SDM dengan profil kemampuan T (T shape people)


Entah kenapa saya tertarik ingin menulis tentang topik ini. Mugkin terinspirasi dari presentasi oleh Chief Technology Officer (CTO) ditempat saya bekerja mengenai progress kedepan dari perusahaan.

Saya coba googling dengan kata kunci T shape people tidak banyak informasi yang diperoleh (atau kata kuncinya gak tepat mungkin ya ??).

Istilah “T shape people” pertama kali saya dengar saat diskusi santai dengan dosen pembimbing selepas sidang skripsi dijurusan…yang saya ingat saat itu Januari 2001 (wah sudah jadul), dari diskusi ringan yang menarik itu beliau menyinggung perlunya kita sebagai (katanya) kaum intelektual (baca: yang mendapatkan kesempatan lebih dalam pendidikan akademis) mampu membentuk karakter kemampuan, terutama kemampuan dengan “profil T“ (T shape). “Profil T“ menggambarkan kemampuan seseorang yang memiliki pengetahuan serta skill dalam bidang yang luas, walaupun tidak terlalu dalam (dianalogikan sebagai garis horizontal dalam huruf T). Akan tetapi juga memiliki keahlian dalam satu bidang tertentu (dianalogikan sebagai garis vertikal dalam huruf T).

 

Saat itu saya belum terlalu ngeh, maklum belum tahu keadaan dilapangan yang tidak seideal dunia kampus. Perlu diingat juga paradigma saat itu yang melekat pada kaum mahasiswa adalah mereka mutlak harus berkarier dalam bidang yang dipelajari di universitas.

 Setelah bekerja beberapa tahun serta mendapatkan pengalaman dalam dunia kerja ataupun lingkungan masyarakat, saya mulai paham maksud dari diskusi terdahulu  dengan dosen saya.  Di dunia kerja ataupun dalam kehidupan bermasyarakat kita tidak bisa terlalu kaku harus sesuai dengan bidang studi yang kita tekuni (walaupun mungkin idealnya seperti itu..but we don’t life in such a  perfect world, do we ? :p ). Kita mungkin sering menghadapi situasi-situasi ataupun tugas yang yang beririsan dengan bidang-bidang yang baru bagi kita. Disaat seperti itu kita harus memiliki daya adaptasi yang tinggi dan kemauan untuk belajar mengupgrade diri sesuai dengan kebutuhan.

 Bukan artinya tidak ada spesialisasi karena kelihatannya sangat sulit bagi kita  menjadi manusia serba bisa. Pasti akan ada bidang-bidang yang kita pilih dan tekuni sehingga akan muncul spesialisasi dalam suatu bidang. Tapi menurut pendapat saya, akan jauh lebih baik jika kita memiliki penguasaan dalam bidang yang lainnya walaupun mungkin tidak terlalu dalam, minimal kita memahami konsep dasar dan cukup trampil. Sebagai llustrasi misalkan :

 

·        seorang guru yang ahli dalam metoda mengajar, Quantum Teaching and Learning juga memahami psikolog murid  disertai dengan pemahaman agama yang baik, maka proses belajar mengajar akan lebih mengena. Akan ada transfer nilai dan pemahaman, tidak hanya menjejalkan teori-teori logika yang akan lupa begitu siswa keluar dari kelas.

 

·      seorang karyawan perusahaan bioteknologi yang memiliki keahlian dalam bidang biologi,  memahami manajemen organisasi, memiliki kemampuan menulis yang baik, menguasai bahasa asing dengan mumpuni, sehat secara fisik  serta menguasai  teknologi informasi, maka karyawan itu  akan memberikan kontribusi dan produktifitas yang lebih dalam tugasnya.

 

Saya yakin kita diciptakan oleh Allah SWT dengan berbagai kelebihan-kelebihan, yang mungkin belum kita sadari sepenuhnya. Akan lebih bijak jika kita memiliki cara pandang untuk senantiasa membuka diri terhadap hal-hal yang baru dan positif, mencoba mempelajarinya agar kita memiliki pemahaman yang luas (simbol garis horizontal huruf T). Dan tak lupa kita ”mengasah” bidang keahlian kita agar lebih tajam (simbol garis vertikal huruf T). Sebagai seorang mukmin ada tuntutan bagi diri kita semua untuk menjadi mukmin yang kuat. Kuat salah satunya memiliki kelebihan dalam banyak bidang, bukankah Allah SWT lebih mencintai mukmin yang kuat ?.

 

Kemauan dan ketertarikan akan hal yang baru, semangat belajar yang kuat, memiliki “passionate” untuk menghadapi tantangan adalah sikap mental yang akan memicu orang untuk memiliki kemampuam dengan profil T.

 

Mungkin ini hanya sekadar wacana, tapi tidak ada salahnya kita memiliki skill dan knowledge yang luas disertai dengan spesialisasi pada satu bidang tertentu. Maukah  kita menjadi orang dengan profil T ?

 

 Wallhu’alam bishawab.

 

7 thoughts on “SDM dengan profil kemampuan T (T shape people)

  1. SPESIALIS JUGA BUTUH PENGORBANAN

    Jadi inget kata-kata seorang konsultan dari Kanada yang bilang pada waktu malam saat anak-anaknya sudah tidur adalah saat bagi si konsultan untuk belajar. Dia membaca tulisan-tulisan, jurnal yang terkait dengan pekerjaan untuk memperdalam pengetahuan (jadi bacanya bukan di kantor yach :P).

    Butuh kemauan kuat dan pengorbanan besar untuk mengasah diri agar menjadi spesialis, (apalagi menjadi versatilis/multitalent)). Karena pada pekerjaan yang sudah ada SOP dan establish, si pekerjaan bisa berjalan normal walaupun pengetahuan kita pas-pasan.

    Membaca 1 novel terbaru Paulo Coelho mungkin butuh waktu lebih cepat daripada menerjemahkan 2-3 lembar jurnal yang terkait pekerjaan kita.

    Membaca buku-buku IT, dan manajemen jauh lebih menarik daripada baca jurnal “kimia organik”. Jadi yah butuh kerelaan untuk kerja keras dan “pendarahan” agar kita berdisiplin memperdalam pengetahuan terkait pekerjaan.

    Artinya kita harus memangkas waktu browsing, pangkas encarta, tunda ebook-ebook menarik, kurangi waktu baca buku-buku IT, simpan dulu buku tentang marketing, buku “how to”, laskar pelangi, alchemist dkk untuk baca jurnal-jurnal dan textbook. Tak seindah yang dibayangkan yach?.

  2. yap..semuanya memerlukan pengorbanan dan kerja keras, disinilah letak seninya😛, semuanya kembali terhadap disiplin waktu dan tekad yang kuat, tekad untuk menunda kesenangan sesaat untuk sesuatu hal yang “lebih besar”, satu hal lagi cara untuk menambah pemahaman dan ketrampilan sebetulnya tidak selalu dengan membaca buku, terlibat aktif dalam komunitas tertentu (mailing list, news group), aktifitas outdoor, ngobrol dengan tukang nasi goreng saat kita belanja akan menambah sudut pandang dan wawasan yang mungkin sebelumnya terlewat oleh kita…memerlukan proses dan waktu yang panjang untuk memiliki keahlian tertentu serta keilmuan yang luas dibanyak bidang, just keep persistence !

  3. Kebetulan hari Minggu saya sempat menyimak acara Kick Andy di MetroTV. Yang diwawancarai pada waktu itu adalah orang-orang tua (umur di atas 70 tahun) yang masih sangat aktif dalam berkarya dan kelihatan awet muda. Ada Rosihan Anwar, ada Bob Sadino, dan lain-lain.

    Secara garis besar mereka mengatakan beberapa hal yang sama:
    1. Selalu ikhlas alias menerima apapun yang Allah SWT berikan tanpa mengeluh
    2. Think positive
    3. Sama-sama menggeluti banyak bidang pada waktu muda, walaupun ada bidang utama yang mereka geluti
    4. Menyikapi hidup sebagai tantangan dan bukan beban

    Semoga menjadi inspirasi bagi kita. Amin.
    (sori kalo rada ga nyambung balesnya…hehehe)

  4. Nah kalo yang sekarang mungkin nyambung 

    Waktu saya kuliah, ada dosen yang bilang bahwa Tshape ini merupakan suatu pilihan apakah kita mau menjadi seorang specialist atau generalist. Tapi waktu itu saya debat karena menurut pendapat saya, manusia tidak bisa sebegitu mudahnya digolongkan seperti itu.

    Begitu pula dengan rekan sesama mahasiswa, banyak yang bilang bahwa ‘anak teknik’ tidak akan mengerti hukum, banyak juga yang bilang bahwa mahasiswa kedokteran itu merupakan anak-anak pilihan sedangkan mahasiswa MIPA adalah anak-anak yang tidak mampu mengambil kuliah kedokteran. Saya justru sering berargumen mengenai hal ini. Meminjam lirik dari lagu If – The Bread “if a man could be at two places at one time..” tentunya setiap manusia bisa mendalami 2 atau lebih bidang keilmuan, hanya waktu dan kesempatan saja yang membedakan satu orang dengan lainnya mendalami hal yang berbeda pula.

    Pada dasarnya manusia diciptakan sebagai mahluk yang serba bisa dan selalu belajar banyak hal. Kalaupun ada istilah specialist, sebenarnya karena individu itu meluangkan sebagian besar waktunya di satu bidang. Akan tetapi jika orang itu diharuskan (menjadi satu keharusan) untuk pindah ke bidang lain niscaya dia akan bisa melakukannya, namun memang waktu yang menentukan…bisa jadi secara singkat langsung dikuasainya, bisa jadi perlu waktu lama.

    Saya pikir, yang sekarang perlu disikapi justru bagaimana orang tersebut melakukan adaptasi terhadap pekerjaan yang sekarang dilakukan. Menurut saya ada tiga hal:
    1. Waktu belajar dan adaptasi harus diperhitungkan agar bidang baru bisa dikuasai dalam waktu yang relatif singkat
    2. Perlu suatu usaha dengan istilah “totalitas”
    3. Selalu siap mendengarkan ide, wawasan dan pengalaman orang lain yang sudah mahir di bidang ini

    Nah loh, Pak Wage, saya jadi terpikir untuk bikin artikel tentang “belajar itu kebebasan”. Intinya, untuk mengerti suatau bidang tidak harus terjun mempelajari bidang itu secara institusional. Misal, untuk memahami teknik permesinan tidaklah harus kuliah di fakultas teknik mesin, tapi cukup belajar sendiri, sedangkan gelar itu hanyalah untuk identitas status di masyarakat yang menunjukkan bahwa seseorang sudah mendalami satu bidang tertentu dan dianggap mampu. Bener tidak ya?

  5. Buat Piko : wah bagus..komplit sekali komentarnya🙂, saya jadi dapat banyak masukan dan ide lainnya..setuju, it’s matter of choice and will, yang paling utama kita jangan terlalu membatasi, walaupun kita manusia memiliki keterbatasan tapi juga memiliki potensi besar untuk berkembang…ditunggu tulisan-tulisannya lagi Piko…Keep on write to share Ur ideas

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s