Catatan Di Akhir Ramadhan (1429H)


Alhamdulilah sekarang sudah menjelang hari ke-30 Ramadhan. Sudah menjelang saat-saat akhir bulan yang penuh keberkahan ini. Tampak berbeda suasana keseharian selama hampir 30 hari kebelakang. Mesjid-mesjid rata-rata penuh oleh jama’ah sholat tarawih dan I’tikaf di malam sepuluh terakhir. Tidak hanya itu, shaf sholat fardhu berjamaah makin bertambah jumlahnya. Yang semula hanya satu baris sekarang minimal setengah mesjid penuh, bahkan saat Isya dijamin penuh. Bagi saya itu adalah pemandangan yang sangat berkesan. Mesjid yang semula sepi di bulan-bulan lainnya (kebanyakan), saat Ramadhan terasa hidup dan penuh dinamika J.  Malam-malam akhir Ramadhan banyak dipenuhi para “I’tikaf-er” Fenomena itu merupakan suatu contoh bahwa ternyata diperlukan suatu MOMENT tertentu oleh masyarakat (kita) dalam beraktifitas.

Pengamatan saya pada tahun-tahun yang lalu sehabis Ramadhan biasanya Mesjid kembali sepi, tidak seramai Ramadhan…langsung jumlah “pengunjung” mesjid turun drastis sehabis Ramadhan (di kebanyakan mesjid). Adakah yang salah dalam hal ini ? ..hem mungkin aktifitas Ramadhan yang kita lakukan belum cukup “meresap” dalam diri kita sehingga belum bisa “mewarnai” aktifitas keseharian kita paska Ramadhan. Sehingga sehabis bulan Ramadhan ….semua kembali lagi ke keadaan semula. Jangan sampai kita punya pensikapan Ramadhan hanyalah nama sebuah bulan yang didalamnya kita diperintahkan shaum (bagi yang merasa dirinya mukmin)..sehabis itu wassalam dengan lebaran sebagai seremonial hura-hura. Sangat disayangkan jika kita memiliki paradigma seperti itu.

Awal keberangkatan ibadah shaum di Bulan Ramadhan adalah agar kita bertakwa. Sikap takwa akan melahirkan kehati-hatian dalam menjalani hidup, hati-hati dalam menjaga agar hidup sesuai dengan perintah-Nya dan tidak sekalipun menyalahi aturan-Nya. Sahabat Umar bin Khattab r.a menganalogikan sikap takwa bagaikan sikap kita saat berjalan melewati jalan yang penuh semak berduri.

Tidak semua orang diberikan kenikmatan untuk menjumpai bulan Ramadhan ini. Saat hari pertama bulan Ramadhan disebuah mesjid yang saya masuki, Imam mesjid saat khutbah sholat tarawih 1 Ramadhan menyarankan kita untuk sujud syukur dalam menghadapi Ramadhan, karena tidak semua orang menjumpai Ramadhan….Betul juga ya,  nikmat Ramadhan merupakan nikmat yang harus kita sadari dan syukuri. Disyukuri dengan cara mengoptimalkan Ramadhan diisi dengan aktifitas ibadah secara konsisten dan berkualitas.

Ada seorang sahabat yang berkomentar Bulan Ramadhan masyarakat kita pada umumnya masih banyak terlenakan oleh kegiatan-kegiatan sepele yang kurang bernilai. Memang bukan hal yang dilarang tapi merupakan kegiatan mubah yang terlalu berlebihan, padahal dalam Al-Qur’an sendiri QS.Al-Mu’minun orang mukmin diperintahkan menjauhi perbuatan yang sia-sia. Begitu banyak orang-orang di bulan Ramadhan yang masih terlalu sibuk memikirkan makanan apa yang akan disantap saat berbuka, pakaian apa yang akan digunakan saat lebaran dan aneka hal-hal yang sepele. Sehingga tingkat konsumsi masyarakat saat bulan Ramadhan dan menjelang Idul Fitri makin melonjak naik. Indikator yang sangat kentara adalah penuhnya pusat-pusat perbelanjaan.

Ajaran Islam adalah Dien yang mengajarkan kesederhanaan dan pertengahan dalam hal-hal yang mubah. Sangat disayangkan akibat terlalu sibuk dalam aktifitas yang sepele melupakan esensi dari aktifitas ibadah di Bulan Ramadhan ini. Esensi Bulan Ramadhan mengajarkan kita untuk dapat lebih bersabar, memiliki empati sosial yang lebih, kesederhanaan, meningkatkan kekuatan fisik & ruhani, lebih taat kepada aturan-aturan Allah SWT.

Momen Ramadhan adalah momen penempaan fisik dan jiwa kita sehingga dapat lebih fit dalam 11 bulan berikutnya. Aktifitas yang sudah rutin kita lakukan di Bulan Ramadhan hendaknya kita jaga intensitas dan kualitasnya pada bulan-bulan berikutnya. Sehingga saat keluar dari bulan Ramadhan ada perubahan yang signifikan kearah kebaikan dari setiap individu. Bayangkan jika hal itu berlangsung kepada setiap orang yang menjalankan ibadah shaum Ramadhan, akan ada efek kumulatif yang positif dan pada akhirnya akan muncul tidak hanya keshalihan individu tapi juga keshalihan sosial, Subhanallah.

Mari kita semua bercermin diri, sudah sampai manakah hasil Ramadhan kita kali ini. Semoga kita dapat tergolong orang-orang yang mendapatkan kemenangan, Amin!.

Wallahu’alam Bishawab

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s