Archive

Archive for the ‘Teknologi’ Category

Honda dan CEO Honda, Takanobu Ito

November 1, 2009 wagenugraha 1 comment

Siapa yang tidak kenal Honda ? produsen otomotif kelas dunia yang terkenal . Memiliki kelebihan dalam memproduksi kendaraan bermotor dengan teknologi yang inovatif, serta sesuai dengan keperluan konsumen di berbagai belahan dunia. Di Indonesia Honda terkenal karena produk motornya, salip menyalip dengan Yamaha. Seiring dengan krisis ekonomi sebagai dampak dari krisis ekonomi Amerika, Industri Otomotif dan Honda mengalami imbas akibat daya beli konsumen yang merosot.

Tapi dengan kekuatan budaya bisnis Honda yang menekankan terhadap prinsip berpikir cepat, investasi yang konservatif, dan menakar dengan kepala dingin kemampuan mereka sendiri. Honda menolak untuk mengikuti competitor dengan tidak memproduksi kendaraan pickup besar, walaupun dari segi margin keuntungan cukup menggiurkan. Untuk mobil, Honda fokus di empat model utama, mobil kompak Fit (Jazz), sedan Civic dan Accord serta CR-V, SUV kecil. Diseluruh dunia masing-masing model ini terjual lebih dari 50.000 unit per-tahun.

Fokus dan penghematan yang dilakukan mampu membantu Honda survive mengarungi badai krisis dan tetap membukukan keuntungan $ 1,5 miliar (Tahun Fiskal Maret 2009) padahal rivalnya Toyota dan Nissan merugi miliaran dollar.

honda-ceo-takanobu-ito3Adalah Takanobu Ito seorang insinyur Honda yang sekarang didaulat menjadi CEO Honda. Ito yang telah bekerja 25 tahun di Honda terbiasa bekerja dengan anggaran yang ketat. Sehari-hari bekerja di meja kayu yang sederhana dalam ruangan yang dipakai bersama dengan eksekutif lainnya.

Pengehematan dan efisiensi terasa kental dalam budaya Honda. Dan hal ini sangat membantu Honda untuk “survive” dan lebih ramping dalam bergerak didalam iklim kompetisi industry otomotif yang super ketat. Ekspansi besar-besaran ditunda, menarik diri dari ajang balap Formula 1 untuk dapat menghemat sekitar $500 juta pertahun dilakukan oleh CEO Ito.

Satu hal menarik dari Honda dan CEO Takanobu Ito, Honda adalah perusahaan dengan budaya hierarki yang tidak terlalu kaku. Sebagian besar eksekutif level atas termasuk Takanobu Ito adalah insinyur yang lebih bersemangat membicarakan teknologi ketimbang keuangan. Kepada Ito yang telah menjabat CEO pun semua orang nyaris menyapanya dengan sebutan “Ito-san” bukan sebutan yang lebih formal “Ito-Shacho” (Presiden Ito). Kini Ito harus menjalani masa-masa penjualan yang berat ditambah dengan menguatnya Yen sehingga mengikis laba ekspor.

Honda pun mulai focus menciptakan jajaran produk yang irit BBM. Kecenderungan konsumen yang meninggalkan SUV besar dengan mobil yang kompak membantu mendogkrak penjualan Honda. “Kami ingin memproduksi dan menawarkan mobil yang nyaman dikendarai, bukan mobil yang boros” kata CEO Ito.

Budaya egaliter Ito-san dengan semangat kerja dan inovasi yang kuat mengingatkan kepada Founder Sony Corporation. Seperti inikah profil pemimpin-pemimpin korporasi Jepang ?. Efisien, egaliter dan focus untuk bisa bertahan menjawab tantangan medan yang selalu berubah.

 

–disadur dari Businessweek 4 November 2009 –

Categories: Teknologi Tags: , , ,

Bisnis dan GO OPEN SOURCE

June 9, 2009 wagenugraha 4 comments

Dell-Desktop-ubuntu-linux

Berbicara mengenai Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) dalam dunia bisnis adalah berbicara juga mengenai nilai kompetitif. Bagaimana tidak, TIK sekarang menjadi salah satu kunci untuk dapat meraih keunggulan dalam iklim usaha yang makin ketat persaingannya. TIK tidak hanya sekedar tool dalam menjalankan core-business tapi juga sebagai daya ungkit untuk memberikan kekuatan dalam meraih pangsa pasar. Maka tidak heran banyak perusahaan yang mengalokasikan dana cukup besar untuk “belanja” TIK yang tentunya dibarengi dengan komitmen yang besar untuk mengmplementasikannya.

Selama ini TIK yang di implementasikan dalam perusahaan-perusahaan skala menengah dan besar masih didominasi perangkat-perangkat lunak berbayar (proprietary). Sebut saja vendor Microsoft, vendor perangkat lunak raksasa dunia yang menyediakan berbagai perangkat lunak kebutuhan perusahaan. Tapi dengan keharusan membayar lisensi aplikasi perangkat lunak dalam kisaran harga yang cukup tinggi membuat perusahaan-perusahaan mencari alternatif lainnya yang lebih ekonomis dengan kemampuan yang handal. Mulailah Open Source System (OSS) dilirik oleh perusahaan-perusahaan.


OO

Apalagi dalam situasi ekonomi yang belum stabil dimana “cash” adalah hal yang vital, maka pengehematan besar-besaran perlu dilakukan agar bisa bertahan. OSS merupakan sistem perangkat lunak yang membebaskan para penggunanya dari biaya lisensi yang mahal. Untuk dapat menggunakannya para pemakai dapat tidak dikenakan biaya ataupun sejumlah biaya tertentu yang tidak begitu besar. Contoh untuk satu unit desktop standar biaya perangkat lunak proprietary dapat mencapai $500 sedangkan jika menggunakan OSS biaya yang diperlukan cukup 1/5-nya. Walaupun tidak betul-betul gratis penggunaan Open Source memberikan nilai kompetitif dari segi ekonomi dan kebebasan untuk memodifikasi sesuai dengan kebutuhan, karena pengguna dapat memodifikasi source code nya untuk memperoleh kinerja dan penyesuaian yang diperlukan sesuai kebutuhan. Hal yang sama sekali tidak bisa dilakukan dalam lingkungan sistem perangkat lunak berbayar.


Banyak perusahaan-perusahaan yang mulai mengimplementasikan Open Source System dalam lingkungan teknologi informasinya. Penggunaan Open Source System memberikan kontribusi efisiensi dari perusahaan-perusahaan dalam memberikan produk atau layanan jasa, perusahaan-perusahaan teknologi tinggi di India dan Cina contohnya. Open Source System disini bisa berarti perangkat lunak yang dibangun dalam template Open Source seperti sistem operasi desktop Linux (serta ratusan turunannya), perangkat lunak yang digunakan untuk keperluan tertentu, Server, email client, aplikasi perangkat Office, data base. Vendor-vendor yang menawarkan produk dan service seputar Open Source System pun mulai banyak bahkan di support oleh vendor teknologi yang bukan OSS. Contohnya adalah NOVELL yang mendapat dukungan AMD atau RED HAT yang memiliki dukungan IBM.


Di Indonesia sendiri implementasi OSS mulai marak digunakan oleh banyak perusahaan skala kecil, menengah dan besar. Apalagi saat isu legalitas perangkat lunak kencang berhembus banyak perusahaan-perusahaan kecil yang switch ke Open Source. Contoh yang paling gampang dijumpai adalah warnet-warnet (warung internet). Untuk skala perusahaan besar, PT. Telekomunikasi Indonesia, Bank Mandiri tbk, PT Tempo Inti Media telah mulai dan sudah menggunakan Open Source System. Tantangan yang dihadapi saat “shifting” ini adalah penyesuaian terhadap pengguna serta pelatihan yang harus kontinu. Karena selama ini pengguna sudah terbiasa bekerja dengan komputer dengan lingkungan sistem proprietary, saat mulai menggunakan Open Source System umumnya mengalami masalah-masalah teknis akibat belum terbiasa. Umumnya makin banyak pengguna dalam suatu perusahaan maka energi untuk membiasakan mereka lancar makin besar juga. Disini biasanya dapat menggunakan jasa outsourcing untuk pelatihan dan implementasi Open Source System. Memang saat transisi ini tidak nyaman dan tidak mudah tapi begitu sistem Open Source ini berhasil digunakan akan banyak diperoleh nilai tambah bagi perusahaan dan para pengguna. Biaya belanja TIK yang ekonomis, stabilitas serta kinerja OSS yang baik dan tidak kalah kualitasnya di banding sistem proprietary.


Menarik menyimak komentar salah seorang top eksekutif IBM Indoensia bahwa Open Source selain faktor technical juga memerlukan perhatian yang khusus dari segi economical. Open Source System harus dimaintain terus dan versi yang diupdate sebagai bentuk penyempurnaan. Sehingga skala ekonomis Open Source System dapat tercapai, yang pada akhirnya betul-betul memberikan value yang optimal kepada para pengguna. Peran hubungan yang erat dan sinergis antara para pembuat software OSS – pemakai/perusahaan pengguna – pemerintah memegang peranan penting dalam mencapai skala ekonomis OSS. Pembuat OSS dapat menyediakan produk OSS yang sesuai dengan kebutuhan pengguna sehingga ada keseimbangan pemakaian produk OSS. Di satu sisi pemerintah sebagai regulator dapat menjaga iklim yang kondusif dengan memberikan insentif terkait pemakaian OSS. Tapi lepas dari itu juga hal lainnya yang tidak kalah penting adalah komitmen dari segenap para pengguna untuk memanfaatkan OSS agar dapat lebih produktif secara efisien.


Bagaimana dengan anda, tertarik untuk mulai Go Open Source ?.

Categories: Teknologi Tags: ,