Fitrah; Membesarkan Allah SWT serta Mengecilkan Mahluk
Sebentar lagi Ramadhan akan berakhir, momen-momen yang terasa menginspirasi dan terasa penuh “spirit” ini akan segera berakhir. Tapi semoga semangat dan spiritnya tetap terbawa ke dalam waktu-waktu berikutnya. Gegap gembira masyarakat dalam menyambut 1 Syawal sudah sangat terasa dan terlihat. Yang mudik, yang belanja adalah pemandangan rutin yang kita jumpai saat menjelang Idul Fitri.
Saat setelah melalui Ramadhan dan aktifitas ibadah-ibadah Ramadhan (konteks ibadah disini adalah ibadah ritual serta ibadah “sosial”) diharapkan kita dapat kembali kepada fitrah. Kalau dalam bahasa Al-Qur’an (QS. Al-Baqarah : 183) adalah menjadi bertakqawa. Manusia menjadi bertaqwa adalah sesuatu bentuk yang fitrah, karena hakekatnya semua mahluk ciptaan Allah SWT (termasuk manusia) taat dan tunduk patuh kepada aturan Illahi. Walaupun untuk manusia ada kebebasan untuk memilih ketaatan atau kemaksiatan kepada Rabb, yang tentunya diikuti oleh konsekuensi yang harus ditanggung.
Fitrah adalah “kacamata” Illahi dalam diri kita, maka saat kita dapat memaknai dan menyadari ibadah shaum Ramadhan dan aktifitas ibadah lainnya, maka kita dapat melihat segala sesuatu melalui “kacamata” Illahi. Artinya kita dapat merasa nikmat beribadah, ingin selalu melakukan kebaikan dan jijik terhadap kedzaliman serta kemaksiatan.
Segala hal yang bersifat materi terkadang selama ini dilihat sebagai sesuatu yang wah dan menjadi tujuan puncak hidup. Keberhasilan , kesuksesan yang disandarkan kuantitas materi ataupun ketenaran seakan-akan menjadi berhala yang tidak kita sadari.
Dengan kita kembali kepada fitrah ini maka sudut pandang kita terhadap kehidupan menjadi berubah. Orientasi terhadap nilai-nilai yang telah dituntukan dalam aturan Illahi menjadi guideline yang betul-betul diterapkan dalam setiap detik waktu hidup kita. Pola pikir, pola sikap, pula ucap dan pola gerak kehidupan senantiasa mengacu kepada guideline tersebut.
Maka jika sebelumnya kita sering melihat kilau kebendaan, kekuasaan sebagai sesuatu yang besar dan menjadi tujuan utama. Maka sekarang kita semua melihatnya sebagai sesuatu yang kecil yang tidak ada apa-apanya dibandingkan ke Maha Kuasaan Allah SWT, Rabb Pencipta Alam Semesta. Benda-benda tersebut mempunyai arti semata-mata hanya sebagai sarana dan fasilitas untuk dapat “mengangkat” diri kita dihadapan Allah SWT, bukan dihadapan sesama mahluk yang lemah bernama manusia.
Seperti hal nya para sahabat Rasulullah SAW; Abu Bakar Ash Sidiq r.a, Umar Bin Khattab r.a, Usman Bin Affan r.a, Ali Bin Abi Thalib r.a, Abdurrahman Bin Auf r.a yang mampu menempatkan segala kelebihan yang Allah SWT titipkan, baik itu harta dan kekuasaan dalam koridor memperjuangkan Islam dan kepentingan umat. Terdapat episode Abu Bakar yang mensedekahkan semua hartanya di jalan Allah SWT. Terdapat juga sejarah bagaimana Abdurrahman Bin Auf r.a mensedekahkan berpuluh-puluh unta bermuatan penuh saat masyarakat muslim dilanda paceklik berkepanjangan.
Semoga setelah melewati Ramadhan ini kita semua dapat bertrasnformasi menjadi pribadi yang shalih, baik secara individu ataupun sosial. Kembali fitrah yang artinya membesarkan Allah SWT dan mengecilkan mahluk. Walaupun bukan berarti Allah SWT perlu kita besarkan, karena tanpa manusia pun Allah SWT sudah memiliki sifat yang Agung dan Besar. Tapi membesarkan Sang Maha Pencipta, Allah SWT adalah bagian dari proses kita untuk “mendekat” kepada Nya.
Sehingga saat kita kehilangan sesuatu yang bersifat materi ataupun kesenangan kita tidak terlalu larut dalam penyesalan dan kesedihan. Dan saat kita kehilangan kesempatan untuk beribadah dan berbuat kebaikan bagi diri kita ataupun lingkungan masyarakat maka kita akan merasa menyesal dan sedih. Karena berkurang kesempatan kita untuk memperbaiki derajat kita dihadapanNya, kesempatan yang bisa jadi tidak akan pernah diperoleh kembali, seperti halnya Ramadhan ini yang akan segera berakhir.
Wallahu’alam Bishawab
Selamat Idul Fitri 1 Syawal sahabat, semoga kita semua termasuk golongan orang yang kembali kepada fitrah yang telah Allah SWT tetapkan.
Catatan Di Akhir Ramadhan 1431 Hijriyah
Bulan Ramadhan 1431 H ini tinggal beberapa hari lagi akan berakhir. Bulan yang sarat dengan keberkahan, ampunan serta pahala dari Allah SWT akan segera berakhir.
Senang bercampur bangga melihat geliat aktifitas kerohanian dan spritual Umat Islam sangat terasa kentara di bulan Ramadhan ini. Mesjid yang semula sepi menjadi ramai pada waktu malam dan subuh. Kajian-kajian keIslaman makin sering dilakukan di mesjid-mesjid besar, instansi ataupun di kampus-kampus. Setiap orang-orang yang saya kenal pun Alhamdulillah selalu merasa bahwa dalam bulan Ramadhan ini harus lebih menjaga sikap dan katakata.
Ramadhan adalah momen yang sangat berkesan bagi saya. Sejak dari kecil, belajar shaum di bulan Ramadhan, “ngabuburit” ke sawah saat bocah, bermain petasan yang membuat deg-degan adalah bagian kenangan masa kecil saat Ramadhan yang masih membekas sampai sekarang. Seiring dengan meningkat usia dan pemahaman mengenai Ramadhan itu sendiri, secara garis besar Ramadhan beserta ibadah yang disyariatkan (bak wajib dan sunnah) memiliki tujuan untuk membentuk umat yang bertakqawa. Suatu tujuan yang sepintas mudah diucapkan tapi berat untuk dipraktekan secara konsisten.
Di akhir Ramadhan ini tersisa sebuah perntanyaan dari saya, setelah melewati bulan Ramadhan ini apa yang telah kita dapatkan ? sampai dimana kita ?. Mungkin pertanyaan ini akan lebih baik jika kita renungkan bersama. Agar segala aktifitas di bulan Ramdhan ini bukan hanya sekedar ritual rutin tahunan semata tapi juga akan menghasilkan karakter yang kuat bagi kita semua.
Semoga amal ibadah shaum Ramadhan kita, tadarus, i’tikaf, zakat fitrah akan membentuk karakter keimanan yang senantiasa merasa “diawasi” oleh Sang Khalik, Allah SWT. Yang pada ujungnya membuat kita lebih berhati-hati menjalankan hidup, dengan senantiasa mempertimbangkan hidup untuk berjalan dalam cara yang disukai oleh Allah SWT, bukan cara yang disukai oleh hawa nafsu kita.
Dan pada akhirnya juga keshalihan individu yang mungkin dapat dicapai melalui Ramadhan ini akan membentuk keshalihan kolektif secara sosial. Membentuk umat dan masyarakat yang lebih taat aturan, benci terhadap kemaksiatan dan dosa, lebih peka dan berempati terhadap kaum dhuafa, senantiasa berupaya melakukan kebaikan bagi banyak pihak. Dan akhirnya negara ini bisa besar dan kuat berkarakter karena dibangun oleh orang-orang shalih yang takut dan taat kepada Allah SWT, menjadi Rahmat bagi sekalian alam.
Semoga…, Amin
Mari kita bersama mengisi hari-hari terakhir di Bulan Ramadhan ini karena kita semua tidak tahu apakah kita masih bisa berjumpa dengan Ramdhan berikutnya.
Wallahu’alam Bishawab
Bandung 26 Ramadhan 1431 H
“Be Good” atau “Looks Good” ?
Di lingkungan masyarakat “kredibilitas” ataupun citra merupakan hal yang dirasa penting oleh masing-masing orang. Dengan penilaian kredibilitas yang baik ataupun citra diri yang baik akan memuluskan berinteraksi dalam lingkungan masyarakat, mendapatkan pengakuan, atau lebih jauhnya lagi meraih kekuasaan.
Sayangnya “kredibilitas” tersebut tidak selalu dicapai melalui kompetensi yang nyata terkadang “kredibilitas” tersebut diciptakan melalui pencitraan dan lips service. Jadilah muncul orang-orang yang terlihat hebat diluar padahal bobrok didalam. Seakan-akan wajah aslinya yang rusak tertutup oleh topeng “citra” yang hebat.
Dalam sebuah majalah pernah dibahas nilai sebuah bisnis pencitraan terutama pencitraan politik yang bisa menembus angka rupiah yang fantastis. Lucu dan ironis, disatu sisi ada pelaku pasar yang menjajakan service untuk memoles orang agar memiliki citra baik (yang tak lepas kemunculannya dari permintaan pasar) disatu sisi lain ternyata kredibilitas bisa diciptakan dengan instant melalui polesan-polesan kampanye media. Sebetulnya mungkin tidak ada yang keliru dengan pencitraan positif sepanjang diiringi dengan perbaikan kompetensi yang nyata.
Jika tidak, yang muncul adalah kebohongan semata. Jadi teringat sebuah kolom di Majalah SWA yang ditulis Arvan Pradiansyah yang baru saya baca, beliau menuliskan :
Terkait nama baik dan kredibilitas manusia dapat dibedakan dalam tiga golongan; Orang pertama adalah manusia politis. Yang tidak selalu seorang politisi tapi mereka adalah golongan orang-orang yang menjadikan citra sebagai fokus perhatian utama. Bahkan bagi mereka citra dan persepsi lebih penting dari kenyataan. Manusia tipe ini adalah tipe yang selalu menghias, memoles dan memermak diri ntuk mendongkrak citra.
Mereka membangun persepsi bahwa mereka lah yang paling hebat dan paling mampu. Sayangnya mereka tidak berusaha meningkatkan kualitas diri mereka karena telah cukup puas “bermain” dalam level persepsi. Mereka cukup puas kalau kelihatan baik (Looks Good) padahal mereka tidak benar-benar baik. Mereka telah melanggar hukum alam yang mensyaratkan pertumbuhan dari dalam (Be Good) ke luar (Looks Good). Karena itu suatu saat nanti mereka akan menanggung akibatnya dalam bentuk hilangnya kepercayaan (trust).Rumus yang dianut golongan pertama tadi adalah Looks Good > Be Good.
Golongan orang kedua adalah “Manusia Bisnis” dengan rumus : Looks Good = Be Good. Jenis orang ini berusaha mengkomunikasikan semua potensi yang ia miliki agar dapat dikenali “pasar”. Mereka menyadarai bahwa promosi (Looks Good) penting, tetapi yang lebih penting adalah membangun kualitas ke dalam (Be Good).
Golongan orang ketiga adalah Manusia Spiritual dengan rumus : Looks Good < Be Good. Bagi golongan ini Be Good jauh lebih penting dari Looks Good. Mungkin kita bertanya-tanya koq bisa ?. Bagi Manusia Spiritual satu-satunya yang penting adalah Be Good, yaitu bagaimana caranya hidup menjadi orang yang baik. Karena itu seluruh waktu yang dimilikinya dicurahkan untuk meningkatkan kualitas diri. Tidak ada waktu untuk pencitraan.
Bagi Manusia Spiritual persepsi atau pandangan orang kepadanya menjadi tidak begitu penting karena yang paling penting adalah bagaimana pandangan Allah SWT kepada dirinya. Dan ketika kita berbicara mengenai Allah SWT sejatinya tidak ada persepsi yang ada adalah realita karena Allah SWT, Yang Maha Mengetahui.Bukankah dihadapan-Nya tidak ada yang namanya Looks Good ? yang ada hanyalah Be Good. Inilah yang membuat Manusia Spiritual tidak pernah membuang-buang waktunya untuk Looks Good. Pemahaman berikutnya yang dimiliki Manusia Spiritual adalah yakin bahwa Be Good akan mengalahkan Looks Good.
Manusia Spiritual memahami bahwa Looks Good adalah sebuah persepsi, sebuah penampakan yang tidak kekal dan bisa jadi penuh kepalsuan. Manusia Spiritual sadar bahwa terlalu memikirkan citra akan merusak nilai kebaikan yang mereka berikan. Sehingga seluruh energi dan kehidupan mereka dedikasikan untuk kebaikan mereka tidak pernah mengharapkan balasan apapun.
Mereka hanya yakin sepenuhnya dengan hukum kekekalan energi bahwa apa yang mereka berikan kepada dunia luar akan kembali lagi kepada mereka dalam bentuk yang berbeda.
Sebagai pengingat bagi kita semua, dalam Al Qur’an Surat Ash-Shaff ayat 3 :”Amat besar kebencian disisi Allah SWT bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tiada kamu kerjakan”.
Jadi tipe yang seperti apakah yang akan anda tiru ?
Wallahu’alam Bishawab
Sejauh Mana Toleransi Kita?
Artikel menarik untuk disimak menjadi renungan kita semua,
Dr. Aidh Al Qarni
Sejauh Mana Toleransi Kita?
www.eramuslim.com
Al Quran mengajarkan kita untuk melaksanakan toleransi, perdamaian sosial, perlakuan yang manusiawi, dan kasih sayang sesama manusia, menahan amarah dan memaafkan semua orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik.
الَّذِينَ يُنفِقُونَ فِي السَّرَّاء وَالضَّرَّاء وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ وَاللّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِين
(yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema’afkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan. (Ali Imran 3:134)
Toleransi dimulai dengan toleransi dengan diri sendiri, dengan menahan diri dari menyimpan dendam dan kebencian dan permusuhan. Sebaliknya kita harus mengajar diri sendiri rahmat, persahabatan, dan perdamaian. Kita harus mengampuni orang tua kita, kerabat, dan semua kerabat kita, memelihara hubungan darah, karena memang Allah swt telah memerintahkan kita untuk melakukan itu semua.
Kita harus bermurah hati dengan kerabat kita, merawat mereka, memaafkan kesalahan mereka, dan menoleransi kerugian yang mereka lakukan kepada kita. Kita harus toleran dan memaafkan anggota-anggota masyarakat kita sehingga jika mereka berbuat salah, kita akan membetulkan mereka dengan kelembutan dan nasihat ringan, mengingat bahwa kita mungkin sama seperti yang mereka lakukan.
Kita harus mengirimkan pesan tentang toleransi dan perdamaian ke dunia. Kita harus menunjukkan kepedulian kepada bangsa-bangsa lain `keselamatan dan kesejahteraan sehingga mereka dapat diyakinkan bahwa kita tidak akan menyakiti mereka. Mereka dan kita hidup di planet yang sama. Kita memiliki kepentingan bersama dan keuntungan. Sebagai manusia, kita semua memiliki tanggung jawab terhadap satu sama lain.
Di sinilah kita menunjukkan wajah Islam yang indah tanpa kekerasan, penghinaan, dan penindasan. Ia memerintahkan kita untuk menggunakan wacana dan perlakuan yang lembut. Allah swt melarang kita untuk menggunakan terorisme intelektual dan mencoba untuk mengendalikan pikiran orang secara paksa.
Kita perlu menunjukkan kepada dunia bahwa kita peduli tentang kesuksesan, kebahagiaan, dan kehidupan masyarakat. Nabi Muhammad saw diutus untuk membawa kebahagiaan, bukan kesengsaraan kepada rakyat, untuk memimpin mereka kepada keselamatan, bukan kebinasaan, menjaga keamanan dan kehidupan mereka, dan tidak membunuh mereka, kecuali di jalan kebenaran. Rasulullah mengatakan demikian dalam indah dan terinspirasi khotbah pada suatu waktu: “Kalian dilarang untuk membunuh satu sama lain, mengambil harta, dan kehormatan. Larangan ini suci seperti hari ini, di bulan ini, di tanah yang suci ini.”
Mengapa orang-orang di dunia selalu melihat orang Islam sebagai pelaku kekerasan? Kita selalu bekerja untuk melakukan kerja kemanusiaan, tapi mengapa sebagian dari kita selalu dianggap sebagai ancaman?
Selama ini, karena kita tidak benar-benar setia kepada agama kita, kita lemah dan tidak siap. Kita terus dicerai-beraikan, cengeng, dan primitif ketika datang ke dunia materi yang mereka sebut peradaban. Orang-orang asing marah dan lelah dengan dunia dan diri mereka sendiri. Mereka marah dengan segala sesuatu, dengan orang-orang dan bahkan dengan air yang mereka minum dan udara yang mereka hirup. Mereka seperti ini karena mereka memiliki sedikit pengetahuan dan tidak mampu untuk hidup dalam persahabatan dan perdamaian dengan masyarakat mereka. Mereka tidak mampu berinteraksi dengan orang dan menunjukkan atau menerima kasih sayang.
Wallahu’alam Bishawab
Standar Ganda Dunia Internasional dalam krisis Gaza-Israel
Beberapa hari menjelang pergantian tahun baru (tahun baru Hijriyah & tahun baru Masehi) sampai hari ini dunia dikejutkan dengan berita tentang penyerangan Israel terhadap jalur Gaza. Penyerangan dilakukan dengan serangan udara, roket dan bom menghantam pemukiman sipil dijalur Gaza. Rumah penduduk, gedung-gedung fasilitas umum luluh lantak terkena hantaman roket dan bom israel. Ratusan penduduk sipil terbunuh (sampai tanggal 31 Desember diberitakan 352 penduduk Palestina terbunuh) dan mengalami luka parah. Gaza yang berada dalam pemerintahan Palestina HAMAS betul-betul mengalami agresi militer yang brutal dan terang-terangan tanpa mengindahkan hukum. Bahkan Israel dengan arogan dan degil nya berniat melanjutkan denganserangan darat dengan dalih melumpuhkan kekuatan HAMAS yang dianggap sebagai pengancam “kedamaian” .
(F-16 Israel, Fighting Falcon http://english.aljazeera.net/news)

Dalam pernyataannya menteri luar negeri Israel berdalih penyerangan terhadap Gaza merupakan aksi untuk melumpuhkan kekuatan Hamas, semua sasaran pemboman merupakan tempat instalasi militer dan gudang persenjataan HAMAS (disertakan juga foto-foto udara yang “membenarkan” pembelaan Zionis Israel). Menteri luar negeri IsraelTapi lepas dari pembelaan pihak Zionis, fakta berbicara rakyat sipil Palestina lah yang menjadi korban. Bahkan ada penduduk yang tertembak roket saat berada dalam bis umum. Apakah ini yang disebut sebagai operasi militer yang tersusun rapi ?. Kecuali memang dalam aksi ini jelas ada maksud untuk “genocide”, membantai penduduk sipil.
(http://english.aljazeera.net/news)
Berbagai demonstrasi dan himbauan dunia internasional untuk menghentikan aksi Israel kembali marak tapi sebagian besar ya cuma itu hanya himbauan dan desakan lisan. Tanpa ada aksi dan tekanan yang lebih nyata . Amerika Serikat yang mengkalaim diri sebagai “penegak HAM” dunia bungkam tanpa ada gertakan serta aksi represif yang biasanya ada kalau terjadi konflik dunia. Bahkan Dewan Keamanan PBB pun hanya “meminta tanpa ikatan” kepada Israel untuk menghentikan aksinya.
Well…ini adalah cerita lama, dunia internasional memang menerapkan standar ganda dalam menerapkan hukum internasional. Saat pihak-pihak yang dianggap “musuh dunia internasioal” (baca : Islam) setiap aksi ataupun konflik yang muncul langsung direspon secara represif dan tangan besi. Entah itu tragedi WTC (yang dianggap di dalangi teroris Islam) yang berujung terhadap invasi Afganistan, invasi Irak untuk meruntuhkan rezim Saddam Husein, tragedi Bom bali, kecurigaan terhadap Iran dengan proyek nuklirnya. Setiap pihak yang dianggap “musuh” kepentingan Amerika Serikat dan tentunya kepentingan Zionis, dianggap sebagai teroris dunia internasional. Adapun aksi-aksi agresi dan militer pihak-pihak “teman” kepentingan Amerika dan Zionis adalah aksi untuk membela diri, menjaga perdamaian dunia serta seribu macam alasan pembenaran. Hal ini terbukti dari salah satu sikap Amerika Serikat yang menyuruh HAMAS untuk tidak melakukan serangan balasan roket ke daerah Israel.
Sebetulnya aksi biadab militer Zionis Israel terhadap penduduk sipil sudah “biasa” mereka lakukan, tragedi Shabra dan Shatilla di tahun 80-an, penindasan di tepi barat dan jalur Gaza pada era 90-an merupakan salah satu catatan kebiadaban Israel. Zionis yang berpaham “Kami (kaum Yahudi) adalah Serigala dan orang-orang diluar Yahudi adalah domba-domba yang dapat dimangsa dan ditakdirkan untuk dimangsa” (Protokol Zionis & Talmud ) adalah paham yang membangun Negara Zionis Israel. Dengan paham ini maka tak heran segala kebijakannya berlandaskan teror dan kesewenang-wenangan. Memang kaum Yahudi adalah kaum yang diberikan kelebihan tapi ternyata mereka juga banyak melakukan kerusakan-kerusakan dimuka bumi, sejak jaman Nabi Musa a.s sampai sekarang. Banyak kerusakan-kerusakan dunia disebabkan oleh makar-makar Zionis Yahudi. Maka kelihatannya gelar Teroris dan Negara Teroris atau “Axis of Evil ” sebetulnya layak disandangkan kepada Negara Zionis Israel.
Fakta ini memberikan bukti bahwa sebagai umat Islam kita tidak bisa (dan tidak boleh) bersandar kepada negara-negara Barat yang jelas-jelas hanya memandang umat Islam hanya dari sisi kepentingan mereka semata. Satu hari bisa dijadikan kawan tapi pada saat berikutnya bisa jadi lawan. Maka sudah selayaknya seluruh umat Islam seluruh dunia bersatu padu dalam satu garis kepemimpinan (Khalifah). Dengan adanya persatuan umat Islam yang kuat, kepentingan serta keamanan masyarakat Islam Internasional akan lebih terjaga serta masyarakat internasional umumnya. Bukankah Islam merupakan sistem yang membawa rahmat bagi semuanya,Rahmatan Lilalamin ?.
(Penduduk sipil korban teroris zionis Israel, http://english.aljazeera.net/news)
Semua doa, dukungan dan bantuan kita sebagai sesama umat Islam hendaknya kita berikan kepada warga Palestina, sebagai pihak yang tertindas. Islam bagaikan satu tubuh, jika ada satu anggota tubuh tersakiti maka anggota lainnya akan ikut merasakan. Demikian karakter persaudaraan umat Islam yang seharusnya.
Walahu’alam Bishawab
Belajar keikhlasan dari seorang Khalid Bin Walid
Nama Khalid Bin Walid r.a identik dengan keahlian yang luar biasa dalam bidang kemiliteran terutama strategi perang, Khalid mendapatkan julukan Saifullah atau “pedang Allah” . Khalid adalah suku Quraisy, sejak kecil Khalid di didik ilmu ketangkasan keprajuritan yang lazim pada zaman itu; berkuda, menggunakan berbagai jenis senjata, bergulat. Maka tidak heran Khalid tumbuh menjadi pemuda yang memiliki karakter keprajuritan yang kuat.
Awal masuk Islam
Jika melihat sejarah memang aneh, saat Rasulullah SAW menyampaikan awal dakwah di Mekah Khalid belum tergerak untuk memasuki Islam. Khalid merupakan musuh Kaum Muslimin saat itu, musuh yang paling diperhitungkan karena kemampuan bertempurnya yang mumpuni. Bahkan saat Perang Uhud (perang lanjutan setelah Perang Badar), perang antara kaum Muslimin dengan Musyrikin Quraisy, Khalid sendiri yang memimpin pasukan berkuda kaum Quraisy dan memberikan pukulan yang telak kepada kaum muslimin, dengan menyergap secara tiba-tiba dari garis belakang pertempuran saat pasukan panah kaum muslimin meninggalkan posnya.
Akhirnya hidayah pun datang kepadanya, selepas masa Perang Uhud Khalid datang ke Kota Madinah untuk menyatakan ikrarnya masuk Islam di hadapan Rasulullah SAW. Subhanallah Allah memberikan petunjuk dan hidayah kepada siapapun yang Dia kehendaki. Khalid telah bertransformasi menjadi mukmin dan ada dialog yang menarik dalam proses awal keislamannya. Khalid : “Ya Rasulullah mohon minta ampunkan untukku terhadap semua tindakan masa lalu ku yang menghalangi perjuangan di jalan Allah……”. Rasulullah menjawab :”Sesungguhnya keislaman itu telah menghapus segala perbuatan yang telah lampau”. Khalid :” Sekalipun demikian ya Rasulullah……”. Maka Rasulullah SAW berdoa :” Ya Allah aku mohon engkau ampuni dosa Khalid ibnul Walid terhadap tindakannya yang menghalangi jalan-Mu di masa lalu”. Keislaman Khalid saat itu diikuti juga oleh Amr bin Ash dan Utsman bin Thalhah. Selepas prosesi masuk Islam Khalid maka Khalid bergabung menjadi pendukung perjuangan menegakkan Al Islam bersama barisan Rasulullah SAW.
Kontribusi Khalid dalam perjuangan Islam terutama di medan jihad qittal, pertempuran untuk menjaga keagungan panji Islam layaknya sudah menjadi rumah bagi dirinya. Dalam Perang Mut’ah melawan kekaisaran Romawi Timur Khalid bin Walid berhasil memimpin pasukan Muslimin terhindar dari kehancuran melawan pasukan Romawi yang berjumlah puluhan kali lipatnya. Dengan strateginya Khalid berhasil membawa pasukan Muslimin yang telah dikepung rapat untuk undur dari medan peperangan setelah sebelumnya membuat kerusakan dalam barisan pasukan Romawi. Dalam peristiwa Futuh Mekah (pembebasan Kota Mekah) Khalid termasuk salah seorang sahabat yang ditunjuk Rasulullah untuk memimpin pasukan Muslimin.Dengan ijin Allah SWT pasukan Muslimin dapat membebaskan Mekah dari Kaum Musyrikin Quraisy tanpa pertumpahan darah.
Khalid panglima perang yang tangguh
Sepeninggal Rasulullah SAW, kepemimpinan umat Islam diserahkan kepada sahabat Abu Bakar Ashidiq r.a. Kemurtadan dan nabi palsu merajalela, pemberontakan yang paling kuat dipimpin oleh Musailamah yang juga mengaku dirinya Nabi di bagian Yamamah. Pertempuran pun tidak bisa terelakan antara pemberontak kaum murtad di pihak Yamamah dengan pasukan Muslimin di pimpin oleh Khalid Bin Walid. Awalnya pasukan Muslimin terpojok oleh pasukan Musailamah yang berjumlah besar, dengan kesigapan Khalid dan analisis militernya yang tajam atas ijin Allah SWT Khalid mampu membalikkan keadaan menjadi kemenangan di pihak Kaum Muslimin. Khalifah Abu Bakar Ashidiq di Madinah langsung melakukan sujud syukur atas nikmat kemenangan yang Allah SWT berikan ditengah kegentingan perpecahan umat Islam. (more…)
Catatan Di Akhir Ramadhan (1429H)
Alhamdulilah sekarang sudah menjelang hari ke-30 Ramadhan. Sudah menjelang saat-saat akhir bulan yang penuh keberkahan ini. Tampak berbeda suasana keseharian selama hampir 30 hari kebelakang. Mesjid-mesjid rata-rata penuh oleh jama’ah sholat tarawih dan I’tikaf di malam sepuluh terakhir. Tidak hanya itu, shaf sholat fardhu berjamaah makin bertambah jumlahnya. Yang semula hanya satu baris sekarang minimal setengah mesjid penuh, bahkan saat Isya dijamin penuh. Bagi saya itu adalah pemandangan yang sangat berkesan. Mesjid yang semula sepi di bulan-bulan lainnya (kebanyakan), saat Ramadhan terasa hidup dan penuh dinamika J. Malam-malam akhir Ramadhan banyak dipenuhi para “I’tikaf-er” Fenomena itu merupakan suatu contoh bahwa ternyata diperlukan suatu MOMENT tertentu oleh masyarakat (kita) dalam beraktifitas.
Pengamatan saya pada tahun-tahun yang lalu sehabis Ramadhan biasanya Mesjid kembali sepi, tidak seramai Ramadhan…langsung jumlah “pengunjung” mesjid turun drastis sehabis Ramadhan (di kebanyakan mesjid). Adakah yang salah dalam hal ini ? ..hem mungkin aktifitas Ramadhan yang kita lakukan belum cukup “meresap” dalam diri kita sehingga belum bisa “mewarnai” aktifitas keseharian kita paska Ramadhan. Sehingga sehabis bulan Ramadhan ….semua kembali lagi ke keadaan semula. Jangan sampai kita punya pensikapan Ramadhan hanyalah nama sebuah bulan yang didalamnya kita diperintahkan shaum (bagi yang merasa dirinya mukmin)..sehabis itu wassalam dengan lebaran sebagai seremonial hura-hura. Sangat disayangkan jika kita memiliki paradigma seperti itu.
Lirik Lagu Ketika Tangan dan Kaki Berkata
Lirik : Taufiq Ismail
Lagu : Chrisye
Akan datang hari mulut dikunci
Kata tak ada lagi
Akan tiba masa tak ada suara
Dari mulut kita
Berkata tangan kita
Tentang apa yang dilakukannya
Berkata kaki kita
Kemana saja
dia melangkahnya
Tidak tahu kita bila harinya
Tanggung jawab tiba
Rabbana
Tangan kami
Kaki kami
Mulut kami
Mata hati kami
Luruskanlah
Kukuhkanlah
Di jalan cahaya…. sempurna
Mohon karunia
Kepada kami
HambaMu yang hina
(1997)
Words Of The Day
Life with passionate……,
Do what you love and love what you do with all your heart and soul
“Mengupgrade” Keimanan di Bulan Ramadhan
Keimanan dapat bertambah atau berkurang sesuai dengan aktifitas amaliah yang kita lakukan dalam hidup. Iman dapat bertambah karena ketaatan kepada-Nya dan dapat berkurang karena kemaksiatan kepada-Nya. Keimanan seseorang akan bertambah dimana ia mampu menahan diri dari segala ujian dan berjuang untuk tetap berada dalam tuntunan Al-Quran dan Sunnah Rasul. Sebaliknya jika masih tak berupaya untuk menahan dari segala maksiat dan terjerembab dalam lumpur nista, maka disaat inilah hidupnyaberada dalam krisis keimanan. Allah SWT berfirman :”Dan orang-orang yang mendapat petunjuk, Allah menambah petunjuk kepada mereka dan memberikan kepada mereka balasan ketakwaannya.” (QS: Muhamad:17).
Aktifitas Bulan Ramadhan yang penuh dengan nilai ibadah hendaknya kita optimalkan untuk meningkatkan kualitas keimanan dan derajat ketakwaan kita. Aktifitas-aktifitas di Bulan Ramadhan terutama shaum, merupakan media untuk lebih mendekatkan diri kita kepada Allah SWT dan menjauhkan diri dari maksiat. Shaum di bulan Ramadhan dan aktifitas ibadah lainnya merupakan benteng bagi diri kita dari godaan nafsu syahwat yang akan melenakan kita dari tujuan amanah hidup kita.
Aktifitas amaliah di Bulan Ramadhan yang idealnya dilakukan secara konsisten agar dapat meningkatkan kualitas keimanan dan ketakwaan kita :
Shalat fardhu berjama’ah dengan optimal dan penuh khusyu. Shalat berjama’ah menghilangkan kemunafikan, membuahkan rasa takut (khauf) kepada Allah SWT serta mencegah dari perbuatan keji dan munkar. “Sesungguhnya shalat itu adalah kewajiban yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman.” (QS An-Nisa :103). “Sesungguhnya shalat itu mencegah dari perbuatan keji dan munkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar keutamaannya dari ibadah-ibadah lainnya. Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS Al-Ankabut : 45).
Membaca dan mengkaji Al-Qur’an disertai dengan pemahaman dan mulai menerapkan aturan-aturan yang terkandung dalam Al-Qur’an dalam kehidupan kita sehari-hari.
(more…)





leave a comment