Pembaharuan iman


Jika berbicara mengenai keimanan terkadang itu adalah hal yang abstrak, sesuatu yang tidak dekat dengan realita. Akan tetapi untuk seorang mukmin ada kewajiban diri untuk senantiasa memperhatikan kondisi keimanan, setiap waktu. Bagaikan melakukan krosceck terhadap kesehatan jasmani dengan general ceck up, keimanan kita pun memerlukan pengecekan dan yang tak kalah pentingnya melakukan perbaharuan. Seperti halnya orang melakukan kegiatan fitness dan olahraga aerobic untuk menjaga dan memperbaharui kondisi fisik,kita juga memerlukan “fitness keimanan”.

Dari apa yang saya pahami, dalam ajaran Islam keimanan tidak hanya melulu terkait dengan kondisi dan aktifitas jiwa, tapi juga terkait dengan manifestasi aktifitas fisik termasuk lisan dan raga. Orang dengan tingkat keimanan yang “fit” akan terlihat juga melalui aktifitas nyata dalam kehidupan sehari-hari. Buah dari keimanan adalah sebaik-baik ahlak. Sehingga Islam betul-betul terwujud sebagai rahmat bagi seluruh alam.

Penulis sangat menyadari kekurangan kompetensi dalam menulis topik ini, tapi sebagai umat islam yang diperintahkan untuk ber-amar makruf nahi munkar, terbetik ingin menuliskan topik ini.

Kebetulan setelah membaca buku karya tulis Asyahid Abdullah Azzam, “nasihat-nasihat Rasulullah SAW” terdapat bahasan yang menarik mengenai sebagian aktifitas pembaharuan iman. Berikut sekilas yang saya ringkas dari karya tulis beliau.

Aktifitas pembaharuan iman adalah urusan yang mudah bagi mereka yang dimudahkan oleh Allah SWT,mudah bagi mereka yang mempersiapkan hati, jiwa dan ruh untuk itu. Berikut adalah keutamaan-keutamaan aktifitas yang dapat memperbaharui iman :

Membaca Sirah (sejarah perjalanan hidup)
Membaca perjalanan hidup Rasulullah SAW, para sahabat serta orang-orang yang zuhud akan membina (mentarbiyah) hati supaya zuhud. Membaca perjalanan hidup orang-orang besar akan menjadikan hati lebih tergantung kepada Allah SWT, seakan-akan hidup bersama golongan orang-orang yang mulia, terilhami oleh perjuangan para Assyahid, berbaris bersama dalam perjuangan Islam. Betapa perjalanan Rasulullah SAW, Khalid Bin Walid, Sa’ad Bin Abi Waqqash, Mushaib bin Umair, telah menghidupkan hati orang-orang yang bersama mereka, membangkitkan himmah (cita-cita) dan menguatkan ‘azam (keinginan).

Khalwah (menyendiri)
Setiap mukmin hendaknya menyediakan waktu khusus diluar waktu qiyamulail, dzikir, dan tilawahnya untuk menyendiri sejenak. Moment menyendiri dapat dioptimalkan untuk lebih mendekatkan diri kepada Rabb kita, melakukan introspeksi diri, menghitung semua yang telah dikerjakan tanpa ada gangguan berupa pujian, mengingat dosa dan kemaksiatan yang dilakukan, bertaubat, menangis karena takut, malu,cinta dan khusyu kepada Allah Yang Maha Suci. Hadist Rasulullah SAW diriwayatkan Bukhari Muslim “ Ada tujuh golongan yang akan dinaungi Allah dalam naungan-Nya pada hari tiada naungan selain Naungan-Nya:
Imam yang adil, pemuda yang tumbuh dalam peribadatan kepada Rabbnya, laki-laki yang senantiasa berpaut kepada mesjid, dua orang yang saling mencintai karena Allah berkumpul dan berpisah karena-Nya, laki-laki yang dirayu oleh wanita yang punya kedudukan dan cantik lalu laki-laki itu berkata :”sesungguhnya aku takut kepada Allah”, laki-laki yang bersedekah secara sembunyi-sembunyi sehingga tangan kirinya tidak tahu apa yang diinfakkan oleh tangan kanannya dan laki-laki yang mengingat Allah dalam kesendiriannya lalu air matanya mengalir”.

Melakukan aktifitas penumbuh tawadhu (rendah hati)
Salah satu sarana pembaharuan iman adalah melakukan aktifitas yang dapat mendidik untuk bersikap tawadhu (rendah hati) dan menghilangkan penyakit ujub (bangga diri). Sebagian riwayat pernah menyebutkan bahwa sahabat Umar bin Khattab pernah memanggul air diatas punggungnya untuk memenuhi kebutuhan air dirumah sebagian kaum muslimin, saat ditanya beliau menjawab “aku tengah diliputi sikap ‘ujub dan karenanya aku ingin mendiidk diriku sendiri”.

Ziarah kubur
Melakukan ziarah kubur, mentadabburi,merenungikehidupan dan kematian, berdoa untuk diri sendiri dan kaum mukmin yang telah wafat serta berpikir seandainya diri juga mengalami kematian bagaimana kira-kira hisabnya ? bagaimana bisa menjawab pertanyaan dalam alam kubur ? apakah akan selamat atau justru celaka ?. Dari perenungan mengenai kematian yang pasti akan datang akan menumbuhkan tobat atas kelalaian, tekad untuk beramal sungguh-sungguh dalam rangka mengagungkan dan menegakkan Dien Islam. Hadist Rasulullah SAW diriwayatkan Muslim :”Berziarah kuburlah kalian, sesungguhnya ziarah kubur itu akan mengingatkan kalian akan akhirat”.

Mengunjungi orang-orang shalih
Mengunjungi orang-orang yang shalih, para mujahid, orang yang lebih dulu aktif dalam amal islam secara istiqomah akan memberikan hikmah dan pembelajaran bagi kita. Bagaikan melakukan “charger” energi iman bagi seorang mukmin, demikianlah perumpamaannya. Umar bin Khattab pernah menyebutkan salah satu hal yang menyenangkan untuk menetap didunia adalah berkumpul dengan kaum yang memilih kalimat yang baik seperti kalian memilih korma yang baik. Pembelajaran nabi Musa AS dengan nabi Khidlir mungkin layak dijadikan contoh : “Bolehkah aku ikut kepadamu, supaya kamu dapat mengajarkan kepadaku ilmu yang telah kamu peroleh ?” (QS-Al-Khafi:66)

Keimanan bersifat dinamis, kadang naik kadang turun. Karena nimat keimanan merupakan nikmat terbesar dalam hidup ini, karena itulah yang akan menentukan nilai seseorang, jauh diluar predikat-predikat keduniawian yang sangat dangkal. Sehingga keimanan perlu kita jaga dan kita perbaharui setiap saat sehingga iman yang kita miliki akan menghasilkan buah yang manis, ahlakul kharimah.

Wallahu’alam Bishawab

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s