Kisah “Lelaki Langit”


Kisah ini saya dapatkan dari sebuah e-mail tanpa dicantumkan siapa penulis awalnya…berhubung kisahnya bagus (menurut saya), jadi ingin upload di blog…bagi yang membaca semoga ada hikmahnya.

 

Semoga kita bisa diberikan kerelaan untuk berkorban dan mencintai Allah SWT seperti yang dilakukan sahabat Zulebid.

 

Di kota Madinah, tinggallah seorang pemuda bernama

 

Zulebid . Dikenal sebagai pemuda yang baik di kalangan

 

para sahabat. Juga dalam hal ibadahnya termasuk orang

 

yang rajin dan taat. Dari sudut ekonomi dan finansial,

 

ia pun tergolong berkecukupan. Sebagai seorang yang

 

telah dianggap mampu, ia hendak melaksanakan sunnah

 

Rasul yaitu menikah. Beberapa kali ia meminang gadis

 

di kota itu, namun selalu ditolak oleh pihak orang tua

 

ataupun sang gadis dengan berbagai alasan.

 

 

 

Akhirnya pada suatu pagi, ia menumpahkan kegalauan

 

tersebut kepada sahabat yang dekat dengan Rasulullah .

 

“Coba engkau temui langsung Baginda Nabi , semoga

 

engkau mendapatkan jalan keluar yang terbaik bagimu”,

 

nasihat mereka.

 

 

 

Zulebid kemudian mengutarakan isi hatinya kepada

 

Baginda Nabi . Sambil tersenyum beliau berkata:

 

“Maukah engkau saya nikahkan dengan putri si Fulan?”

 

 

“Seandainya itu adalah saran darimu, saya terima. Ya

 

Rasulullah , putri si Fulan itu terkenal akan

 

kecantikan dan kesholihannya, dan hingga kini ayahnya

 

selalu menolak lamaran dari siapapun.

 

 

 

“Katakanlah aku yang mengutusmu”, sahut Baginda Nabi .

 

 

 

“Baiklah ya Rasul”, dan Zulebid segera bergegas

 

bersiap dan pergi ke rumah si Fulan.

 

 

 

Sesampai di rumah Fulan, Zulebid disambut sendiri oleh

 

Fulan

 

“Ada keperluan apakah hingga saudara datang ke rumah

 

saya?” Tanya Fulan.

 

” Rasulullah SAW yang mengutus saya ke sini, saya

 

hendak meminang putrimu si A.” Jawab Zulebid sedikit

 

gugup.

 

 

 

“Wahai anak muda, tunggulah sebentar, akan saya

 

tanyakan dulu kepada putriku.”

 

Fulan menemui putrinya dan bertanya, “bagaimana

 

pendapatmu wahai putriku?”

 

Jawab putrinya, “Ayah, jika memang ia datang karena

 

diutus oleh Rasulullah SAW , maka terimalah

 

lamarannya, dan aku akan ikhlas menjadi istrinya.”

 

 

 

Akhirnya pagi itu juga, pernikahan diselenggarakan

 

dengan sederhana. Zulebid kemudian memboyong istrinya

 

ke rumahnya.

 

Sambil memandangi wajah istrinya, ia berkata,” duhai

 

Anda yang di wajahnya terlukiskan kecantikan bidadari,

 

apakah ini yang engkau idamkan selama ini? Bahagiakah

 

engkau dengan memilihku menjadi suamimu?”

 

Jawab istrinya, ” Engkau adalah lelaki pilihan

 

Rasululloh yang datang meminangku. Tentu Allah telah

 

menakdirkan yang terbaik darimu untukku. Tak ada

 

kebahagiaan selain menanti tibanya malam yang

 

dinantikan para pengantin.”

 

 

 

Zulebid tersenyum. Dipandanginya wajah indah itu

 

ketika kemudian terdengar pintu rumah diketuk. Segera

 

ia bangkit dan membuka pintu. Seorang laki-laki

 

mengabarkan bahwa ada panggilan untuk berkumpul di

 

masjid, panggilan berjihad dalam perang.

 

 

 

Zulebid masuk kembali ke rumah dan menemui istrinya.

 

“Duhai istriku yang senyumannya menancap hingga ke

 

relung batinku, demikian besar tumbuhnya cintaku

 

kepadamu, namun panggilan Allah untuk berjihad

 

melebihi semua kecintaanku itu. Aku mohon keridhoanmu

 

sebelum keberangkatanku ke medan perang.

 

Kiranya Allah mengetahui semua arah jalan hidup kita

 

ini.”

 

 

 

Istrinya menyahut, “Pergilah suamiku, betapa besar

 

pula bertumbuhnya kecintaanku kepadamu, namun hak Yang

 

Maha Adil lebih besar kepemilikannya terhadapmu. Doa

 

dan ridhoku menyertaimu”

 

 

 

***

 

Zulebid lalu bersiap dan bergabung bersama tentara

 

muslim menuju ke medan perang. Gagah berani ia

 

mengayunkan pedangnya, berkelebat dan berdesing hingga

 

beberapa orang musuh pun tewas ditangannya. Ia

 

bertarung merangsek terus maju sambil senantiasa

 

mengumandangkan kalimat Tauhid…ketika sebuah anak

 

panah dari arah depan tak sempat dihindarinya.

 

Menancap tepat di dadanya. Zulebid terjatuh, berusaha

 

menghindari anak panah lainnya yang berseliweran di

 

udara. Ia merasa dadanya mulai sesak, nafasnya tak

 

beraturan, pedangnya pun mulai terkulai terlepas dari

 

tangannya. Sambil bersandar di antara tumpukan korban,

 

ia merasa panggilan Allah sudah begitu dekat.

 

Terbayang wajah kedua orangtuanya yang begitu

 

dikasihinya. Teringat akan masa kecilnya bersama-sama

 

saudaranya. Berlari-larian bersama teman

 

sepermainannya. Berganti bayangan wajah Rasulullah

 

yang begitu dihormati, dijunjung dan dikaguminya.

 

Hingga akhirnya bayangan rupawan istrinya. Istrinya

 

yang baru dinikahinya pagi tadi. Senyum yang begitu

 

manis menyertainya tatkala ia berpamitan. Wajah cantik

 

itu demikian sejuk memandangnya sambil mendoakannya.

 

Detik demi detik, syahadat pun terucapkan dari bibir

 

Zulebid . Perlahan-lahan matanya mulai memejam, senyum

 

menghiasinya. … Zulebid pergi menghadap Ilahi, gugur

 

sebagai syuhada.

 

 

 

***

 

Senja datang,

 

Angin mendesau, sepi…

 

Pasir-pasir beterbangan. ..

 

Berputar-putar. ..

 

 

 

Rasulullah dan para sahabat mengumpulkan syuhada yang

 

gugur dalam perang. Di antara para mujahid tersebut

 

terdapatlah tubuh Zulebid yang tengah bersandar di

 

tumpukan mayat musuh. Akhirnya dikuburkanlah jenazah

 

zulebid di suatu tempat. Berdampingan dengan para

 

syuhada yang lain.

 

Tanpa dimandikan.. .

 

Tanpa dikafankan.. .

 

 

 

Tanah terakhir ditutupkan ke atas makam Zulebid .

 

Rasulullah terpekur di samping pusara tersebut.

 

Para sahabat terdiam membisu.

 

Sejenak kemudian terdengar suara Rasulullah seperti

 

menahan isak tangis. Air mata berlinang dari pelupuk

 

mata beliau

 

Lalu beberapa waktu kemudian beliau seolah-olah

 

menengadah ke atas sambil tersenyum. Wajah beliau

 

berubah menjadi cerah.

 

Belum hilang keheranan shahabat, tiba-tiba Rasulullah

 

menolehkan pandangannya ke samping seraya menutupkan

 

tangan menghalangi arah pandangan mata beliau.

 

 

 

Akhirnya keadaan kembali seperti semula.

 

Para shahabat lalu bertanya-tanya, ada apa dengan

 

Rasulullah .

 

“Wahai Rasulullah , mengapa di pusara Zulebid engkau

 

menangis?”

 

Jawab Rasul , “Aku menangis karena mengingat Zulebid .

 

Oo.. Zulebid , pagi tadi engaku datang kepadaku minta

 

restuku untuk menikah dan engkau pun menikah hari ini

 

juga. Ini hari bahagia. Seharusnya saat ini Engkau

 

sedang menantikan malam Zafaf, malam yang ditunggu

 

oleh para pengantin.”

 

 

 

“Lalu mengapa kemudian Engkau menengadah dan

 

tersenyum?” Tanya sahabat lagi.

 

” Aku menengadah karena kulihat beberapa bidadari

 

turun dari langit dan udara menjadi wangi semerbak dan

 

aku tersenyum karena mereka datang hendak menjemput

 

Zulebid,” Jawab Rasulullah .

 

 

 

“Dan lalu mengapa kemudian Engkau memalingkan

 

pandanganMu dan menoleh ke samping?” Tanya mereka

 

lagi. “Aku mengalihkan pandangan menghindar karena

 

sebelumnya kulihat, saking banyaknya bidadari yang

 

menjemput Zulebid , beberapa diantaranya berebut

 

memegangi tangan dan kaki Zulebid . Hingga dari salah

 

satu gaun dari bidadari tersebut ada yang sedikit

 

tersingkap betisnya…. ”

 

 

 

Di rumah, istri Zulebid menanti sang suami yang tak

 

kunjung kembali. Ketika terdengar kabar suaminya telah

 

menghadap sang ILLAHI ROBBI, Pencipta segala Maha

 

Karya.

 

 

 

Malam menjelang…

 

Terlelap ia, sejenak berada dalam keadaan setengah

 

mimpi dan dan nyata.

 

Lambat-lambat ia seperti melihat Zulebid datang dari

 

kejauhan. Tersenyum, namun wajahnya menyiratkan

 

kesedihan pula.

 

Terdengar Zulebid berkata, “Istriku, aku baik-baik

 

saja. Aku menunggumu disini. Engkaulah bidadari

 

sejatiku. Semua bidadari disini pabila aku menyebut

 

namamu akan menggumamkan cemburu padamu…. ”

 

Dan kan kubiarkan engkau yang tercantik di hatiku.

 

 

 

Istri Zulebid , terdiam.

 

Matanya basah…

 

Ada sesuatu yang menggenang disana..

 

Seperti tak lepas ia mengingat acara pernikahan tadi

 

pagi..

 

Dan bayangan suaminya yang baru saja hadir..

 

Ia menggerakkan bibirnya..

 

“Suamiku, aku mencintaimu. ..

 

Dan dengan semua ketentuan Allah ini bagi kita..

 

Aku ikhlas….

 

 

 

kami adalah petualang pencari kebenaran, pencari makna serta hakikat manusia

 

kami berjuang menegakkan kehormatan, hidup mulia atau mati sebagai SYUHADA

Wallahu’alam Bishawab.

 

 

 

 

 

 

 

 

7 thoughts on “Kisah “Lelaki Langit”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s