Maka nikmat Rabb kamu yang manakah yang kamu dustakan ?


Pertemuan di hari minggu pagi dengan beberapa orang teman kuliah dulu ternyata memberikan suatu “pencerahan” tersendiri bagi saya. Mengingatkan terhadap sesuatu yang terkadang karena sudah dianggap biasa, hal tersebut adalah tidak pernah jadi bahan renungan kita. Hal itu adalah proses serta sistem dalam tubuh kita yang sempurna.

Saat lagi ngobrol santai sehabis jogging 5 km di lapangan sabuga seorang teman berkata, “apa yang menyebabkan kita bisa bernafas secara alami, tanpa harus memilah kadar oksigen yang terkandung dalam udara bebas ini”?..bagaikan ada tepukan pada kepala saya yang mengingatkan..Oh iya ya ….langsung teman saya yang lain menimpali dengan argumentasi yang logis-akademis dan penuh rasio.

Tapi lepas dari alasan ilmiahnya..ada satu hal essensi dasar dari pertanyaan itu..tubuh kita merupakan suatu sistem yang sempurna, system yang mampu menjaga kelangsungan hidup organ-organ tubuh kita sehingga dapat berfungsi optimal dan sempurna. Sama halnya seperti kedipan mata kita secara reflek tanpa harus berpikir, proses pencernaan dan metabolisme yang sempurna dan juga kekebalan tubuh manusia yang mengagumkan. Dan banyak fenomena-fenomena yang mengagumkan dalam tubuh kita sendiri yang kita sendiri tidak menyadarinya, atau karena sudah dianggap biasa maka kita menganggapnya biasa saja.

Jika kita cermati tubuh kita sendiri bagaikan suatu sistem yang kompleks dan sempurna. Efisiensi serta efektifitas sistem biologi yang sangat mengagumkan yang tidak bisa ditiru secara persis oleh teknologi yang dikenal manusia.

Sungguh Allah SWT telah memberikan pemeliharaan serta nikmat dalam setiap tarikan nafas, setiap kedipan mata dalam setiap detak jantung. Dan kenikmatan ini berlaku untuk semua manusia tidak memandang dia mukmin atau bukan. Disinilah makna dari sifat Maha Pengasih dari Allah SWT. Bisa dibayangkan jika jantung kita berhenti berdetak secara tiba-tiba ? atau mata tidak bisa berkedip?.

Maha besar nikmat dan kasih sayang yang Allah berikan kepada manusia. Cuma sayang kita terkadang suka lupa akan kenikmatan tersebut dan lupa mensyukurinya. Bisakah kita nilai nikmat kita bisa menghirup nafas dengan leluasa ? nikmat makan dan sistem pencernaan atau nikmat panca indera yang bisa “merasakan” dunia luar ?.

Begitu besar nikmat yang ada dalam diri kita, maka sudah sepantasnyalah kita bersyukur dan menjaganya. Bersyukur disini adalah mengoptimalkan diri kita untuk beribadah kepada Allah SWT. Sebagai wujud syukur kita yang paling nyata.

Berikutnya saya mendapatkan e-mail dari seorang sahabat yang sebagian isinya kutipan dari Al-Qur’an surat Ar-Rahman, kata yang diulang beberapa kali dalam surat tersebut yang Artinya “Maka nikmat Rabb kamu yang manakah yang kamu dustakan”?.

Sungguh banyak dan tidak terhitung nikmat yang diberikan-Nya kepada kita. Semoga kita tergolong hamba-Nya yang bersyukur. Amin

Wallhu’alam Bishawab

One thought on “Maka nikmat Rabb kamu yang manakah yang kamu dustakan ?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s