Joy dan Scott Mcnealy pendiri Sun Microsystem lahir tahun 1954. Para teknokrat Silicon Valley tersebut berhasil tidak karena kecerdasan dan bakat tapi juga didukung oleh kesempatan yang tepat dan waktu yang tepat.

Malcolm Gladwell yang telah menulis dua buku menarik sebelumnya Blink dan The Tipping Point, kembali menulis buku berikutnya Outliers. Analisa yang diajukan Gladwell dalam bukunya adalah bahwa suatu keberhasilan tidak hanya ditunjang oleh factor intrinsik seseorang tapi juga dipengaruhi oleh budaya, lingkungan, kesempatan dan waktu yang tepat. Salah satu contoh ilustrasi yang mendukung gagasannya Bill Gates (pendiri Microsoft) serta Bill Joy (pendiri Sun Microsystem) “matang” serta memiliki keahlian yang mengagumkan dalam bidang program komputer karena memiliki akses yang bagus dengan komputer. Selain itu juga, kemajuan teknologi komputer saat itu memungkinkan dua “geek” tersebut mengembangkan keahlian programming mereka tanpa terhambat kelambanan prosesing data. Dari sini muncul efek 10000 jam latihan yang disarankan oleh Gladwell mutlak diperlukan oleh seseorang jika ingin mendongkrak keberhasilan dalam bidang apapaun. Dalam buku ini dibahas juga pemain Hockey, The Beattles  yang meraih keberhasilan dalam bidangnya setelah kira-kira menghabiskan 10000 jam berlatih. Berdasarkan analisisnya Gladwell mengajukan usul perpanjangan waktu akademis dalam sistem pendidikan Amerika Serikat, agar dapat lebih menghantarkan keunggulan siswa-siswa Amerika. Dibanding rekan- rekannya dari Asia yang menjalani waktu sekolah lebih panjang.

Gagasan ini terkesan sangat sederhana, tapi dengan analisis data dan contoh kasus yang dikupas dalam bukunya Gladwell berpendapat bahwa keberhasilan ditunjang oleh warisan budaya yang dianut, kegigihan, kejelian menangkap peluang. Kecerdasan ataupun kelebihan intrinsic lainnya memang diperlukan, tapi pada satu fase tertentu hal tersebut tidak akan banyak membantu. Yang diperlukan lebih utama adalah porsi latihan yang lebih sering, kurang lebih 10000 jam. Dalam bidang apapun seprti The Beatles yang banyak menghabiskan waktu manggung mengasahnya di Hamburg, Bill Gates yang menghabiskan waktu melakukan programming di Goerge Washington University. Atau seperti Bill Joy (pendiri Sun Microsystem) yang mengasah kemampuan programmingnya di kampus University Of Michigan dan University of California yang memiliki akses computer terbaik saat itu.

Bayangkan jika kesempatan-kesempatan yang positif diberikan kepada generasi muda, berapa banyak “rising star-rising star” dalam berbagai bidang yang akan muncul. Sehingga dalam kesimpulannya Gladwell menuliskan “Jika kita mengabaikan atau salah memahami pelajaran keberhasilan yang sebenarnya , berarti kita telah menyia-nyiakan bakat”.

Buku yang sangat menarik untuk menambah perbendaharaan pemahaman mengenai proses suatu keberhasilan.

Categories: Resensi buku

Anak, orang tua dan amanah pembinaan

July 22, 2009 wagenugraha 1 comment

01-09-09_0813Memiliki anak yang sehat, shalih merupakan dambaan setiap orang tua. Kehadiran anak dirasakan sebagai pelengkap sebuah keluarga. Akan tetapi sebagai seorang mukmin, kehadiran anak dalam sebuah keluarga tidak lepas dari kehendak Allah SWT. Dan yang pastinya keberadaan anak sebagai sebuah titipan mengandung makna amanah yang besar. Keberadaan anak tidak hanya semata hasil dari proses biologi semata tapi lebih dari itu, ada tugas yang sudah include dalam amanah anak ini.

Salah satunya adalah amanah pembinaan yang paripurna. Pembinaan yang benar sehingga anak yang di titipkan kepada kita tumbuh menjadi generasi terbaik pembela umat. Generasi yang memiliki akhlak mulia dengan karakter yang kuat.

Sehingga sudah seharusnya para orang tua memiliki kesadaran dan kesanggupan dalam mengemban amanah ini. Untuk mampu membina guna membentuk generasi yang kuat melalui pembinaan dalam keluarga.

Semoga predikat orang tua; ayah, ibu tidak semata-mata di”sematkan” karena sudah memiliki anak. Tapi harus lebih dari itu. Saat menjadi orang tua kita harus memiliki kemampuan menjadi orang tua. Kemampuan yang dibangun melalui kesadaran, pengalaman dan pembelajaran yang terus menerus.

Dalam Al Qur’an surat An-Nisa:9 : “Dan hendaklah takut kepada ALLAH orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatirkan keadaannya. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada ALLAH dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar”. Generasi yang kuat akan muncul jika dibesarkan di atas pijakan ketaqwaan kepada ALLAH serta berkata perkataan yang benar. Dengan dua “guide line” ini insya Allah akan terbentuk anak-anak dengan karakter yang kuat yang mampu berperan sebagai generasi shalih pewaris semangat para Nabi dan golongan orang-orang yang shalih.

Semoga kita semua yang sudah diamanahi tanggung jawab ini dimampukan oleh ALLAH untuk membina membentuk generasi yang kuat. Generasi yang mampu mengusung risalah kebenaran mengukir prestasi dan amal shalih dalam berbagai peran dalam masyarakat. Amin.

Wallahu’alam Bishawab

Categories: Keluarga

Sony..dari bengkel radio menjadi perusahaan inovatif kelas dunia

July 5, 2009 wagenugraha 1 comment

Setiap orang pasti mengenal merek Sony dan kemungkinan besar pernah menggunakan produk Sony. Sebagai perusahaan elektronik Sony dinilai berhasil membesut produk produk yang laris manis atau menjadi icon di dunia teknologi. Sebut saja televisi Trinitron, pemutar musik Walkman, notebook VAIO, komputer genggam CLIE, konsol game Play Station, phone cell Sony Ericsson dan sederet produk lainnya.

Tapi dibalik kesuksesan menjadi salah satu icon teknologi dan inovasi, Sony pada mulanya “hanyalah” sebuah bengkel radio di Tokyo jepang; Tokyo Tsushin Kogyo (Tokyo Telecomunication Engineering Corporation). Di dirikan oleh Akio Morita dan Ibuka setelah perang dunia ke II. Setelah memutuskan untuk melakukan manufaktur produk, Morita dan Ibuka mempoduksi penanak nasi dari kayu (khas Jepang) dengan sumber energi listrik untuk memanaskan nasinya. Tapi entah kenapa nasi yang ditanak tidak pernah matang. Akhinya produk pertama mereka gagal.

Sony, ditangan Morita dan Ibuka dapat berkembang dari sebuah perusahaan lokal menjadi sebuah perusahaan elektonika pertama Jepang yang merambah secara Global. Bermula dari Morita yang berkunjung ke perusahaan Phillips Belanda di era 50-an. Kunjungan itu membawa mimpi bagi Morita untuk membawa Sony menjadi perusahaan kelas dunia. Disini kita bisa belajar contoh kekuatan sebuah visi dan tekad untuk mewujudkannya.

Morita dan Ibuka merupakan contoh pemimpin bertangan dingin dan memiliki visi yang kuat. Walaupun pucuk pimpinan dipegang oleh dua orang tapi mereka mampu “membagi” kekuasaan dan bersinergi membangun budaya perusahaan yang solid. Budaya perusahaan inilah yang menjadi “resep rahasia” Sony selain sumber daya manusia yang bagus.

Kedisiplinan, inovasi, keberanian untuk mengambil resiko, kebersamaan, kesedehanaan, merupakan sebagian budaya perusahaan Sony yang dapat diaplikasikan dengan baik. Maka tidak heran di Sony sang pendiri Sony berinteraksi secara langsung dengan petugas kebersihan dan karyawan level paling bawah. Budaya egaliter merupakan salah satu pemicu inovasi Sony. Memungkinkan orang-orang Sony mengeluarkan potensi terbaiknya untuk perusahaan. Kesederhanaan merupakan budaya yang di anut seluruh karyawan mulai dari level bawah sampai top management. Morita dan Ibuka mencontohkan sikap bahwa budaya mewah bukanlah taraf pencapaian terbaik. Berprestasi terus menerus merupakan pencapaian yang lebih beharga ketimbang bermewah-mewah.

Inovasi merupakan ciri khas Sony yang sudah mendarah daging. Produk produk Sony terkenal dengan desain dan kinerja yang prima, walaupun tidak semua laris dipasaran. Diawali dengan produk radio transistor portable Sony yang laris, Sony menggulirkan produk lainnya dengan “DNA” yang sama: pemutar musik portable WALKMAN, notebook VAIO, konsol game Play Station. Walaupun ada lini-lini produk yang gagal tapi tidak menyurutkan inovasi Sony dan investasi untuk mengembangkan bisnisnya. Sampai sekarang budaya Sony yang ditanamkan sang pendiri masih mengakar kuat walaupun Sony adalah sebuah perusahaan global. Suatu contoh perusahaan global dengan budaya lokal yang kuat dan positif.

Hal yang menyentuh lainnya dari budaya Sony: Sony meletakkan tujuan usahanya bukan hanya untuk mencetak laba semata. Yang paling utama bagi Sony adalah mengembangkan pertumbuhan jangka panjang dengan memberikan produk terbaik bagi konsumen, serta kesejahteraan bagi para karyawannya.

Suatu budaya yang mungkin dianggap utopia oleh kultur corporat barat tapi nyatanya sampai sekarang Sony masih bertahan sebagai perusahaan yang disegani.

Disadur dari : The Sony Way

Categories: Enterpreneur Tags:

Kekuatan dalam kesederhanaan

Saya suka kagum pada orang yang mampu memberikan penjelasan atau “mentrransfer” ilmu dengan bahasa yang sederhana & mudah dipahami. Memang kemampuan seperti itu merupakan hasil dari suatu pemahaman yang matang atau hasil pengalaman yang panjang. Tipe orang2 yang seperti itu menggunakan bahasa yang “membumi” alih-alih menggunakan bahasa “langit”.

Beberapa waktu yang lalu saya sempat mengikuti kursus singkat mengenai sistem pendingin untuk penyimpanan vaksin. Mentornya adalah salah seorang insinyur senior di peusahaan. Tanpa menggunakan istilah yang rumit apalagi persamaan-persamaan Termodinamika beliau mampu menjabarkan proses pendingin menjadi suatu cerita yang menarik untuk disimak. Membuat kami para peserta lebih sering mengangguk daripada mengernyitkan kening : ).

Pendapat saya keterampilan untuk mampu meramu hal yang rumit menjadi hal yang lebih sederhana adalah keterampilan yang berguna dimanapun kita berada. Tidak hanya dikampus atau didunia kerja, tapi dikeluarga serta di masyarakat luas keterampilan itu akan banyak bermanfaat.

Seorang dosen pernah berbagi cerita saat mengambil program Ph.D bidang ilmu bahan, profesornya saat penelitian memberi tugas untuk mempresentasikan hasil risetnya kepada istri sang dosen tsb, yang tentunya adalah orang awam untuk bidang ilmu rekayasa material. “Jika anda mampu menjelaskan hasil riset anda kepada istri anda maka kemungkinan besar anda akan berhasil saat sidang desertasi nanti”…begitu sang profesor berujar. Dan memang sang dosen ini memiliki kekhasan dalam mengajar, materi-materi kuliah yang rumit dalam ilmu material disajikan dalam kelas dengan bahasa populer yang mudah dipahami.

Dalam bukunya A Brief History of Time, fisikawan kondang Stephen Hawkin menuliskan konsep Fisika Modern mengenai ruang, waktu dalam bentuk tulisan yang populer. Tanpa ada persamaan-persamaan fisika yang rumit. Tapi tidak menghilangkan inti dari penjelasan yang disampaikannya dalam bidang Fisika Modern, Luar Biasa !.

Dalam sebuah hadist Rasulullah SAW bersabda “sampaikan Islam dengan bahasa masing-masing kaum”. Ternyata dalam berdakwah pun dianjurkan dengan bahasa sederhana yang penuh hikmah. Dan dalam perjalanan dakwah Rasulullah SAW senantiasa mencontohkan berdakwah dengan bahasa yang mudah dipahami. Bahasa dakwah islam yang disampaikan oleh beliau kepada seorang arab badui berbeda dengan yang disampaikan kepada Kaisar Romawi timur.

Terkadang kita terlalu berkutat dalam hal yang detail dan istilah-istilah ilmiah tapi belum menyentuh inti dari sebuah keilmuan.

Categories: Ideas