Dia bernama Abu Dzar Al-Ghifar



Sahabat Abu Dzar Al-Ghifar r.a merupakan salah satu potret sosok yang penuh kesederhanaan dan ketegasan untuk menegakkan kebenaran. Abu Dzar tergolong sahabat Rasulullah SAW generasi pertama yang memeluk agama Islam. Beliau termasuk orang yang kelima atau keenam masuk Islam. Sehingga beliau tergolong generasi pertama orang-orang beriman yang memperjuangkan Islam di Mekah.

Bermula dari berita tentang kabar adanya seorang Nabi baru di Mekkah, Abu Dzar yang merupakan suku Ghifar bergegas menuju Mekah menempuh perjalanan yang sangat panjang, menembus panasnya gurun pasir arab yang tandus. Suku Ghifar disebutkan sebagai suku di arab yang memiliki kemampuan mengagumkan dalam menempuh jarak yang sangat panjang.

Hidayah dari Allah SWT menghantarkannya untuk menerima Islam dengan penuh tekad yang kuat. Sinar islam telah menerangi hati tokoh Suku Ghifar ini. Sungguh Allah SWT memberikan petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya.

Ketika ia masuk Islam, Rasulullah SAW masih melakukan dakwah secara sembunyi-sembunyi. Rasulullah SAW berpesan kepada Abu Dzar untuk kembali kepada kaumnya. Tetapi Abu Dzar yang bernama asli Jundub bin Janadah memiliki karakter yang kuat dalam menentang kebatilan secara terang-terangan. Segera Abu Dzar pergi menuju Masjidil Haram, ke hadapan khalayak ramai yang sedang berkumpul. Abu Dzar segera menyerukan dengan lantang ” Ashadu alla ilaha ilallah, wa asyhadu anna Muhamadar rasulullah”…teriakan itu mencerminkan teriakan menentang kesombongan orang musyrikin Quraisy. Bagaikan petir disiang hari kaum musyrikin Quraisy terkejut lalu segera mengepung Abu Dzar serta mengeroyoknya beramai-ramai hingga beliau jatuh dan pingsan. Oleh paman Rasulullah SAW, Abu Abbas, Abu Dzar dilepaskan dari penganiayaan orang-orang Quraisy. Hari berikutnya Abu Dzar melakukan hal yang serupa, ditentangnya berhala-berhala dengan lantang, tanpa terperi takut sedikitpun. Sungguh Abu Dzar tak gentar mengumandangkan kebenaran yang telah diterimanya. Selanjutnya nasib Abu Dzar menjadi bulan-bulanan kaum Quraisy yang sedang berkumpul. Dengan pertimbangan Abu Dzar adalah suku Ghifar yang tempat kekuasaannya sering dilewati jalur perdagangan suku Quraisy, maka penganiayaan Abu Dzar dihentikan.

Oleh Rasulullah SAW Abu Dzar diperintahkan kembali untuk pulang ke kaumnya guna menyampaikan kebenaran yang telah diterimanya. Sampai saat jika Islam lahir secara terang-terangan ia dapat turut serta mengambil bagian dalam percaturan didalamnya. Abu Dzar kembali untuk menyampaikan Risalah Islam kepada kaumnya, menyeru untuk beribadah kepada Allah Yang Maha Esa, membimbing kaumnya untuk berahlak mulia sesuai tuntunan syariah Islam. Atas ijin Allah SWT seruan Abu Dzar diterima dengan baik oleh kaumnya jadilah kaum Ghifar memeluk Islam bahkan suku tetangganya Suku Aslam turut memeluk Islam juga.

Seluruh hidup Abu Dzar Al-Ghifar diisi dengan perjuangan dalam membela Islam, Jihad Fisabilillah. Baik dengan fisik ataupun dengan lisan. Abu Dzar terkenal dengan kekritisan dan keberanian untuk amar makruf nahi munkar. Beliau melewati masa kepemimpinan Rasulullah SAW, Khalifah Abu Bakar Ash-Sidieq r.a, Umar bin Khattab r.a dan beliau wafat saat kepemimpinanUsman Bin Affan r.a. Abu Dzar Al-Ghifar terkenal dengan kekuatan karakter serta keteguhan keimanannya. Ada peristiwa yang sangat memberikan inspirasi bagi saya mengenai sahabat Rasulullah yang mulia ini.

Pertama saat peperangan Tabuk; peperangan dimana kaum muslimin bergerak kedaerah Syam menyongsong kekuatan Kekaisaran Romawi. Peperangan tabuk itu sendiri dilakukan saat musim panas yang sangat terik didaerah padang pasir jazirah Arab. Banyak diantara kaum muslimin yang menghindar bahkan saat perjalanan menuju tabuk ada yang kembali ke Madinah. Abu Dzar dengan mengendarai keledai turut serta dalam rombongan pasukan kaum muslimin ini. Tapi ternyata karena hewan kendaraannya telah lelah Abu dzar makin tertinggal jauh dibelakang dalam rombongan pasukan. Akhirnya dengan keteguhan iman yang telah terasah semua perlengkapan perang beliau angkut sendiri dan bergerak menyusul rombongan muslimin. Beliau berjalan kaki dibawah panas terik padang pasir yang membakar untuk mengejar rombongan pasukan tabuk….Subhanallah suatu karakter keimanan yang kuat penuh dengan semangat ber-mujahadah (bersungguh-sungguh). Akhirnya beliau mampu menyusul rombongan pada esok paginya. Rasulullah SAW yang mulia tersenyum melihat kedatangan Abu Dzar dan bersabda ; “Semoga Allah melimpahkan rahmat-Nya kepada Abu Dzar…..Ia berjalan sebatang kara, meninggal sebatang kara dan dibangkitkan nanti sebatang kara”.

Tahun demi tahun berlalu melewati beberapa masa kepemimpinan Khalifah Khulaufurasyidin, Abu Bakar Ash Shidieq r.a, Umar bin Khattab r.a. Pada masa kekhalifahan Usman bin Affan r.a fitnah mulai menggoncang para penguasa, sikap dan kecenderungan untuk menimbun harta banyak dilakukan oleh para gubernur saat itu termasuk Muawiyah bin Abu Sofyan. Abu Dzar merasa berkewajiban untuk meluruskan penyelewengan amanah kepemimpinan tersebut. Beliau berkeliling mengingatkan akan kehati-hatian serta kezuhudan yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW dan Al-Qur’an. Alhasil pergerakan beliau membuat para penguasa yang korup menjadi tidak nyaman dan terusik. Walaupun terkenaal tegas dan keras sekalipun Abu Dzar tidak pernah sekalipun mengobarkan pemberontakan terhadap Khalifah saat itu, yang beliau gaungkan adalah kritikan sosial yang membangun. Saat bersama Rasulullah SAW, Abu Dzar pernah mendapatkan wasiat untuk bersabar dan jangan menumpahkan darah menghadapi penguasa islam yang tidak adil. Teringat dengan wasiat Rasulullah SAW beliau selalu untuk menasehati dengan ketegasan lisan dan kesantunan tanpa mengobarkan anarkisme.

Bahkan saat Abu Dzar diperintahkan untuk pergi ke pengasingan oleh Khalifah beliau taat menuruti dengan ihlas. Sampai akhirnya ditengah padang pasir Rabadzah, Abu Dzar wafat sebatang kara dan jasad beliau dipertemukan Allah dengan rombongan sahabat yang dipimpin oleh Abdullah bin Mas’ud r.a. Menangislah Abdullah…”benarlah ucapan Rasulullah, anda berjalan sebatang kara, mati sebatang kara dan dibangkitkan nanti sebatang kara”.

Ya Abu Dzar wafat sebatang kara setelah berjalan sebatang kara menempuh kehidupan yang luar biasa sebagai sahabat yang penuh kezuhudan dan keshalihan. Sungguh suatu pribadi dengan kekuatan karakter serta sifat pemberani dan konsisten terhadap kebenaran yang perlu ditiru dalam jaman dimana Islam banyak mengalami fitnah dan ujian.

Semoga muncul Abu Dzar-Abu Dzar yang baru di jaman ini.

Wallahu’alam Bishawab

Pustaka rujukan :
1.Khalid Muhamad Khalid, “Karakteristik Perihidup 60 Sahabat Rasulullah”.
2.Muhamad Husain Haekal, “Sejarah Hidup Muhamad”.

One thought on “Dia bernama Abu Dzar Al-Ghifar

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s