“Mengupgrade” Keimanan di Bulan Ramadhan


Keimanan dapat bertambah atau berkurang sesuai dengan aktifitas amaliah yang kita lakukan dalam hidup. Iman dapat bertambah karena ketaatan kepada-Nya dan dapat berkurang karena kemaksiatan kepada-Nya. Keimanan seseorang akan bertambah dimana ia mampu menahan diri dari segala ujian dan berjuang untuk tetap berada dalam tuntunan Al-Quran dan Sunnah Rasul. Sebaliknya jika masih tak berupaya untuk menahan dari segala maksiat dan terjerembab dalam lumpur nista, maka disaat inilah hidupnyaberada dalam krisis keimanan. Allah SWT berfirman :”Dan orang-orang yang mendapat petunjuk, Allah menambah petunjuk kepada mereka dan memberikan kepada mereka balasan ketakwaannya.” (QS: Muhamad:17).
Aktifitas Bulan Ramadhan yang penuh dengan nilai ibadah hendaknya kita optimalkan untuk meningkatkan kualitas keimanan dan derajat ketakwaan kita. Aktifitas-aktifitas di Bulan Ramadhan terutama shaum, merupakan media untuk lebih mendekatkan diri kita kepada Allah SWT dan menjauhkan diri dari maksiat. Shaum di bulan Ramadhan dan aktifitas ibadah lainnya merupakan benteng bagi diri kita dari godaan nafsu syahwat yang akan melenakan kita dari tujuan amanah hidup kita.
Aktifitas amaliah di Bulan Ramadhan yang idealnya dilakukan secara konsisten agar dapat meningkatkan kualitas keimanan dan ketakwaan kita :

Shalat fardhu berjama’ah dengan optimal dan penuh khusyu. Shalat berjama’ah menghilangkan kemunafikan, membuahkan rasa takut (khauf) kepada Allah SWT serta mencegah dari perbuatan keji dan munkar. “Sesungguhnya shalat itu adalah kewajiban yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman.” (QS An-Nisa :103). “Sesungguhnya shalat itu mencegah dari perbuatan keji dan munkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar keutamaannya dari ibadah-ibadah lainnya. Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS Al-Ankabut : 45).

Membaca dan mengkaji Al-Qur’an disertai dengan pemahaman dan mulai menerapkan aturan-aturan yang terkandung dalam Al-Qur’an dalam kehidupan kita sehari-hari.

Mengingat Allah dengan lidah, hati, pikiran, anggota tubuh dengan bertasbih, bertakbir, bertahmid dan bertahlil.”Karena itu ingatlah kamu kepada-Ku, niscaya Aku ingat pula kepadamu “.(QS Al-Baqarah:153).

Bermunajat kepada Allah di waktu sahur dan memperbanyak Istighfar.

Mencari dan menuntut ilmu yang bermanfaat terutama ilmu Dien Islam. Ilmu yang hikmah akan memberikan buah manis berupa amal shalih dan akhlak yang baik serta memperkokoh keimanan dan ketauhidan. Salah satu cara dalam menuntut ilmu adalah aktif dalam majelis-majelis ilmu dan sering berdiskusi dengan orang-orang yang alim yang memiliki keilmuan dan kearifan.

Melakukan shadaqah secara konsisten. Shadaqah dapat meningkatkan keimanan dan mensucikan jiwa pelakunya, menjauhkan dari sifat kikir serta memberikan manfaat sosial secara luas.
“Dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi seraya berkata: “Ya Rabb kami, tiadalah Engkau menciptakan semua ini dengan sia-sia. Maha suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka”.(QS Ali Imran:191). Aktifitas bertafakur terhadap ayat-ayat Allah SWT akan menambah keimanan, bertafakur disini termasuk juga menkaji keagungan dan keindahan ciptaan-Nya di alam semesta.

Berkurangnya iman, sakit bahkan mati, bisa diakibatkan karena hati yang cenderung berpaling dari Al-Qur’an dan As-Sunnah, perkataan dan perbuatan yang sia-sia dan lalai dari segala perintah Allah SWT. Iman juga dapat rusak akibat terbebasnya anggota-anggota tubuh untuk berbuat maksiat dan kejahatan.

Hendaknya kita memperhatikan aktifitas shaum dan ibadah kita di bulan Ramadhan, apakah menyebabkan keimanan kita bertambah dan lebih kuat ? apakah keyakian kita kepada Allah makin menguat ?. Mari kita raih kemuliaan kualitas iman yang prima melalui bulan Ramadhan.
“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah (tiap-tiap) diri memperhatikan apa yang dipersiapkan untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang melupakan Allah, maka Allah menjadikan mereka lupa pada diri mereka sendiri. Mereka itulah orang-orang yang fasik. Tidak sama penghuni neraka dengan penghuni surge. Penghuni surga itulah orang-orang yang beruntung” (QS Al-Hasyr: 18-20).

Walahu’alam Bishawab.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s