From single guy to a family man


akhirnya ku menemukanmu
saat hati ini mulai meragu
akhirnya ku menemukanmu
saat raga ini ingin berlabuh
ku berharap engkau lah
jawaban sgala risau hatiku
dan biarkan diriku
mencintaimu hingga ujung usiaku

…………….
Naff : Akhirnya Ku Menemukanmu

Dua minggu kebelakang sakit agak “berat” jadi harus mengistirahatkan diri dirumah ..jadinya hari senin gak masuk kerja (tetep he2 ) dan harus berpisah sementara dengan aktifitas “ngeblog”. Saat baringan dirumah, bed rest jadi kilas balik 4 tahun kebelakang saat masih single. Biasanya kalau sakit begini biasanya merawat diri sendiri, menyiapkan obat sendiri, menyiapkan makanan sendiri pokoknya segalanya dilakukan sendiri…sekarang ? Alhamdulillah ada seorang sahabat sejati yang setia menemani terutama di saat-saat duka (je t’aime Ma Cherie). Ditambah lagi ada kehadiran si kecil Syamil…”qurotta ayyun” penyejuk pandangan mata yang turut menyemarakkan isi rumah.

He2 pernah suatu malam si kecil saat saya sakit, ikut membantu mengompress demam saya dengan handuk kecil, tapi sang perawat kecil ”lupa” memeras handuknya, jadinya byuurrr…..muka dan baju saya basah kuyup, Jazakallah Syamil🙂.

Subhanallah..di saat-saat seperti itu kenikmatan ber keluarga sangat terasa, bisa berbagi, saling menguatkan, saling menyayangi…No body wants to be lonely isn’t ?. Walaupun dalam perjalanan berkeluarga tidak hanya suka yang ada tapi juga pasti akan banyak ujian dan tantangan, suatu paket lengkap untuk mendewasakan masing-masing pasangan.


Mengambil keputusan menikah bukan hanya sebatas untuk memenuhi kebutuhan individu akan perlunya pasangan lawan jenis. Ada nilai dan visi yang lebih jauh yang diajarkan oleh islam, yaitu meneruskan generasi baru yang beriman kepada Allah SWT disamping tentunya untuk menjaga kehormatan dan menggenapkan dien kita dihadapanNya. Pengalaman selama hampir 4 tahun usia pernikahan (usia yang masih muda) banyak hikmah dan pembelajaran yang di dapatkan, sangat jauh berbeda waktu masih single.

Yang saya rasakan kehidupan paska pernikahan menuntut untuk lebih baik lagi dari berbagai hal. Terutama dengan peranan sebagai suami. Amanah saya sebagai pemimpin sekarang lebih berat lagi. Dulu cuma berpikir hanya untuk diri sendiri..sekarang ada orang-orang tercinta yang menjadi tanggung jawab untuk dipimpin. Seorang pemimpin dalam rumah tangga, pemegang kendali akan dibawa kemana arah keluarganya. Tapi saya yakin bahwa membina keluarga sesuai dengan tuntunanNya merupakan suatu proses dan dengan niat ibadah Insya Allah akan diberikan kemudahan. Tanggung jawab yang besar dalam membina keluarga agar betul-betul mendapatkan ridha Allah SWT menjadikan amanah berkeluarga merupakan separuh Dien. Karena setiap amal shalih membutuhkan ilmu maka dalam bertransformasi menjadi a Family Man, agar berhasil kita memerlukan bekal ilmu yang cukup.

Hem jadi pesan moralnya apa ? …berkeluarga merupakan suatu kenikmatan dari Allah SWT (dalam Al-Qur’an disebutkan salah satu kebesaran Allah SWT adalah dengan diciptakanNya pasangan untuk kita agar kita merasa tentram) dan juga merupakan amanah yang tentunya akan diminta pertanggung jawaban. Jadi brother n sister…kita harus jaga baik-baik amanah ini. Dengan berusaha menjaga agar keluarga yang kita bina tetap berada dalam aturanNya.

Sebetulnya tulisan ini juga terinspirasi oleh beberapa orang sahabat yang baru-baru ini sudah memasuki gerbang pernikahan dan ada yang baru mau akan. Untuk yang belum ? ….bersabarlah everything will come in the right time.

2 thoughts on “From single guy to a family man

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s