Sekilas Biografi Steve Jobs; Walter Isaacson

“Creativity is about connecthing things” : Steve Jobs
Sangat menarik membaca biografi Steve Jobs dari Walter Isaacson. Banyak sisi-sisi kehidupan sang “maestro teknologi” ini. Kupasan Walter terhadap buku ini lebih mendalam mulai dari awal kehidupan Steve Jobs muda sampai “karir keduanya” yang fenomenal di Apple Inc. Sudah cukup banyak buku biografi Steve Jobs ditulis semasa hidupnya baik yang resmi maupun unofficial sebut saja ; iCon Steve Jobs, Inside Steve’s Brain.
Steve mulai mendirikan perusahaannya; Apple Computer di tahun 1976 di garasi rumah orang tuanya. Dan berkat obsesinya akan revolusi dan merubah dunia dengan produk PC Apple nya. Produk Apple II mampu menyedot perhatian pasar, terutama dengan “killer apps” Visi Calc, sebuah perangkat lunak yang menjadikan Apple II alat bisnis untuk mengelola spread sheet. Suatu kemampuan untuk PC yang sangat jarang saat itu.
Apple Computer pun meroket menjadi perusahaan publik (pada masa itu bisnis PC masih dianggap “mainan” yang hanya diminati segelintir hobyist). Steve berperan sebagai juru bicara Apple Computer ke publik. Steve memang kharismatik, cerdas, determinasi kuat walaupun kasar terhadap interaksi dengan pegawai Apple. Dengan usia yang masih muda memang mungkin cukup berat menjadi nakoda Apple Computer. Akhirnya Steve terdepak dari perusahaannya sendiri, ironis.
Sebelum Steve Jobs terdepak dari Apple, dia turut membidani PC Apple yang revolusioner. Yaitu PC Apple yang sudah menggunakan grafis sebagai tampilan antar muka terhadap pengguna, atau bahasa kerenya GUI (Graphic User Interface). Para pengguna dapat berinteraksi dengan komputer dengan menggunakan mouse, kursor, menarik windows serta pengalaman click, drag-drop, copy-paste yang masih kita gunakan sampai sekarang. Teknologi ini Steve dapatkan dari pusat penelitian Xerox PARC, yang kemudian dipoles lagi menjadi sebuah seni teknologi yang sangat berharga. PC Apple Macintosh menjadi PC Apple yang revolusioner karena menggunakan tampilan antar muka dengan grafis. Jauh dari komputer personal jenis lain yang masih digunakan dengan text dan command yang kaku.
Selepas dari Apple, Steve Jobs mendirikan NeXT Computer dan membeli Pixar Inc. Walaupun pada awalnya “berdarah-darah” dan nyaris bangkrut, Pixar menjadi angsa yang bertelur emas. Kesuksesan Toy Story film animasi Pixar mampu menjadikan Steve bersinar kembali. Yang lebih fenomenal lagi NeXT Computer menjadi “jembatan” Steve kembali ke Apple Computer. Setelah dalam keadaan morat-marit nyaris bangkrut Apple membeli sistem operasi OS X milik NeXT.
Jadilah Steve iCEO (interim CEO). Di tangan Steve, Apple yang nyaris karam berbenah mati-matian membalikkan keadaan. Sepeninggal Steve sebelumnya kualitas produk-produk Apple menjadi tidak menarik. Produk pc unik iMac tahun 1998 menjadi produk yang disukai pasar. Kreativitas serta inovasi yang dibawa Steve lebih segar dan dewasa. Begitu juga dengan kepemimpinannya di Apple berbeda dengan waktu dulu. Tapi untuk masalah estetika, desain dan kualitas Steve tetap menjadi sosok yang tanpa kompromi.
Kiprah Steve yang revolusioner adalah iPod dan iTunes. Walaupun bukan mesin pemutar musik .mp3 yang pertama, konsep dan desain yang disajikan Apple cukup revolusioner. Apple membuat “ekosistem” baru dengan PC Mac sebagai pusat orbital dan perangkat lainnya sebagai satelit.
Jadilah pemutar musik iPod, smartphone iPhone, laptop Mac Book, tablet iPad menjadi produk-produk unggul. Apple dan Steve melakukan eksplorasi membangun pangsa pasar baru. Padahal di sisi lain perusahaan-perusahaan sekelas Apple, seperti Dell, HP, IBM masih bersaing ketat dalam pasar pc yang sudah penuh sesak.
Steve Jobs bukan seorang software engineer ataupun computer scientist. Tapi tidak memiliki pendidikan akademis yang tinggi, tidak menghalangi Steve untuk berkiprah dalam industri teknologi tinggi yang biasanya digerakkan orang-orang jenius. Visi serta hasrat yang serius akan produk berkualitas dari Steve, dibarengi energi kreatif dan inovasi yang tidak ada padamnya, menjadi “bahan bakar” Apple untuk tetap menghasilkan produk berkualitas tinggi. Sejak awal mendirikan Apple serta selama karir nya di NeXt, Pixar dan kembali ke Apple, semangat untuk membuat produk-produk terbaik ataupun pengalaman pengguna yang terapik selalu jadi dasar obsesi Steve. Walaupun terkadang tidak selalu menuai keberhasilan, DNA Apple yang selalu memberikan produk yang terbaik menjadikan Apple memiliki positioning sebagai perusahaan teknologi yang cool, sehingga para pengguna produknya merasa kecipratan DNA cool nya Apple
.
Sosok Steve Jobs yang sudah wafat memberikan kesan bagi banyak orang, melalui legacy nya berupa produk-produk teknologi digital serta passion nya akan produk yang berkualitas, pengalaman konsumen yang lebih baik.
Bagi yang berminat ebook Steve Jobs Biography-Walter Isaacson dapat d iunduh disini.
“Sharing Workspace Office”; kantor bersama
Ada sebuah fenomena yang unik walaupun mungkin di Indonesia belum begitu familiar, yaitu maraknya “kantor” yang digunakan bersama oleh sekelompok orang untuk bekerja. Kantor ini tidak selalu berupa gedung kantor formal yang disewakan dengan mahal, konsep “workspace” ini agak berbeda. Cukup sebuah ruangan dengan meja kerja yang nyaman, akses internet, telepon, listrik dan kopi
. Sisi lain yang unik adalah “kantor” ini dapat digunakan bersama dengan pembayaran fleksibel. Bisa membayar sewa bulanan ataupun harian.
Tempat kantor seperti ini cocok untuk para “freelancer”, pengusaha kecil ataupun para pekerja industri kreatif. Adanya komunitas pegawai yang informal di “kantor” bersama ini membantu menyegarkan suasana kerja, dengan adanya interaksi berbagi ide. Umumnya yang biasa menggunakan area kerja atau budaya kerja seperti ini biasa disebut sebagai “Coworking“, yaitu sekumpulan pekerja atau self employee yang sering menggunakan ruang kerja informal atau SOHO.
Tapi tidak menutup kemungkinan juga jika sebuah perusahaan tertentu menggunakan sharing workspace office, tentunya dengan kebijakan yang disesuaikan. Yang tentunya dengan menggunakan sharing workspace sebagai kantor tetap atau tidak tetap suatu perusahaan dapat memberikan budaya baru yang tentunya diharapkan dapat meningkatkan produktifitas dan efisiensi. Tentunya hal ini tidak berlaku untuk semua perusahaan, menurut penulis ada beberapa bidang perusahaan tertentu yang memungkinkan menggunakan sharing workspace seperti ini.
Budaya kerja seperti ini ternyata menghasilkan peluang bisnis ataupun geliat bisnis baru, berupa penyediaan Sharing Workspace bagi para pekerja freelance serta inkubasi bisnis ditempat tersebut. Businessweek pernah mengupas tentang The Summit Cafe yang menjadi tempat ngumpul para pekerja “techie” serta inkubator bisnis bagi para UKM.
Menarik sekali jika hal ini diterapkan di Indonesia. Sebagai negara yang cukup memiliki potensi besar untuk pengembangan industri kreatif yang salah satunya bidang pengembang aplikasi komputer, web dan bidang-bidang “techie” lainnya, bisa diupayakan terdapat suatu area inkubtor bisnis yang berupa area kerja “Sharing Workspace”.
Sepengetahuan penulis, di Bandung sudah ada Hackerspace yang digagas FOWAB (Forum Web Anak Bandung) sebagai salah satu tempat berkumpul dan berkreasi para pelaku usaha kreatif, pengembang aplikasi, start-up’ers bahkan penulis. Atmosfir yang sehat serta stimulasi sinergi dan kolaborasi sangat diperlukan untuk mengembangkan komunitas kreatif yang penuh produktifitas.
Jadi teringat jargon seorang mantan Managing Director Cisco yang sekarang menjadi Dirut PT INTI Bandung, “Work isn’t a place, It is an activity”.
Via Businessweek
Kiprah Duo Dynamic Di Panggung Korporasi
Menarik mengamati banyak organisi-organisasi global terutama dalam bidang bisnis yang dimotori oleh “Duo Dynamic”,. Duo dynamic ini mampu berbagi kepemimpinan dan tugas yang sangat efektif menjalankan roda perusahaan. Mereka saling menyeimbangkan dan bergerak saling menguatkan. Walaupun terkadang bisa juga muncul “friksi” akibat bentrokan visi dan ego yang terlalu bertolak belakang.
Biasanya para “Duo Dynamic” ini memiliki keahlian yang komplemen, saling melengkapi. Perpaduan keahlian dari para pemimpin seperti ini (yang biasanya memiliki passion kuat yang sama) menjadikan organisasi bisnis mampu tumbuh berkembang, membentuk budaya yang unik.
Berikut diantaranya perusahaan-perusahaan global yang dibesarkan oleh sinergi positif Duo Dynamic.
1. Steve Jobs & Steve Wozniak di Apple Computer.
Walaupun sekarang Steve Wozniak sudah tidak di Apple Inc, tapi disaat berdirinya Apple duo Steve Jobs & Wozniak menjadi legenda di Silicon Valley. Steve Jobs yang ekstrovert piawai dalam menjalankan bisnis Apple mulai tahun 1976, visi, strategi, desan produk banyak di gagas Steve Jobs. Steve Wozniak hacker yang berbakat, banyak berdiri dibelakang pengembangan produk-produk Apple tahap awal. Desain yang elegan mampu direalisasikan oleh Wozniak dengan keterbatasan hardware yang ada disaat itu. Menjadikan komputer-komputer Apple terlihat lebih maju dibanding produk kompetitor. Maka jadilah produk Personal Computer Apple II, Apple III sukses besaran di era akhir 70-an dan awal 80-an. Menjadikan Apple sebagai perusahaan yang kemilau saat itu. Waktu berubah, akhirnya Wozniak keluar dari Apple. Adanya konflik internal menjadikan Steve Jobs keluar dari Apple Computer. Jadilah Apple Computer seperti anak ayam kehilangan induknya, perusahaan tersebut mengalami krisis sampai nyaris bangkrut. Walaupun akhirnya tahun 96 Steve Jobs kembali ke Apple dan mampu membalikkan Apple menjadi perusahaan yang disegani.
2. Larry Page & Sergey Brin ; Google Inc
Siapa yang tidak kenal dengan layanan Google. Jutaan pengakses internet menggunakan layanan Google terutama fitur pencariannya yang dirasa masih yang terbaik sampai saat ini. Layanan web dan produk lainnya seperti GMail, GTalk, Browser Google Chrome, banyak menyedot para pemakai internet. Perusahaan raksasa internet ini digawangi oleh dua anak muda lulusan Stanford, Larry Page dan Sergey Brin. Pertemuan mereka pada awalnya disebabkan kecocokan debat bermutu, terkait banyak hal terutama algoritma pemrograman dan search engine. Akhirnya Larry Page yang lebih kalem mendapatkan “chemistry” yang cocok dengan Sergey Brin. Di tangan dua sahabat ini, Google yang semula proyek kecil membuat mesin pencari internet yang lebih baik, mampu bertransformasi menjadi raksasa internet dengan segala pro dan kontra. Di Google Larry Page berperan sebagai penaggung jawab pengembangan produk. Brin yang energik serta piawai berkomunikasi banyak menangani strategi bisnis perusahaan.
3. Mark Zuckerberg, Sheryl Sandberg ; Facebook
Facebook melejit dan menuai kesuksesan menarik banyak user sampai mencapai lebih dari 550 juta pengguna, suatu jumlah yang fantastis untuk perusahaan internet yang baru berumur beberapa tahun. Mark Zuckerberg mengembangkan Facebook saat sejak masih menjadi mahasiswa Harvard (kisah Facebook ini diangkat menjadi tema film “The Social Network”). Dengan fitur social media yang lebih disukai, Facebook tumbuh berkembang. Selanjutnya Sheryl Sandberg bergabung dengan Facebook, mengembangkan Facebook dari sisi bisnis dan monetisasi layanan Facebook. Sedangkan Mark tetap fokus dengan pengembangan layanan. Sheryl Sandberg yang sebetulnya tidak memiliki background pendidikan teknologi, tapi ternyata mampu mengembangkan perusahaan teknologi seperti Facebook. Karakter hangat dan supel dari heryl mampu menyeimbangkan karakter Mark Zuckerberg, yang merupakan seorang hacker introvert.
Dan masih banyak lagi organisasi bisnis global dan lokal yang mampu tumbuh berkembang ditangan pemimpin Duo Dynamic.
Kesamaan passion, visi serta kemampuan yang saling melengkapi plus sinergis yang ada menjadikan para Duo Dynamic ini mampu melejitkan organisasi bisnis yang mereka pimpin. Walaupun friksi mungkin akan tetap ada tapi dengan semangat “Less Ego and More We Go” para Duo Dynamic ini memiliki kesempatan lebih besar untuk menggapai kemajuan yang lebih.
Bagaimana pendapat anda ?
Inside Steve’s Brain (Resensi Buku)
“Innovation has nothing to do with how many R&D dollars you have. When Apple came up with the Mac, IBM was spending at least 100 times more on R&D. It’s not about money. It’s about the people you have, how you’re led, and how much you get.”
Steve Jobs
Gimana rasanya saat sedang memimpin perusahaan yang diambang kebangkrutan ?.
Pasti bukanlah posisi yang menyenangkan. Itulah mungkin hal yang sama yang dirasakan Steve Jobs saat kembali lagi ke Apple di tahun 1997. Saat Apple diambang kehancuran yang ironis. Padahal Steve bukan tipe orang yang “kekurangan uang” saat itu. NeXT dan PIXAR telah membuatnya menjadi miliuner.
Steve Jobs merupakan pemimpin yang mumpuni yang dapat menebarkan inovasi, kreatifitas serta cita rasa desain yang tinggi. Walalupun bukan seorang insinyur ataupun ahli komputer. Maka tidak heran saat Apple ditinggalkan Steve Jobs (Steve Jobs pernah dipecat dari Apple tahun 1985), Apple seakan kehilangan “jiwa kreatif & inovasi”.
Steve Jobs yang kembali ke Apple di tahun 1997, perusahaan yang didirikannya tahun 1976 . Dan dapat membalikkan Apple yang “sekarat” menjadi perusahaan sehat yang inovatif, “keren” dan membukukan margin yang tinggi. Sekarang Apple lebih dikenal sebagai perusahaan inovatif yang banyak mengahsilkan produk digital berkualitas terbaik. Mulai dari pemutar music iPod, smartphone iPhone, desktop iMac, laptop keren MacBook serta terakhir komputer tablet iPad yang fenomenal.
Kerja keras, Tegas dan Fokus
Saat awal-awal mengambil alih kemudi Apple Inc, Steve Jobs betul-betul dihadapkan dengan kondisi yang berat. Dana cadangan perusahaan yang terbatas, kedisiplinan yang rendah, over load pegawai serta kualitas produk yang mebosankan. Steve diawal menerapkan ketegasan yang kuat. Produk-produk dipangkas menjadi hanya beberapa item; produk desktop iMac PowerMac, notebook iBook. Untuk produk-produk lainnya dipangkas termasuk komputer genggam Apple Newton yang difavoritkan tapi sudah banyak menghabiskan dana pengembangan yang sangat besar.
Disinilah pentingnya seorang leader yang tegas, visioner dan memiliki komitmen kuat untuk kemajuan perusahaan. Steve betul-betul kerja keras tidak hanya duduk manis diruangan eksekutif tapi terjun langsung menangani hal-hal yang kritis yang dikuasainya dengan baik. Mulai dari desain produk, harga, periklanan dan penanganan merek perusahaan. Kerja kerasnya didukung tim yang solid mampu membalikkan keadaan Apple.
Sederhana serta Konsisten dengan desain & kualitas
Ah banyak orang yang jatuh hati dengan produk-produk Apple. Desain yang elegan (cenderung minimalis), material yang bagus serta perangkat lunak yang mudah digunakan menjadi daya tarik hampir semua produk Apple sejak dulu. Mulai dari Apple II, Macintosh mesin yang canggih dijamannya, iMac komputer personal berbentuk tetesan air yang transparan warna-warni sampai komputer tablet iPad yang elegan.
Semua desain ini walaupun terlihat sederhana merupakan proses kompleks yang melibatkan konsistensi komitmen terhadap desain, kualitas kerja yang mengagumkan serta kuantias kerja tim yang spartan. Dalam dunia desain hal hal yang sederhana sebetulnya merupakan fungsi dari parameter-parameter dan proses yang kompleks.
Steve Jobs lebih sebagai artis teknologi dan desain selain visioner yang mampu “menebak” produk yang disukai konsumen. Steve sangat memperhatikan desain mulai dari hal-hal yang kecil. Bahkan kardus pembungkus pun menjadi focus desain Steve Jobs dan team. Pembungkus Komputer merupakan awal mula sentuhan pelanggan dengan produk maka harus diperlakukan dengan desain yang elegan dan membawa pengalaman pelanggan yang baik, demikian pendapat Steve. Dalam buku ini banyak dibahas bagaimana “ terobsesinya” Steve dengan desain yang baik.
Desain bagi Steve bukan hanya bentuk tapi lebih sekedar fungsi. Sampai muncul istilah Steve mendesain produk-produk Apple pixel demi pixel, hal-hal yang mungkin diremehkan oleh timnya bagi Steve akan dianggap sebagai isu yang serius yang harus diperhatikan. Memang dampaknya untuk membuat hal yang kecil akan menghabiskan jam kerja serta energi yang luar biasa terkuras. Hasilnya ? ….la voilla produk-produk Apple adalah produk yang mengagumkan, dan mungkin banyak juga para pemakai produk digital yang setuju dengan hal ini.
Kualitas adalah mantra nomor satu di perusahaan ini, karena Steve memiliki “ideologi” untuk memproduksi produk digital berkualitas tinggi yang akan awet dan disukai konsumen ketimbang produk “pasaran” yang mudah rusak, walaupun mungkin produk-produk Apple lebih mahal ketimbang produk competitor lainnya. Tapi disinilah Apple menangguk untung. Dalam bisnis persaingan PC yang sangat ketat Apple mampu tetap menikmati laba tinggi dari hasil penjualan produk-produknya yang “bermargin tinggi”.
Mengambil ide-ide hebat dari luar
Walaupun Apple terkenal hebat dalam hal inovasi, Steve tidak pantang untuk mengambil teknologi dari luar Apple. Contoh yang sangat terkenal adalah teknologi GUI (Graphycal User Interface) dengan mouse untuk PC serta USB. Mouse sebetulnya bukan produk original Apple. Apple mengadopsinya dari XEROX yang juga terkenal dengan inovasinya. Di XEROX teknologi mouse ini dianggap hanya mainan, sedangkan ditangan Steve Jobs teknologi ini menjadi teknologi standar yang mengubah cara orang menggunakan komputer. Sedangkan USB merupakan teknologi Intel yang diadopsi oleh Apple sebagai konektor universal pertama di komputer.
Pelajari keinginan pasar lalu eksekusi dengan tepat
Bagaikan menerapkan filosofi The Art Of War; Sun Tzu, pelaku bisnis perlu memahami karakter pasar dan konsumen. Inilah keahlian yang dimiliki dengan sangat kuat oleh Steve Jobs. Leander dalam bukunya menuliskan Steve yang boleh dibilang bukan orang teknik memiliki sense yang bagus dari sudut pandang konsumen diluar perusahaan. Dalam majalah BusinessWeek edisi Juli 2010 menurunkan artikel yang menuliskan Steve Jobs adalah “The Best Pitchman In Computer Industry”, sebutan untuk seorang tokoh yang mampu meramal bahkan menggiring selera pasar kearah produk yang didesainnya.
Yang paling terkini, dengan iPhone nya Apple mencoba menciptakan pengalaman internet mobile yang jauh lebih baik bagi pamakai bersaing dengan Nokia, RIM (produsen BlackBerry) serta Google Android. iPad gadget fenomenal terakhir juga turut menguatkan trend akses internet secara mobile. Dilengkapi dengan berbagai aplikasi yang mendukung pekerjaan atau hiburan yang dikembangkan pihak luar untuk iPhone dan iPad, menjadikan trend ini membawa trend ekonomi digital yang baru, Apps Economy.
Lakukan Strategi Pemasaran Yang Tepat
Sejak dulu Steve Jobs lebih terkenal sebagai Sales Guy ketimbang Techie Guy. Dulu saat masih ada Wozniak di Apple, Steve Wozniak adalah Techie Guy nya. Saat awal di Apple Steve Jobs menggandeng biro periklanan yang dulu pernah membuat iklan Apple fenomenal di Super Bowl Cup tahun 1984. Steve memandang brand Apple sebagai sesuatu asset yang masih memiliki nilai jual, Apple masih memiliki para loyalist. Maka diluncurkan lah tag line-tag line pemasaran Apple mulai dari kampanye “Think Different” yang memasang icon-icon budaya, politik dunia seperti John Lennon, Muhamad Ali. Tag line I am a Mac pun sukses menuai buzz yang berimbas positif terhadap merek Apple dan lini produknya dipasaran.
Strategi Steve Jobs yang menjaga kerahasiaan produk patut diacungi jempol. Sehingga produk terbaru dari Apple bagaikan misteri yang sangat mengundang rasa ingintahu publik. Ujung-ujungnya mampu mendongkrak penjualan. Steve Jobs sangat berusaha menghindari Efek Osborne, yaitu produk baru dengan teknologi baru bocor informasinya keluar sebelum waktunya. Efek ini dapat mengakibatkan pasar menarik diri dari pembelian produk yang ada demi produk yang lebih baru. Efek ini pernah terjadi di Apple era 80-an saat peluncuran komputer Lisa yang dibayang-bayangi Macintosh, komputer Apple yang lebih ekonomis.
Satu hal lagi dalam kepiawaian Steve Jobs adalah ahli dalam melakukan pemasaran getok ular (word of mouth marketing-WOMM). Salah satunya saat peluncuran tablet iPad. Publik sudah gencar disuguhi informasi mengenai bayangan tentang iPad oleh para blogger dan analis produk digital. Keuntungannya Apple mendapatkan publikasi senilai jutaan dollar padahal mereka nyaris tidak mengeluarkan sepeserpun uang untuk pemasaran iPad.
Senantiasa Melakukan Perbaikan Yang Berkesinambungan
Produk digital adalah produk teknologi tinggi yang paling cepat life cyclenya. Sehingga diperlukan upaya-upaya perbaikan yang berkesinambungan untuk memperpanjang usia produk agar diterima terus oleh pasar. Contoh yang paling nyata adalah pemutar music iPod. Yang sejak tahun 2002 terus menerus mengalami perbaikan dan inovasi mulai dari iPod Classic, iPod Shuffle, iPod Nano, iPod Touch. Dan dalam hal ini Steve sangat piawai menjadi arsiteknya.
Berinvestasi untuk Manusia
Walaupun terkenal sebagai personal yang meledak-ledak, Steve Jobs adalah pemimpin yang menyadari pentingnya sumber daya manusia yang hebat, terutama dalam industri teknologi tinggi yang sangat ketat persaingannya. Steve Jobs selalu berusaha menarik orang-orang hebat untuk bekerja dengannya baik di Apple, di NeXT ataupun di PIXAR.
Khusus di Apple saat pemangkasan lini produk dan sebagian karyawan, Steve tetap menjaga karyawan-karyawan yang brilliant untuk membuat gebrakan Apple yang baru. Dan walaupun dikenal suka memprovokasi Steve Jobs mampu menjaga hubungan jangka panjang yang baik dengan orang-orang hebat didalam dan diluar Apple. Sebut saja Jonathan Ive desain produk Apple yang genius, Steve Wozniak partnernya dulu yang sangat piawai dalam mendesain sirkuit elektronik serta Tim Cook.
Steve terkenal suka mengajak karyawan-karyawannya ke museum saat sedang merayakan sesuatu. Sebagai bentuk untuk mempertajam kemampuan desain serta taste.
Bangun Team Work Yang Solid
Walaupun brilliant Steve Jobs bukanlah orang yang dikenal one man show. Di Apple selalu dikembangkan budaya debat yang konstruktif serta produktif. Steve dikenal bukan tipe orang yang suka karyawan yes man, tapi lebih menantang timnya untuk adu argumen yang disertai data.
Tim-tim yang kecil selalu disukai Steve Jobs untuk mengerjakan proyek-proyek di Apple. Tim kecil dapat lebih solid dan dinamis bekerja. Brainstorming, prototype senantiasa menjadi alat dari tim untuk dapat menggali dan mendesain inovasi-inovasi yang hebat dan layak dieksekusi.
Bagi Steve Inovais bukanlah masalah berapa banyak biaya yang dihabiskan untuk riset dan pengembangan. Inovasi bagi Steve Jobs dan Apple lebih ke buadaya kerja tim yang tepat, orang-orang yang tepat, kepemimpinan tepat serta hal yang didapatkan. Semua perusahaan memiliki budaya unik yang dapat dikembangkan untuk menghasilkan suatu inovasi hebat.
Tidak ada gading yang tidak retak, walaupun terkenal sebagai pemimpin yang inspiratif Steve Jobs dikenal juga memiliki karakter yang meledak-ledak, diktator dan obsesif. Tapi dengan prestasi dan dedikasinya dalam bidang teknologi Steve masih layak mendapatkan tempat terhormat sebagai the most respected leader.
Terinspirasi : Inside Steve’s Brain ; Leander Kehney
Resensi Buku DELIVERING Happiness, Tony Hsieh CEO Zappos
“At Zappos we think it’s important for employees to grow both personally and professionally. It’s important to constantly challenge and strech your self, and not be stuck in a job where you don’t fell like you are growing or learning”
=Tony Hsieh=
Membaca buku DELIVERING Happiness dari Tony Hsieh (Hsieh diucapkan sebagai “Shai”) seakan membaca buku novel dengan tokoh utamanya seorang pengusaha muda yang dinamis. Ya buku ini lebih mirip buku memoar daripada sebuah buku bisnis yang kaku dengan konsep-konsep yang ditulis secara formal dan serius.
Tapi walaupun mirip sebuah buku memoar buku ini menyampaikan pesan-pesan, wisdom yang dalam tidak hanya untuk menjalankan sebuah bisnis tapi juga “attitude” individu dan organisasi yang dapat dilakukan dalam hidup bermasyarakat.
Salah satu pesan yang sangat kuat ditonjolkan dalam buku ini adalah bagaimana “passionate” individu serta budaya organisasi yang kuat dan baik, akan membawa kebaikan bagi banyak pihak serta tentunya profit bagi organisasi bisnis.
Tony Hsieh lebih dikenal sebagai CEO Zappos.com sebuah perusahaan ritel online yang berbasis di Las Vegas. Perusahaan online ini banyak menjadi bahan ulasan media dan publik karena memiliki budaya perusahaan yang unik dan memiliki cara-cara unik dalam menjalankan bisnisnya. Budaya utama ramah kepada pelanggan sudah menjadi DNA perusahaan ini.
Dan Buku DELIVERING Happiness ini pun saya peroleh dengan cuma-cuma saat ada promosi di web deliveringhappiness.com, dan saya mendaftarkan sebagai blogger disitus itu…Awesome baik juga ya Zappos ini, padahal saya bukan pelanggan mereka lho ^_^.
Tony Hsieh memaparkan ide-ide serta pengalaman “petualangan wirausahanya” dalam buku ini dengan bahasa yang casual, enak dibaca serta sangat “bergizi”. Karir wirausahan Tony Hsieh dimulai dari bisnis pizza saat kuliah di Harvard bersama rekannya, tapi disaat belia juga Tony pernah berbisnis cacing. Dilahirkan dari keluarga imigran Taiwan, Tony mendapatkan lingkungan keluarga pekerja keras yang memberikan pendidikan yang layak. Selepas dari Harvard Jurusan Computer Science, Tony mendapatkan pekerjaan di Oracle sebuah perusahaan pengembang IT & data base terkemuka.
Tapi mendapatkan pekerjaan yang nyaman tidak membuat kreativitas nya untuk berkarir dalam dunia wirausaha tumpul, bersama koleganya berdua mereka membuat perusahaan Internet. Awal pendirian perusahaan tersebut lebih didasarkan atas keinginan yang kuat untuk membuat sesuatu yang baru. Saya pribadi sangat salut terhadap passionate Tony Hsieh yang senantiasa ingin berkreasi menciptakan sesuatu yang baru dan menarik, walaupun belum tentu akan menghasilkan profit.
Ternyata menjalankan perusahaan sendiri (yang diberi nama LinkExchange) lebih menarik passion Tony ketimbang pekerjaan statis di Oracle, akhirnya Tony resign dari Oracle walaupun masa depan LinkExchange ini belum jelas akan kemana. Beberapa saat menjalankan Link Exchange dengan koleganya Sanjay ternyata mulai memberikan titik terang, bahkan ada seseorang yang mau membelinya dengan nilai $1Juta dollar di tahun 1996. Tapi karena masih merasa exciting dengan perusahaan LinkExchange-nya Tony menolak tawaran yang menggiurkan tersebut.
Barulah beberapa tahun kemudian LinkExchange dibeli oleh Microsoft sebesar $265 Juta. Keadaan ini membuat Tony menjadi OKB (Orang Kaya Baru) tapi nyaris gaya hidupnya tidak berubah, gaya hidup minimalis dan berorientasi produktifitas ketimbang konsumtif menjadi gaya hidup Tony.
Dengan uang hasil akuisisi perusahaannya Tony membuat Frog Venture, sebuah firma pendanaan perusahaan-perusahaan start-up yang berpotensi (seperti hal perusahaan LinkExchange yang didirikannya).
Perjalan Frog Venture menjadikan Tony berkenalan dengan penggagas ide usaha bisnis sepatu via online dengan situs “Shoesite” setelah beberapa kali berinteraksi antara Tony dan para penggagas “Shoesite” lahirlah “Zappos” toko online yang menjual sepatu. Istilah Zappos awalnya dari bahasa spanyol ; “zapatos” yang akhirnya berubah menjadi Zappos. Sebetulnya ide ini tidak terlalu menarik Tony pada awalnya , bejualan sepatu via internet akan tetapi riset memberikan data pangsa pasar sepatu di Amerika bernilai $40 Miliar, dengan penjualan lewat surat melalui katalog bernilai pasar $2 Miliar dan akan terus tumbuh berkembang. Jadi ada pasar menjanjikan diluar sana jika digarap serius.
Ternyata perjalanan bisnis Zappos bak roller coster banyak permasalahan-permasalahan yang terjadi mulai dari iklim pasar yang berubah dan berhentinya pendanaan dari venture lainnya. Akhirnya Tony full invest di Zappos dan terlibat secara intens dalam hal operasional menjadi CEO Zappos.
Liku-liku serta suka duka membangun Zappos ini menyita seluruh energi dan kapital yang Tony miliki, padahal dengan uang yang telah diperolehnya sebetulnya ia tidak berlu susah payah bekerja keras. Tapi Tony menuliskan “I believe experince more valuable than money”, dengan didasari passion untuk membangun Zappos, Tony mendapatkan tugas barunya yangmenantang sebagai nakhoda Zappos. Saya sangat menikmati membaca episode-episode Tony membalikkan Zappos yang awalnya minim cash, dengan membuat kebijakan-kebijakan “penyelamatan” yang gigih serta cerdas. Salah satu pengalaman yang saya rekam baik dari Tony ini adalah “jangan sekali-kali melakukan out-source untuk proses yang terkait dengan bisnis inti kita, jika itu dilakukan kita akan kehilangan kendali terhadap kualitas. Kualitas yang menjadikan konsumen “terikat” dengan kita” .
Yang unik dari Zappos ini adalah cara Tony menjalankan bisnisnya dengan cara-cara unik yang membawa “kebaikan dan kesenangan” bagi banyak pihak, baik itu konsumen, pegawai, ataupun vendor dan investor. Kegigihan dalam menjalankan cara bisnis yang baik dengan budaya kerja perusahaan yang kuat dan positif tidak sia-sia, tercatat Zappos mampu mebukukan penjualan tahunan, 2008 = $ 1Miliar (padahal tahun 1999, nyaris sama sekali tidak ada keuntungan, tahun 2000 = $1,6 Juta). Satu hal yang unik lainnya di Zappos terdapat budaya para karyawannya menuliskan budaya Zappos sesuai dengan persepsi dan pengalaman mereka, tanpa diedit oleh Tony sebagai CEO. Dan akan dikompilasi menjadi Zappos Book Of Culture yang diterbitkan hampir setiap tahun. Salah satu hal utama yang saya simak adalah Zappos mampu membentuk komunitas yang tidak hanya terikat sebagai rekan kerja tapi juga muncul ikatan sahabat dan keluarga, Mantapp.
Kegigihan Tony untuk membangun bisnis yang digerakkan oleh passion setiap orang di Zappos dalam koridor budaya organisasi yang egaliter, team-work yang kuat serta keinginan untuk memberikan yang terbaik. Budaya perusahaan ini tidak hanya dipampang tapi sudah menjadi “darah daging” bagi seluruh “keluarga besar” Zappos. Jauh dari nilai-nilai feodal yang terkadang banyak dianut diperusahaan yang ada di negeri ini.
- Deliver WOW Through service
- Embrace and Drive Change
- Create Fun and a Little Weirdness
- Be Adventurous, creative and open minded
- Pursue Growth and Learning
- Build Open and Honest Relationship with Communication
- Build positive team and family spirit
- Do More With Less
- Be Passionate and Determined
- Be Humble
10 poin diatas adalah kalimat-kalimat yang bisa menggambarkan dan menjadi dasar budaya kerja di Zappos, Fun, Creative but High Productivity. Awesome.
Tahun 2009 Zappos “diakuisisi” oleh Amazon retail online terbesar dengan nilai $1,2 Miliar. Walaupunsudah menjadi bagian dari Amazon, Zappos tetap dilepas sebagai entotas yang mandiri, dengan budayanya yang unik.
Walaupun Tony Hsieh lebih senang menyebut ini bukan sebagai akuisisi tapi “Zappos and Amazon sit on tree together”. Zappos diyakini akan lebih mendapatkan percepatan pertumbuhan bisnis, budaya kerja jika berpartner dengan Amazon yang juga hampir memiliki kultur dan sumber daya yang melimpah. Jika Amazon.com terkenal dengan High Tech-nya maka Zappos terkenal dengan “High Touch”nya.
It’s not just only business it is the process how we could bring happiness for all of customer and people around us.
Buku yang “bergizi” dan menarik menurut saya, selain Tony Hsieh yang menulis juga ada kolom-kolom berupa hasil tulisan karyawan, kolega yang menjadi pendukung kuat pengalaman dilapangan terhadap paparan Tony.
Great Job Tony ^_^
Twitter Situs Mikro blogging Sebagai Media Alternatif
What we have to do is deliver to people the best and freshest most relevant information possible. We think of Twitter as it’s not a social network, but it’s an information network. It tells people what they care about as it is happening in the world.
-Evan Williams-
Dalam dunia internet saat sekarang kelihatannya adalah masa keemasan dari situs-situs jejaring social. Fenomena Facebook yang sangat digemari (terutama di Indonesia) menjadikan sebagai suatu fenomena teknologi, social dan bisnis yang menarik. Selain Facebook, adalah Twitter yang juga mengalami kenaikan pamor diantara para pengguna internet.
Twitter sebetulnya lebih tepat jika disebut sebagai situs Micro-blogging dari pada situs pertemanan/jejaring sosial. Melalui Twitter orang dapat saling berbagi pesan ataupun informasi dalam bentuk 140 karakter. Karena hanya memiliki 140 karakter terkadang Twitter suka disebut sebagai “sms internet”.
Simple tapi powerful, mungkin itu kesan yang bisa terlihat dari Twitter. Bagi para pengguna yang tidak memiliki waktu banyak atau tidak ingin wara-wiri surfing dalam situs pertemanan, Twitter menyediakan cara berinteraksi yang simple tapi efisien.
Twitter masuk ke dalam 50 situs yang paling sering dikunjungi . Didirikan pertama kali oleh Jack Dorsey, dari perusahaan podcasting Odeo. Idenya sebetulnya cukup sederhana, mengkombinasikan SMS dengan situs jejaring sosial. Inspirasi dasar Twitter muncul dari SMS group messaging service TXTMob.
Awalnya layanan ini diberi nama “twttr”, terinspirasi dari nama situs sharing foto Flickr. Dan layanan ini awalnya juga hanya terbatas digunakan dalam internal perusahaan Odeo saja.
Juli 2006 layanan ini mulai diluncurkan untuk public dengan nama “Twitter”. Nama layanan situs tersebut diperkuat dengan logo burung dan arti nama “Twitter” sendiri yang artinya ; kicau burung. Saat peluncuran pertama kali Twitter sudah memiliki brand, nama serta identitas yang jelas, padahal pendirinya belum tahu akan seperti apa model bisnis layanan ini.
Oktober 2006, Jack Dorsey menggandeng Biz Stone, Evan Williams membentuk Obvious Corp untuk membeli asset Odeo serta Twitter. Selanjutnya Odeo dan Twitter menjadi perusahaan yang terpisah. Untuk sumber dana dari Twitter sendiri didukung oleh perusahaan modal ventura (yang umum sering mendanai perusahaan start up yang potensial) seperti ; Benchmark Capital, Institusional Venture Partners, Union Square Ventures. Proses pendanaan Twitter ini menjunjukkan bahwa dalam bisnis teknologi internet seringkali suatu model bisnis awal memerlukan “suntikan dana” yang kuat. Karena belum tahu kapan model bisnis ini akan mulai menghasilkan. Sehingga perencanaan keuangan yang kuat mutlak diperlukan agar bisa survive dan menghasilkan cashflow positif.
Tipping point (meminjam judul buku Malcolm Gladwell) dari Twitter muncul pada saat festival music dan film South by SouthWest Festival di Austin Texas 2007. Pihak Twitter dengan cerdik memasang dua layar televisi raksasa untuk menayangkan secara live, pesan-pesan Twitter. Akirnya Twitter mendapat pemberitaan yang positif setelah event tersebut dan angka Tweet melonjak dari 20.000 menjadi 60.000. Dan sampai tahun 2009 jumlah pengguna Twitter terus tumbuh sampai 1382%/ bulan, fantastik. Pelajaran untuk hal ini, bagi para pelaku bisnis, terutama bisnis start-up harus cerdas memanfaatkan momentum untuk mendapatkan pemberitaan positif mengenai produknya, istilah kerennya “tipping point”. Bukan suatu hal yang tidak mungkin setelah ‘tipping point” akan terjadi pertumbuhan yang eksponensial.
Twitter terus berkembang menjadi situs micro-blogging dan menjadi media alternatif yang menarik ditengah hiruk pikuknya situs-situs jejaring sosial, dijaman Internet Web 2.0. Twitter tahun 2009 menambahkan kolom pencari (search bar), popular topics yang kemudian menjadi trending topics. Inovasi ini telah menempatkan Twitter menjadi salah satu mesin pencari (search engine) yang khas dan unik. Mencari sesuatu berdasarkan topik-topik yang menjadi tema tweet para “Tweeps”. Suatu bentuk pencarian yang real-time dan lebih human mind-oriented. Twitter juga menambahkan fitur “Twitter List” yang memungkinkan kita mengikuti dan membalas daftar authors, bukan hanya sekadar mem-follow author individu.
Inovasi-inovasi Twitter tersebut berbuah manis, pada awal tahun 2010, Google dan Microsoft membayar puluhan juta dollar untuk memasukkan hasil pencarian Twitter kedalam hasil pencarian search engine Google dan Bing (milik Microsoft).
Ini adalah bukti Twitter mulai memiliki model bisnis yang potensial. Pesan moralnya adalah jangan pernah berpuas diri, pahami potensi kebutuhan pelanggan anda, lakukan perbaikan dan terobosan teru menerus. “Understand your costumers and revolve continuously , good is the enemy of the Great”.
Google sebagai pemain besar teknologi internet telah melaunching Google Buzz, sebagai bentuk media sosial Google. Buzz ini terintegrasi dengan layanan Google Mail. Dan Buzz ini bisa jadi sebagai pesaing terbesar Twitter.
Mampukah Twitter bertahan ?
Tapi yang jelas Twitter selama ini mampu memberikan layanan teknologi media sosial yang mampu menarik banyak pengguna, mulai dari individu sampai korporasi besar. Twitter mampu berperan sebagai media sosial alternatif di era Web 2.0. Dell, IBM, Zappos adalah nama-nama korporasi yang aktif menggunakan Twitter untuk meleverage bisnis mereka.
Berbagi Ala Zappos.com (resensi kecil dari Zappos Culture Book)
“people may not remember exactly what you did or what you said, but they will always remember how you MADE THEM FEEL”

Awalnya saya sedikit penasaran dengan Zappos.com. Soalnya namanya aneh dan jarang sekali mendengarnya.
Pertama kali tahu dari sebuah majalah bisnis yang isi artikelnya mengenai kepuasan pelanggan. Dan disana disebutkan bahwa Zappos.com, toko retail sepatu online memiliki kemampuan untuk memberikan kepuasan pelanggan yang top. Sehingga banyak para pembeli yang mengaku puas dan kembali terus membeli sepatu lewat Zappos.com. Kabar terakhir Amazon.com membeli sebagian saham Zappos.com. Konon kabarnya sang CEO Amazon.com adalah salah satu fansnya Zappos.com dan Tony Hsieh (CEO Zappos.com).
Salah satu keunikan dari Zappos.com adalah buadaya kerjanya yang unik. Yang ujung-ujungnya membuat setiap pegawai Zappos terobsesi untuk memberikan pelayanan sebaik mungkin terhadap pelanggan. Bahkan bebas melakukan improvisasi yang dapat memberikan pelayanan yang memuaskan. Pelayanan yang mebuat pelanggan loyal.
Tapi apa bedanya budaya Zappos dengan budaya perusahaan lainnya ? sudah umum sekarang isu Budaya Perusahaan digaung-gaungkan. Ternyata di Zappos.com buadaya tidak hanya tulisan yang digadang-gadangkan diruangan atau digedung, bukan hanya semboyan tanpa makna yang dihapal setiap pegawai. Tapi sudah merupakan “jiwa” perusahaan yang dipraktekan mulai dari hal yang kecil dan terus dievaluasi.
Adalah Tony Hsieh CEO Zappos.com yang bertugas sebagai penjaga budaya perusahaan serta motivator ulung. Hampir sebagian besar waktunya dihabiskan untuk memperkuat budaya perusahaan. Menjalin hubungan dengan pelanggan dan stake houlder lainnya dengan melalui media, situs jejaring sosial, situs micro-blogging.Dan saya termasuk followernya di Twitter
.
Dalam buku Zappos Culture Book (saya peroleh gratis dari Zappos, totally free of charge) disebutkan bahwa inti nilai budaya perusahaan bagi mereka adalah :
* Deliver WOW through service
*Embrace and Drive Change
*Create Fun a Little Weirdness
*Be Adventurous, Creative and Open Minded
*Pursue Growth and Learning
*Build Open and Honest Relationship With Communication
*Build a Positive Team And Family Spirit
*Do More With Less
*Be Passionate and Determined
*Be Humble
….Zappos is a SERVICE company that happens to sell shoes, and clothing, and handbags, and accesories, and eventually ANYTHING and EVERYTHING.
Pelajaran yang bisa diambil dari Zappos.com adalah bagaimana membuat sebuah budaya kerja yang positif, budaya yang membangkitkan motivasi untuk memberikan lebih dalam bekerja, dapat membentuk sebuah perusahaan yang unik dan tangguh. BUdaya yang menanamkan bahwa berbuat baik, amanah akan membawa keuntungan jangka panjang.
Ujung-ujungnya dari segi bisnis profit akan datang secara otomatis (Zappos.com tercatat sebagai salah satu dari 100 perusahaan terbaik versi Majalah FORTUNE).
Hikmah dari budaya kerja Zappos.com. Budaya tersebut mencoba ditularkan melalui serangkaian workshop ataupun tour di Zappos.com, untuk menyerap budayanya. Dan hal tersebut terbuka untuk umum bahkan bagi pesaing mereka sekalipun. Bahkan Zappos mengirimkan Zappos Culture Book secara cuma-cuma bagi yang merequestnya (sayang sekarang sudah tidak gratis lagi bukunya).
Menurut saya pribadi cara mereka merupakan cara menjalankan bisnis yang unik dimana bisnis dan persaingan tidak harus selalu ditempuh dengan cara-cara licik dan tidak sehat. Bahkan dengan cara yang positif dan penuh passionate untuk menebar kebaikan bisnis dapat berjalan secara fantastis.
Cerita “Dari Garasi Jeff Bezos Mendirikan amazon.com”
Penjelajahan dunia pustaka tidak akan pernah seasik kini. Berkat bantuan inovasi jaringan interkoneksi global alias Internet saat ini, memungkinkan kita para penggemar buku –sebagai media informasi sekaligus hiburan– begitu leluasa dan nyaman untuk mendapatkan buku-buku favorit terbaru, langsung dari ujung jari pada mouse dan selanjutnya dihantarkan ke lokasi dimanapun kita berada.
Salah satu perintis jasa penyedia buku melalui prosedur online yang paling heboh saat ini adalah amazon.com (www.amazon.com). Mereka adalah bentuk e-commerce terlengkap di dunia asal Seattle, Amerika Serikat yang berdedikasi tinggi memanjakan para “kutu-kutu buku” dalam menghadirkan berbagai jenis buku, apapun pilihannya dihantarkan cepat dan tepat di atas meja belajar atau ruang baca keluarga kita. Sampai detik ini, gaung distribusi amazon.com sudah membahana luas ke setiap belahan benua yang terkoneksi Internet. Berawal dari toko buku online kecil bertransformasi menjadi raksasa e-commerce. This business is big and it just keeps getting bigger! Maka timbul pertanyaan, siapakah The Man behind amazon.com dan bagaimana sebenarnya usaha toko buku online itu bermula?
Adalah Jeff Bezos, si jenius lulusan Universitas Princeton dengan gelar summa cum laude pada tahun 1986 yang memantik ide awal amazon.com. Dari keenceran otak dan energi besar yang beliau telah miliki sejak awal untuk memulai suatu bisnis, yaitu menjual buku melalui Internet –adalah satu-satunya ketertarikan besar beliau pada masa itu. Dengan dasar pemikiran bahwa belum ada yang mendominasi potensi pasar bisnis raksasa di bidang penjualan buku online. Beruntung memang, ketika kali pertama Bezos menapakkan kaki-kakinya pada bisnis online bookstore tersebut. Pasalnya, pada tahun 1994 bisa dibilang hanya ada Barnes & Noble serta Borders Group yang masa itu pangsa pasar keduanya hanya mencapai kurang dari 25% atas keseluruhan transaksi 30 milyar US$ untuk pasar buku di Amerika. Itulah yang menjadikan intuisi Bezos semakin kreatif dan ekspansif untuk membangun amazon.com.
Dengan moto TUMBUH BESAR DENGAN CEPAT dan membangun budaya perusahaan yang energik dan ramah pelanggan sehingga menimbulkan efek “lekat” ke pelanggan (businessweek 2009).
Dan amazon.com “tumbuh” dan disukai oleh banyak konsumen. Kuncinya kata Jeff Bezos adalah memperkerjakan orang-orang yang tepat dengan “passionate” yang tinggi dalam bekerja dan membangun bisnis. Tidak hanya buku-buku yang dijajakan di toko online-nya. Variasi penjualan jalur produk terus ditambah sesuai dengan pertumbuhan usahanya. Koleksi seperti kaset VHS, cakram DVD, CD musik, MP3, perangkat lunak komputer, video games, barang elektronik, perlengkapan hiburan multimedia, furniture, panganan, mainan anak-anak –merupakan sebagian daftar barang dagangan di situs amazon.com milik Bezos. Info terbaru kemajuan amazon.com dalam e-commerce, digital e-book reader, Amazon Kindle merupakan salah satu hot item yang paling laris di US (kapan ya bisa masuk ke indonesia ?
)
Sony..dari bengkel radio menjadi perusahaan inovatif kelas dunia
Setiap orang pasti mengenal merek Sony dan kemungkinan besar pernah menggunakan produk Sony. Sebagai perusahaan elektronik Sony dinilai berhasil membesut produk produk yang laris manis atau menjadi icon di dunia teknologi. Sebut saja televisi Trinitron, pemutar musik Walkman, notebook VAIO, komputer genggam CLIE, konsol game Play Station, phone cell Sony Ericsson dan sederet produk lainnya.
Tapi dibalik kesuksesan menjadi salah satu icon teknologi dan inovasi, Sony pada mulanya “hanyalah” sebuah bengkel radio di Tokyo jepang; Tokyo Tsushin Kogyo (Tokyo Telecomunication Engineering Corporation). Di dirikan oleh Akio Morita dan Ibuka setelah perang dunia ke II. Setelah memutuskan untuk melakukan manufaktur produk, Morita dan Ibuka mempoduksi penanak nasi dari kayu (khas Jepang) dengan sumber energi listrik untuk memanaskan nasinya. Tapi entah kenapa nasi yang ditanak tidak pernah matang. Akhinya produk pertama mereka gagal.
Sony, ditangan Morita dan Ibuka dapat berkembang dari sebuah perusahaan lokal menjadi sebuah perusahaan elektonika pertama Jepang yang merambah secara Global. Bermula dari Morita yang berkunjung ke perusahaan Phillips Belanda di era 50-an. Kunjungan itu membawa mimpi bagi Morita untuk membawa Sony menjadi perusahaan kelas dunia. Disini kita bisa belajar contoh kekuatan sebuah visi dan tekad untuk mewujudkannya.
Morita dan Ibuka merupakan contoh pemimpin bertangan dingin dan memiliki visi yang kuat. Walaupun pucuk pimpinan dipegang oleh dua orang tapi mereka mampu “membagi” kekuasaan dan bersinergi membangun budaya perusahaan yang solid. Budaya perusahaan inilah yang menjadi “resep rahasia” Sony selain sumber daya manusia yang bagus.
Kedisiplinan, inovasi, keberanian untuk mengambil resiko, kebersamaan, kesedehanaan, merupakan sebagian budaya perusahaan Sony yang dapat diaplikasikan dengan baik. Maka tidak heran di Sony sang pendiri Sony berinteraksi secara langsung dengan petugas kebersihan dan karyawan level paling bawah. Budaya egaliter merupakan salah satu pemicu inovasi Sony. Memungkinkan orang-orang Sony mengeluarkan potensi terbaiknya untuk perusahaan. Kesederhanaan merupakan budaya yang di anut seluruh karyawan mulai dari level bawah sampai top management. Morita dan Ibuka mencontohkan sikap bahwa budaya mewah bukanlah taraf pencapaian terbaik. Berprestasi terus menerus merupakan pencapaian yang lebih beharga ketimbang bermewah-mewah.
Inovasi merupakan ciri khas Sony yang sudah mendarah daging. Produk produk Sony terkenal dengan desain dan kinerja yang prima, walaupun tidak semua laris dipasaran. Diawali dengan produk radio transistor portable Sony yang laris, Sony menggulirkan produk lainnya dengan “DNA” yang sama: pemutar musik portable WALKMAN, notebook VAIO, konsol game Play Station. Walaupun ada lini-lini produk yang gagal tapi tidak menyurutkan inovasi Sony dan investasi untuk mengembangkan bisnisnya. Sampai sekarang budaya Sony yang ditanamkan sang pendiri masih mengakar kuat walaupun Sony adalah sebuah perusahaan global. Suatu contoh perusahaan global dengan budaya lokal yang kuat dan positif.
Hal yang menyentuh lainnya dari budaya Sony: Sony meletakkan tujuan usahanya bukan hanya untuk mencetak laba semata. Yang paling utama bagi Sony adalah mengembangkan pertumbuhan jangka panjang dengan memberikan produk terbaik bagi konsumen, serta kesejahteraan bagi para karyawannya.
Suatu budaya yang mungkin dianggap utopia oleh kultur corporat barat tapi nyatanya sampai sekarang Sony masih bertahan sebagai perusahaan yang disegani.
Disadur dari : The Sony Way




















2 comments