Fractal

Buku The Shallows ; what the internet is doing to our brains

Posted in Resensi buku by wagenugraha on December 31, 2011

Bagi pengguna internet dengan dosis yang cukup besar (termasuk saya) buku ini menjadi “kabar buruk” tentang dampak internet terhadap cara berpikir kita. Berlawanan dengan buku-buku lainnya yang banyak memuji-muji teknologi internet sebagai suatu terobosan positif, misalkan buku The World Is Flat ataupun buku Free. Buku The Shallows dari Nicholas Carr menyajikan suatu fakta dan analisis yang berbeda tentang dampak lain dari internet.

Dengan melimpahnya informasi melalui internet serta kecepatan untuk dapat mengaksesnya memberika dampak berupa berubahnya cara bekerja dari otak kita. Pengguna internet memiliki kecenderungan untuk kurang bisa berkonsentrasi dalam jangka waktu yang lama. Otak para netters cenderung “menolak” menyerap informasi yang panjang, informasi singkat dan hyperlink yang umum tersedia dalam dunia cyber menjadikan otak kita berubah dalam cara mengelola informasi yang diperoleh. Carr dalam bukunya memaparkan ada perubahan cara kerja otak ataupun berpikir kita dalam menyerap informasi melalui buku-buku serta menyerap informasi melalui internet. Dalam argumennya Carr menjelaskan internet mendorong otak untuk lebih menyerap informasi secara singkat, enggan untuk membaca teks secara panjang dan runut, lebih menyukai karakter teks yang singkat (seperti hal nya panjang karakter huruf dalam Twitters).

Apalagi dengan maraknya internet dan jejaring sosial menjadikan pengguna internet seakan terjauhkan dari lingkungan sosial yang “nyata” dan lebih nyaman bersosialisasi dalam lingkungan yang “maya”. Tentunya hal ini juga kurang sehat bagi kualitas kehidupan seseorang sebagai mahluk yang bersifat sosial. Gaya hidup solitaire akan lebih dominan dengan budaya internet yang tidak terkendali.

Mengamati fenomena sekarang dimana internet sudah menjadi oksigen bagi sebagian orang terutama kalangan masyarakat muda usia, sehingga nyaris kebutuhan terkoneksi ke internet menjadi kebutuhan utama. Seakan-akan menjadi sesuatu yang kurang jika tidak terhubung ke internet baik itu melalui PC ataupun perangkat bergerak seperti smartphone ataupun Tablet PC (untuk perangkat yang satu ini cukup menjadi primadona di tahun 2010 dan 2011 melalui iPad Apple dan jenis Tablet Android).

Tidak bisa dinafikan teknologi internet memang menawarkan banyak kemudahan dan keasyikan yang menyenangkan bagi para penggunanya, mulai dari memudahkan pekerjaan, hiburan, berinteraksi serta  menjadi daya ungkit terhadap budaya, sosial, ekonomi dan politik. Tapi tentunya suatu teknologi ada dampak negatifnya jika tidak digunakan secara tepat dan bijak.Buku The Shallows ini cukup memberikan “pencerahan” dan fakta-fakta yang menarik tentang memanfaatkan teknologi agar benar-benar memberikan nilai tambah, bukannya bersifat destruktif dan kontra-produktif.

Bandung, diakhir tahun 2011 :)

Bagaimana pendapat anda ?

Tagged with: ,

Silhouette

Posted in Experience by wagenugraha on December 29, 2011

Tagged with:

Sunshine :)

Posted in Experience by wagenugraha on December 29, 2011

Smile

Tagged with:

Macbook pro lomo screen shot

Posted in Experience by wagenugraha on December 25, 2011

image

Steve Jobs Workspace

Posted in Ideas by wagenugraha on December 24, 2011

Foto yang jarang ditemui, ruang kerja mendiang Steve Jobs di  (Foto diambil oleh Diana Walker)

Via TIME Lightbox Diana Walker

 

Tagged with:

Kopi di pagi hari dan Mac

Posted in Experience by wagenugraha on December 17, 2011

image

Kopi di sabtu pagi hari yang cerah :) dan Mac yang sudah menyala. Semoga bisa produktif hari ini.

Retro capture

Posted in Experience by wagenugraha on December 6, 2011

image

Kekuatan Fokus

Posted in Bisnis by wagenugraha on December 6, 2011

Adalah sebuah perusahaan teknologi yang terkenal dan memiliki pelanggan yang fanatik. “Core Business”nya adalah memproduksi perangkat komputer personal yang ramah pengguna serta mudah digunakan. Awalnya perusahaan tersebut menuai keberhasilan pemasaran dan produk yang sangat baik. Akan tetapi seiring dengan perubahan manajemen puncak, kegagalan peluncuran produk baru akhirnya nasib perusahaan tersebut akhirnya diujung tanduk. Pemasukan penjualan yang minim, tidak adanya terobosan produk baru yang “break through”, keluarnya para sdm unggul akibat kekecewaan keputusan manajemen pusat menjadikan kebangkrutan tinggal menghitung hari.

Akhirnya seseorang yang memiliki kemampuan dalam bidang teknologi komputer didaulat menjadi CEO baru perusahaan tersebut. Menjadi CEO ditengah kondisi perusahaan yang sulit tentunya bukan hal yang mengenakkan.

Begitu hari pertama mulai bekerja tanpa basa-basi yang CEO baru langsung menganalisis kondisi perusahaan dan proyek-proyek produk yang sedang dikerjakan. Diagnosa awal tentang perusahaan itu menurut sang CEO baru adalah produknya yang salah, produknya yang tidak menarik lagi bagi para konsumen. Padahal “dna” perusahaan adalah memproduksi produk komputer pribadi yang menarik dan “keren”.

Setelah ditelusuri perusahaan tersebut menjual berbagai varian produk komputer pribadi (pc) yang berbeda-beda sampai mencapai belasan tipe. Dan dari masing-masing tipe pc tersebut tidak menunjukkan karakter yang berbeda. Melakukan produksi banyak varian produk tentunya cukup menghabiskan keuangan perusahaan padahal nilai penjualannya dalam kondisi jeblok. Padahal saat di evaluasi satu jenis produk PC dengan jenis PC lainnya tidak ada perbedaan dan “added value” yang sangat berbeda. “Saya bingung jika harus merekomendasikan PC seri XY dibandingkan PC seri XYZ, padahal terdapat juga seri PC XX dan YY” keluh sang CEO.

Akhirnya dalam sebuah rapat manajemen perusahaan, CEO muda menghampiri papan tulis dan membuat tabel dengan kolom “profesional” dan “consumer” dilengkapi dengan baris tabel “portable” dan “desktop”. Sang CEO mengintruksikan dengan tegas perusahaan akan memangkas lini-lini produk yang tidak jelas dan hanya akan memfokuskan pada satu produk desktop dan satu produk PC portable (laptop) masing-masing untuk kalangan profesional dan consumer.

Pada awalnya ide ini mendapatkan tantangan keras dari para kalangan insinyur perusahaan. Ide untuk menyediakan banyak ragam pilihan ketimbang sedikit pilihan produk terlihat lebih rasional. Tapi akhirnya isntruksi pemangkasan produk ini dilakukan secara konsisten dan mampu menghasilkan produk PC desktop dan PC portable yang jauh lebih baik kualitas dan kinerjanya. Kedua jenis produk bagi masing-masing kalangan market, menjadi icon unik dan memiliki konsumen yang “fanatik”. Memang produk-produk perusahaan tersebut tidak mendominasi pangsa pasar komputer yang sudah penuh sesak dengan PC clone. Akan tetapi keuntungan terbesar dari perusahaan komputer ini dengan kualitas produk yang jauh lebih baik. Mereka dapat menjual PC Desktop dan PC portable dengan margin keuntungan yang jauh lebih besar. Lebih besar dibandingkan para pemain produk PC raksasa yang hanya mampu menjual dengan margin laba yang tipis, walaupun menjadi pemegang pangsa pasar mayoritas.

Akhirnya perusahaan komputer ini mampu membalikkan keadaan, yang semula perusahaan diambang kebangkrutan menjadi perusahaan creatif dengan cash flow yang sehat.

Kisah yang cukup menarik mengenai contoh kasus bagaimana strategi fokus dapat membawa hasil yang jauh lebih baik.

Catatan :

Perusahaan yang dimaksud dalam tulisan ini adalah Apple Inc (semula bernama Apple Computer).
Sang CEO adalah Steve Jobs yang kembali lagi ke Apple setelah sebelumnya dipecat.
Produk PC Desktop Apple : iMac (untuk kalangan consumer) dan Power Mac (untuk kalangan profesional).
Produk PC Portable Apple : iBook (untuk kalangan consumer) dan Power Book (untuk kalangan profesional). Di Tahun 2011 Power Book dan iBook dilebur menjadi lini produk MacBook Pro dan MacBook Air (untuk kalangan consumer).

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.