Pengembangan energi alternatif, suatu proyek bangsa


Naiknya harga BBM di Indonesia Mei 2008 memicu ekses dibanyak bidang, mulai bidang ekonomi dan sosial. Sangat terlihat jelas begitu besar angka ketergantungan masyarakat terhadap BBM. Mulai dari kegiatan industri sampai aktifitas rumah tangga tidak bisa dilepaskan dari proses konsumsi BBM. Bahkan proses untuk menghasilkan energi seperti pembangkit listrik juga membutuhkan BBM. Sehingga saat pasokan BBM kurang lancar langsung memberikan dampak terhadap kapasitas daya listrik yang dihasilkan.

Fenomena ketergantungan terhadap bahan bakar minyak bumi merupakan fenomena global. Sekilas melihat tayangan “Addicted to Oil” sebuah film dokumenter mengenai tingkat konsumsi bahan bakar minyak (dan juga gas), dapat tergambar jelas angka ketergantungan aktifitas umat manusia terhadap minyak bumi dan gas alam, yang begitu besar.

Upaya-upaya untuk mulai ”melepaskan” diri dari ketergantungan tersebut sebetulnya sudah diupayakan oleh berbagai negara dibelahan bumi ini, terutama di negara-negara maju. Di Indonesia sendiri sayangnya terlihat kurang greget dalam menggali dan mengembangkan sumber-sumber energi alternatif, kemajuan pengembangan yang terlihat ramai adalah saat pengembangan bio diesel dari minyak jarak. Sayangnya sampai tahun 2008 belum terdengar lagi kabar perkembangannya.

Saya bukan seorang ahli energi, tapi berdasarkan logika sederhana saja kita bisa menilai ketergantungan yang sangat tinggi terhadap sumber energi fosil yang tidak dapat diperbaharui, merupakan suatu hal yang kurang bijak. Terutama untuk jangkan panjang. Ada dua hal isu utama terkait dengan ketergantungan tersebut. Yang pertama adalah isu pemanasan global, konsumsi bahan bakar dari minyak bumi, batu akan meningkatkan kadar emisi gas CO2 yang selanjutnya akan memicu peningkatan suhu bumi secara global. Isu yang kedua adalah ketersediaan sumber energi fosil yang terbatas jumlahnya, jika saatnya habis dan belum ada sumber energi pengganti dapat dibayangkan terhadap gerak laju kehidupan bermasyarakat yang akan ”lumpuh” karena tidak ada sumber energi yang cukup. Memang bukan suatu hal yang mudah untuk dapat menggali dan mengembangkan sumber-sumber energi alternatif sampai akhirnya dapat digunakan secara meluas. Pasti membutuhkan investasi biaya, teknologi, kerja keras dari berbagai pihak. Masalah pengembangan sumber-sumber energi alternatif di Indonesia hendaknya merupakan pe-er bagi semua elemen bangsa, mulai dari masyarakat umum, lembaga-lembaga penelitian serta akademis dan pemerintah sebagai penentu kebijakan umum.

Yang diperlukan sekarang adalah iklim yang kondusif untuk memacu pengembangan sumber-sumber energi tersebut. Pemerintah bekerjasama dengan institusi penelitian dan akademis bersinergi untuk proses eksplorasi sumber energi alternatif. Tentunya dengan melibatkan partisipasi masyarakat umum, mengingat ide-ide, gagasan tidak selalu muncul dari institusi formal tapi bisa juga dari kalangan masyarakat umum. Disinilah peran penting pemerintah untuk ”merangkul” dan mensinergikan semua potensi yang ada. Bahkan jika perlu pemerintah dapat memberikan insentif-insentif bagi masyarakat umum, kalangan akademisi dan peneliti serta industri untuk dapat berkolaborasi meningkatkan pengembangan sumber-sumber energi baru. Beberapa waktu yang lalu pernah saya lihat tayangan di TV mengenai penemuan-penemuan inovatif dari masyarakat untuk berswadaya mengembangkan sumber energi alternatif. Yang saya ingat adalah biogas dari kotoran ternak, biogas yang di”larutkan” dalam larutan sebagai pengganti bensin serta bioetanol. Sehingga dari contoh tersebut Indonesia memiliki sumber daya manusia yang berpotensi untuk mengembangkan sumber energi alternatif lain.

Mungkin kita bisa belajar banyak dari Jerman yang terlihat cukup progressif dalam mengembangkan sumber energi alternatif. Dengan latar belakang penguasaan teknologi yang aplikatif disertai sinergi yang baik antara pemerintah, industri dan institusi penelitian menjadikan Jerman sebagai negara dengan progress terbaik untuk pengembangan energi alternatif. Sumber energi dari angin, bio diesel serta sumber energi dari matahari mulai diterapkan sebagai alternatif energi yang ramah lingkungan di Jerman.

Secara teoritis di Indonesia cukup banyak sumber-sumber energi alternatif yang sudah dikenal untuk dapat dikembangkan secara luas. Sumber-sumber energi tersebut mencakup sumber energi yang dapat diperbaharui dan tidak dapat diperbaharui, ”energi hijau” yang relatif lebih ramah lingkungan serta energi konvensional yang relatif ”kurang bersahabat” dengan alam. Sumber-sumber energi tersebut meliputi :

  • Sumber daya sinar matahari, Indonesia sebagai kawasan tropis dengan dua musim memiliki potensi sumber daya ini, kekurangannya panel-panel surya yang sudah dikenal masih belum ekonomis, diperlukan teknologi baru yang bisa mereduksi harga produksi sehingga bisa diaplikasikan oleh masyarakat luas.

  • Sumber energi angin, potensi angin diindonesia cukup besar mengingat gugusan pantai atau daerah pegunungan yang berpotensi untuk dijadikan sebagai basis-basis penangkap angin. Teknologi kincir angin masih mahal, diperlukan investasi besar dibidang teknologi.

  • Biofuel (Bio Diesel, Bio Ethanol), sumber energi bahan bakar berbasiskan tanaman melaui proses kimia. Minyak biji jarak, bio etanol dari tape singkong merupakan salah satu kandidat BioFuel. Potensi di Indonesia cukup besar mengingat tedapat keanekaragaman hayati untuk dikembangkan dan lahan budidaya yang luas. Diperlukan kebijkan dari top goverment untuk dapat mengembangkannya. Isu ramah lingkungan menjadikan sumber energi ini layak untuk dikembangkan lebih intens.

  • Biogas, memiliki potensi ekonomis untuk dapat dikembangkan secara meluas. Dapat dikembangkan dari kotoran ternak yang diproses sehingga bisa menghasilkan bahan bakar gas yang murah.

  • Fuel Cell (Sel bahan bakar), memiliki potensi aplikasi yang besar sebagai sumber energi alternatif yang bersih dan portable untuk sarana-sarana transportasi.

Bangsa ini masih menunggu peran serta aktif semua elemen bangsa dalam memecahkan masalah energi. Semoga kedepannya bangsa ini bisa memiliki prestasi bahkan menjadi pemimpin dalam bidang pengembangan energi-energi alternatif, demi kesejahteraan umat. Semoga !

6 thoughts on “Pengembangan energi alternatif, suatu proyek bangsa

  1. among the choices, I prefer bioenergy. However we must avoid “foods” like cassava, rice and corn as raw material for bioenergy as far as possible. Because consuming foods for energy, may be end with skyrocketting of price of the foods and create starvation among the poor.

    I suggest microbe-base bionergy, like algae-fuel as main source of our bioenergy. Microalgae has many advantages than plant-base bioenergy:

    Microalgae have much faster growth-rates than terrestrial crops. The per unit area yield of oil from algae is estimated to be from between 5,000 to 20,000 gallons per acre, per year (4.6 to 18.4 l/m2 per year); this is 7 to 30 times greater than the next best crop, Chinese tallow (699 gallons).[14]
    Algae can also grow on marginal lands, such as in desert areas where the groundwater is saline.[15]
    (source: wikipedia )

    I think our nation have many excellent microbiologists (like 9o99y ^^) to develop cheap-efficient technology of mass production of microbe-base bioenergy.

    Well done mr. wage, you generated nice article ^^.

  2. Baca judulnya “suatu proyek bangsa”. Jd mikir soal istilah bangsa. Mengapa wage menyebutnya proyek “bangsa”?.
    Mengapa harus pake istilah “bangsa” bukan umat manusia?
    Apa bedanya dengan sekumpulan “suku”?
    Bagaimana dengan orang-orang melayu di negeri tetangga, apakah mereka juga termasuk dalam “suatu proyek bangsa” itu?

    dijawab yah…^_^

  3. Indonesia merupakan sebuah negara yang sangat kaya, dari mulai kekayaan alam (natural resources) hingga kekayaan geografis.

    Nah, sebenarnya negeri kita ini bisa saja tidak kekurangan energi asal Pemerintah benar-benar menggalakkan usaha-usaha pencarian energi alternatif ini.

    Ketika saya baca di majalah Tempo kemarin, sebenarnya banyak loh warga yang sudah bisa membuat energi alternatif pengganti BBM…hanya saja Pemerintah nampaknya masih belum memprioritaskan hal ini untuk diinstutisionalkan.

    Belum lagi yang Mas Wage kemukakan di atas, wilayah seperti kepulauan Timor sangat cocok untuk menggunakan energi tenaga angin, sedangkan di wilayah pulau Jawa sepertinya cocok untuk digunakan Biogas. Mungkin di Kalimantan bisa diujicoba panel surya.

  4. Saya Danan, 29 Th,
    saya seorang pengusaha muda (UKM)
    Jauh sebelum orang meributkan efisiensi energi dan energi alternatif, kami sudah melakukan penelitian selama 6 Tahun terakhir tentang tungku sekam, dan baru kami jual secara masal setelah saya memutuskan untuk usaha sendiri 2 tahun yang lalu.

    modal awal kami 1,5 jt waktu itu, Alhamdulillah setelah mulai lancar kami berhasil menjual 23 unit tersebar dari Banyuwangi hingga Tegal.

    hari ini saya membaca berita dari liputan enam (14 oktober 2008) tentang kayu sebagai bahan bakar alternatif ungulan, saya antara antara mendukung dan menolak pendapat ini. Mendukung karena mungkin menciptakan lapangan kerja baru, menolak karena sebetulnya ada yang lain selain kayu yang juga ungulan yang mungkin tidk merusak ekosistem alam akibat penebangan kayu yang berlebihan. bahan bakar dari produk yang kami buat adalah dari sekam, serbuk kayu, tempurung kelapa, ampas tebu, serabut kelapa, jerami kering bahkan daun kering. coba dibandingkan, lebih baik mana dibandingkan dengan kayu.

    saya pikir didepan mata kita sudah tersedia sumber energi terbaharui dengan sangat murah, cuman mungkin orang indonesia saja yang kurang mau tahu. di desa tempat saya tinggal para penduduk mulai kami pengaruhi sedikit demi sedikit untuk meninggalkan elpiji dan beralih ke tungku sekam rumah tangga buatan kami. pertimbangannya simple, karena faktor kebisaan dan perasaan kalo elpiji naik lagi gimana, sedangkan sekam, jerami dam serbuk kayu melimpah didesa kami. kalo dikota mungkin teknologi ini belum bisa diterima. Yang dikawatirkan selama ini kalo timbul polusi asap dari pembakaran, kami sudah bisa atasi, artinya bebas polusi asap.

    cuma, kami hanya sebuah UKM dengan masalah klise.
    Mohon Kami diberikan Informasi tentang program
    yang berkaitan dengan Tungku sekam yang kami produksi

    Bagaimana caranya untuk menjalin kerjasama agar produk kami dapat dinikmati lebih luas oleh semua masyarakat

    untuk informasi keseriuasan kami bisa diperoleh dari
    http://www.santosorising.com

    Kami bersedia memberikan informasi tambahan yang mungkin diperlukan

    Terimakasih

    Danan Eko Cahyono, ST

  5. Wah terimakasih Pak sharing pengalamannya dan perjuangan untuk mensosialisasikan ide energinya. Terkadang dari sesuatu hal yang sederhana dapat memberikan solusi yang tidak kita sangka-sangka. Link web-nya akan saya coba sebar ke temen-temen yang lain mungkin ada informasi atau hal-hal yang bisa disharing untuk mendukung tungku sekam🙂 salam sukses

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s