Cracking Zone & Crackers
Dalam iklim bisnis yang penuh dengan kompetisi serta ketidak pastian inovasi menjadi “mantra” sakti bagi para pelaku usaha. Untuk dapat bertahan atau berkembang, para pelaku usaha dituntut untuk senantiasa kerja keras dan cerdas menghasilkan sesuatu produk yang bernilai tinggi, serta mampu memasarkannya dengan maksimal.
Era teknologi informasi terutama dengan berkembangnya teknologi digital, yang hampir menyentuh setiap lini kehidupan masyarakat. Menjadikan batasan geografis menjadi terkikis., nyaris bukan menjadi halangan untuk bisa berkembang. Dengan adanya teknologi internet, menjadikan setiap penduduk dimuka bumi hampir memiliki akses informasi yang sama. Informasi yang dapat dikelola menjadi sebuah peluang ataupun membentuk sebuah jaringan (The World Is Flat-Thomas L Freidman). Era digital yang mempu mereduksi batasan lingkup geografis memunculkan gelombang para inovator-inovator muda baik skala lokal ataupun skala global.
Era digital baru ini juga mampu merubah budaya masyarakat. Internet yang sekarang lebih “ramah” menjadikan kecenderungan para pengguna internet untuk makin rajin membuat konten dan berbagi konten. Menjamurnya situs-situs jejaring sosial adalah salah satunya. Bahkan dalam tingkat yang lebih “advance” teknologi internet menjadi daya ungkit untuk kolaborasi global. Perubahan landscape budaya dan teknologi internet menstimulasi memunculkan “cracking-cracking” dalam dunia bisnis. Cracking yang secara terminologi adalah retakan adalah berubahnya perpetaan bisnis, budaya dan teknologi oleh aktifitas para “Crackers”.
Dalam skala global di era akhir 90-an kita bisa melihat bagaimana Google menjadikan layanan pencarian sebagai bisnis internet yang menjanjikan di antara bubble dot com di tahun 2000. Amazon.com retail online yang super efisien mampu menggoyahkan dominasi retail tradisional. Amazon.com mampu bertransformasi dari sebuah perusahaan start up menjadi raksasa e-commerce yang berhasil. Facebook yang menuai sukses menyajikan pengalaman interaksi sosial via internet, menyalip situs-situs sejenis.
Dalam bukunya; Cracking Zone, Rhenald Khasali memperkenalkan istilah Cracker untuk para pelaku usaha, yang mampu melakukan inovasi serta perubahan yang positif dalam konteks dunia usaha dan bisnis. Pelaku usaha yang tidak hanya sebatas menjadi followers tapi bisa menjadi leader, membuat sebuah trend baru sehingga muncullah peluang bisnis baru yang bersifat “blue ocean”. Perubahan serta produk inovasi yang dilakukan para “Crackers” lebih bersifat luas efeknya, mampu merubah “peta” di pasaran. Lebih luas dari Leaders yang sebatas melakukan transformasi dalam korporasi yang dipimpinnya.
Sangat menarik mengikuti paparan Rhenald Khasali yang “renyah” dan “bergizi” dalam memaparkan fenomena para Crackers ini. Dan beliau banyak menyajikan contoh-contoh konkrit dari para pelaku usaha lokal di Indoensia. Sebut saja XL misalnya. Provider telekomunikasi ini dinilai mampu merubah peta bisnis telekomunikasi tanah air. Ide tarif murah XL mampu memberikan hasil positif yang significant bagi XL. Saat itu XL masih berada di posisi ke-3, dengan adanya gebrakan baru ini XL mampu “melompat” ke posisi ke 2 melampaui Indosat. Selain tarif murah XL juga merupakan penyedia jasa telekomunikasi yang meluncurkan produk layanan BlackBerry harian, dengan tarif Rp.5000/ Hari. Layanan ini ternyata di amini oleh pihak RIM pusat di Canada serta merupakan layanan BlackBerry “sachet” pertama kali di dunia. Dengan layanan BIS (BlackBerry Internet Service) pemakaian layanan BlackBerry untuk konsumen menjadi sangat menarik. Bandingkan dengan tarif semula yang dibandrol ratusan ribu selama satu bulan.
Resep utama dari para Crackers ini adalah selalu berinovasi, berani mengeksekusi setiap peluang dengan tepat. Memiliki leader yang kuat, visioner serta didukung oleh tim yang dinamis. Oh ya momentum pun jangan dilupakan kontribusinya terhadap dampak Cracking
.
Selain XL, bisnis-bisnis lain di tanah air layak disebut sebagai “Crackers” sebut saja ; detik.com, Lion Air, Blue Bird dan masih banyak lagi. Tahun 2010 kemarin di Indonesia mulai terlihat geliat bisnis digital melalui perusahaan start up yang banyak digawangi anak-anak muda bangsa yang kreatif. Misalkan Koprol, Gantibaju.com, Urbanesia, 7langit, dan masih banyak lagi jajaran start up lainnya yang unik. Sebagai pelaku bisnis yang berorientasi layanan dan membidik segmen “niche market”, para startup ini memiliki peluang untuk bertarnsformasi menjadi para “Crackers” yang mampu merubah peta bisnis lokal dan global.
Kita tunggu saja bagaimana perkembangan selanjutnya dari para calon-calon Crackers ini.
Fokus dan Produktifitas
“Most of what we say and do is not essential. If you can eliminate it, you’ll have more time, and more tranquillity. Ask yourself at every moment, ‘Is this necessary?” -Marcus Aurelius-
Pernahkah anda mengalami hal seperti ini ; sedang melakukan sebuah pekerjaan dan tiba-tiba ada gangguan, semisal telepon mendadak atau pekerjaan yang harus ditangani segera ?. Terasa cukup melelahkan dan perlu energi besar agar kita bisa kembali ke pekerjaan semula. Kejadian ini pasti sering kita alami.
Switch yang sering antara sebuah pekerjaan dengan pekerjaan lainnya memang melelahkan dan mengkonsumsi banyak tenaga dan waktu. Salah satu artikel di majalah bisnis global; Businessweek pernah mengangkat isu ini, gangguan-gangguan yang terjadi sebagai pemecah konsentrasi pekerjaan merusak produktifitas karyawan dan dapat merugikan perusahaan dalam nilai yang cukup besar.
Sayangnya kita berada dalam sebuah budaya yang sangat “ketagihan” aktifitas multitasking. Padatnya pekerjaan terkadang disikapi dengan dapat melakukan banyak pekerjaan dalam satu waktu yang sama. Multitasking seakan jadi parameter produktifitas yang populer.
Seringkali kita menulis sebuah laporan sambil melakukan panggilan telepon, mengikuti sebuah seminar atau pelatihan sambil membawa berkas-berkas yang harus direview. Sebetulnya sah-sah saja untuk melakukan aktifitas multitasking dalam rangka mengejar target menyelesaikan sebuah pekerjaan. Tapi secara umum dalam jangka waktu yang panjang, akan menyebabkan kelelahan serta degradasi kualitas pekerjaan. Disinilah perlunya perencanaan dan evaluasi sehingga kita bisa lebih optimal dalam bekerja.
Dalam buku “Focus; A Simplicity Manifesto In Age Of Distraction”, sang penulis yang juga penggiat gaya hidup minimalis produktif ; Leo Babauta mengupas isu fokus dan produktifitas. Intinya menurut Leo, di jaman dengan banyaknya “gangguan” dan “pemecah konsentrasi” makin sedikit potensi gangguan maka akan lebih baik. Dan efeknya baik untuk produktifitas. Makin sedikit gangguan maka waktu untuk meng create sesuatu akan lebih bebas tanpa gangguan. Waktu untuk fokus mengerjakan sesuatu akan lebih nyaman tanpa gangguan.
Dan hal ini seringkali terbukti dalam aktifitas keseharian. Saat akan menulis misalnya, jika dilakukan sambil mengerjakan aktifitas lainnya maka akan sulit untuk diselesaikan. Gangguan acara TV, atau aktifitas online sangat “menggoda”. Gangguan lainnya yang seringkali. terasa terutama di era internet sekarang adalah “terjebak” di situs Facebook, Twitter, ,pop-up instant messaging yang perlu balasan. Biasanya jika bekerja sambil dengan aktifitas online produktifitas yang dicapai relatif lebih rendah, karena konsentrasi akan sering terpecah.
Maka akan lebih bijak untuk meminimalisir sumber-sumber gangguan saat fokus bekerja. Makin kecil gangguan maka kita akan lebih fokus terhadap pekerjaan yang sedang didepan kita. Makin tinggi tingkat konsentrasi yang diperlukan untuk menyelesaikan sebuah pekerjaan, makin ketat kita meminimalisir sumber gangguan.
Mulailah dengan mencari tempat bekerja yang nyaman. Nyaman dalam arti syarat2 minimal ergonomis terpenuhi. Rubah profil telepon seluler atau Blackberry menjadi silent mode. Disconnect kan internet saat bekerja. Jika memerlukan informasi atau literatur bekerjalah secara offline via web browser. Tunda terlebih dahulu menjawab email, sms ataupun instant messaging. Mengerjakan sesuatu sambil “melompat” dari satu aktifitas ke aktifitas lainnya adalah pemborosan energi dan konsentrasi.
Jika memang dibutuhkan aktifitas lain seperti browsing, membuat kopi lakukan saat kita membutuhkan sedikit rehat disela pekerjaan yang akan kita tuntaskan. Menjawab email ringan, pesan singkat ataupun membuka situs jejaring sosial dapat dilakukan saat rehat, tapi tetap harus dibatasi. Lakukan sekitar maks 10 menit.
Dalam buku Focus, Leo berpendapat ada waktu untuk meng-create sesuatu dan ada waktu untuk “mengkonsumsi” sesuatu. Dan kedua “fase” waktu tersebut tidak bisa digabung menjadi satu. Harus ada sekat pemisah yang membatasi.
Selamat mengelola fokus dan konsentrasi.
Bagaimana pendapat anda ?







2 comments