Bagaimana Hati Berpuasa


Dalam sebuah hadist disebutkan :”Ingatlah bahwa dalam tubuh terdapat segumpal darah, apabila ia baik maka baiklah seluruh tubuhnya, dan apabila ia rusak maka rusak pula seluruh tubuh, Ingatlah segumpal darah itu adalah hati”.

Kebaikan dan kesehatan hati adalah kebahagiaan dan kemuliaan didunia dan akhirat. Begitu juga sebaliknya rusak dan sakitnya hati adalah kehancuran dalam jangka waktu yang hanya diketahui oleh Allah SWT.

Dalam Al-Qur’an Allah SWT berfirman : “ Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat peringatan bagi orang-orang yang mempunyai hati atau yang menggunakan pendengarannya, sedang dia mendengarkannya “(QS.Qaf:37).

Setiap manusia memiliki hati. Tapi hati ada dua, ada hati yang hidup disinari cahaya, dicerahkan iman, sarat dengan keyakinan dan ketakwaan. Ada juga hati yang sakit,  yang lalai, dilingkupi dengan kegelapan dan akhirnya mati, tidak mampu menjadi cermin dalam kehidupan. Bagi orang yang memiliki hati yang lalai dan sakit, hati mereka tidak digunakan untuk menuju keimanan dan ketakwaan, hati tidak digunakan untuk mentdzaburi dan memahami ayat-ayat Allah SWT.

Bulan Ramadhan sebagai bulan yang diperintahkan kepada kaum mukmin untuk shaum hendaklah dijadikan juga sebagai pelatihan pembinaan hati kita. Hati orang yang beriman baik pada bulan Ramadhan atau bulan-bulan yang lainnya, melakukan aktifitas shaum. Shaum hati adalah dengan mengosongkan dari materi , bentuk-bentuk syirik yang merusak ketauhidan, keyakinan yang batil, niat yang jelek serta pikiran-pikiran keji.

Hati seorang mukmin puasa dari rasa sombong, sebab ia mengahncurkan hati. Kesombongan seharusnya tidak mendapatkan tempat dalam hati orang-orang mukmin, sebab ia adalah haram. Kemah, rumah tempat “berteduh” kesombongan adalah hati, jika hati terhinggapi kesombongan, maka si pemilik hati akan “sakit”  dan lalai. Dalam sebuah hadist Qudsi Allah SWT berfirman : “Kesombongan adalah pakaianku, keagungan adalah sarungku. Barangsiapa bersaing denganku dalam keduanya, aku akan menyiksanya “.  Diperkuat dengan hadist Rasulullah SAW : “ Barangsiapa sombong kepada Allah maka Allah akan merendahkannya, dan barangsiapa yang merendahkan hati kepada Allah maka Allah akan mengangkatnya “.

Kesombongan Iblis dapat dijadikan pelajaran, bagaimana sebuah kesombongan kepada Allah SWT membuat derajat dihadapan Allah SWT menjadi rendah dan hina. Saat itu Iblis menolak perintah Allah SWT untuk menghormati Nabi Adam AS.

Hati orang-orang mukmin melakukan shaum dari rasa ujub (bangga terhadap diri sendiri). Sikap ujub menjadikan seseorang merasa dirinya sempurna dan lebih utama dari orang lain. Obat dari perasaan ujub adalah banyak-banyak melihat aib diri sendiri, banyak melakukan intrsopeksi terhadap kekhilafan diri sendiri.

Hati orang-orang mukmin shaum dari dengki. Perasaan dengki akan menghancurkan semua perbuatan amal shalih, memadamkan cahaya kalbu, menghambat jalan menuju Allah SWT. Dalam sebuah riwayat jaman Rasulullah SAW, Rasul pernah menyebutkan salah seorang sahabat yang dijamin masuk surge. Saat ditanya apa kiat-kiatnya, Sahabat tersebut berkata: ” Aku tidak tidur sementara dalam hati saya ada dengki, iri atau khianat terhadap orang Muslim”.

Wallahu’alam Bishawab.

Disadur dari buku : “30 Renungan Ramadhan”, karya Syaikh’Aidh Abdullah Al-Qarni.

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s