Dalam industri yang berintikan teknologi terutama teknologi yang relatif baru, inovasi, penemuan-penemuan merupakan salah satu “senjata sakti” untuk memberikan daya produk lejit terhadap produk. Yang ujung-ujungnya perusahaan mendapatkan profit dari penjualan produk yang menjadi hit dari produk yang “bermuatan” teknologi baru. Sehingga dikenal lah istilah paten untuk melindungi hak cipta sang penemu teknologi sehingga inovasinya tidak bisa sembarang di jiplak oleh pesaing yang bergerak dalam bisnis yang sama.
Dalam industri tinggi terutama mobile computing sering kali perselisihan secara hukum dan kecam-mengecam sering terjadi akibat perselisihan paten yang di “claim” dicuri oleh perusahaan pesaing. Termasuk Apple Inc, perusahaan peranti mobile dan komputer ini mengantongi segudang paten. Baik yang diciptakan secara in house ataupun diperoleh dengan jalan mengakuisisi perusahaan-perusahaan kecil yang memiliki teknologi baru yang diperlukan Apple. Apple adalah salah satu contoh perusahaan yang sering berseteru dengan perusahaan lain akibat isu pelanggaran hak cipta atau paten teknologi. Mulai dengan Microsoft, Google, HTC, Samsung.
Berikut info-grafik nya dari Bloomberg BusinessWeek.
punya diagram serupa untuk industri parmasi g bang?
Terimakasih kunjungannya di blog Fractal
Sya tidak punya untuk yg bidang farmasi. Coba aja search di situs bloomberg businessweek atau fast company
Untuk industri farmasi di AS, nilai valuasi paten angkanya adalah : Produk obat
ra Klinis ( 3%), Klinis 1 ( 7.5%), Kllinis 2 ( 11.5%), Klinis 3 ( 15%), Klinis 4/ Diluncurkan ke publik ( 20%). Lalu untuk produk lain : Reagen ( 3%), Diagnostik ( 3 %), Produk terapetik mis : antibodi monoklonal ( 7.5%), Vaksin ( 7.5%), Veteriner Hewan ( 4.5%), Veteriner Tumbuhan ( 4%).
Sebenarnya, paten untuk farmasi itu relatif lebih tinggi dibanding paten teknologi tinggi, semisal software/ aplikasi ( 9.6%), dan semikonduktor ( 3.7%), atau yang beririsan semisal formulasi kimia ( 4.3%).
Variabel paten dalam industri, masuk dalam manufacturing cost. Jadi prosentase di atas adalah prosentase dari biaya produksi langsung ( Direct Cost), artinya dibebankan kepada produsen. Lalu, kenapa konsumen jadi membayar lebih mahal untuk obat paten ? Ya karena produsen tidak mau menggerus margin keseluruhan kan ?
Selain itu, memang ada insentif riset dari pemerintah AS untuk perusahaan farmasi. Bisa dilihat, dari perbandingan di atas, bahwa nilai ( valuasi) hasil riset farmasi jauh lebih tinggi daripada aplikasi/ perangkat lunak. Kenapa bisa begitu : 1. Biaya risetnya mahal, 2. Investasi waktu riset lama, 3. Payback Period (PP) Lama. Perusahaan farmasi harus mengejar PP sebelum masa paten berakhir, artinya sirkulasi harus bisa dikuantifikasi, sedang produk farmasi adalah basic need for unpredictable demand, kan yang pakai obatnya orang sakit, siapa sih yang mau sakit ? Dari logika ini, bisa dipahami, dan sangat lazim, bahwa harga obat paten jatuhnya tinggi di tangan konsumen.
Beda dengan software/ aplikasi yang masuknya ke basic need for functional activity, artinya memang manfaatnya terasa langsung menunjang pekerjaan, bahkan kalau di Indonesia lebih aneh lagi, untuk lifestyle ! Very irrational ! Perputaran software/ aplikasi jauh lebih cepat, kompetisinya juga sangat ketat bahkan terlalu cepat. Dalam satuan minggu bisa ada aplikasi baru yang lebih canggih, sedangkan di farmasi biasanya 5 tahun baru bisa luncur ke pasar.
Begitulah
Oh iya, itu di atas kalau di bisnis masuknya legal term, soal paten kan ? Angka di atas angka 2007, kalau sekarang ( 2012) nilainya bisa jadi sama atau berubah.
Mas Maximillian terimakasih banyak atas kunjungan dan sharing perspektif yang luas mengenai paten, inovasi dan industri