Belajar keikhlasan dari seorang Khalid Bin Walid


rasool_allah_swordNama Khalid Bin Walid r.a identik dengan keahlian yang luar biasa dalam bidang kemiliteran terutama strategi perang, Khalid mendapatkan julukan Saifullah atau “pedang Allah” . Khalid adalah suku Quraisy, sejak kecil Khalid di didik ilmu ketangkasan keprajuritan yang lazim pada zaman itu; berkuda, menggunakan berbagai jenis senjata, bergulat. Maka tidak heran Khalid tumbuh menjadi pemuda yang memiliki karakter keprajuritan yang kuat.

Awal masuk Islam

Jika melihat sejarah memang aneh, saat Rasulullah SAW menyampaikan awal dakwah di Mekah Khalid belum tergerak untuk memasuki Islam. Khalid merupakan musuh Kaum Muslimin saat itu, musuh yang paling diperhitungkan karena kemampuan bertempurnya yang mumpuni. Bahkan saat Perang Uhud (perang lanjutan setelah Perang Badar), perang antara kaum Muslimin dengan Musyrikin Quraisy, Khalid sendiri yang memimpin pasukan berkuda kaum Quraisy dan memberikan pukulan yang telak kepada kaum muslimin, dengan menyergap secara tiba-tiba dari garis belakang pertempuran saat pasukan panah kaum muslimin meninggalkan posnya.

Akhirnya hidayah pun datang kepadanya, selepas masa Perang Uhud Khalid datang ke Kota Madinah untuk menyatakan ikrarnya masuk Islam di hadapan Rasulullah SAW. Subhanallah Allah memberikan petunjuk dan hidayah kepada siapapun yang Dia kehendaki. Khalid telah bertransformasi menjadi mukmin dan ada dialog yang menarik dalam proses awal keislamannya. Khalid : “Ya Rasulullah mohon minta ampunkan untukku terhadap semua tindakan masa lalu ku yang menghalangi perjuangan di jalan Allah……”. Rasulullah menjawab :”Sesungguhnya keislaman itu telah menghapus segala perbuatan yang telah lampau”. Khalid :” Sekalipun demikian ya Rasulullah……”. Maka Rasulullah SAW berdoa :” Ya Allah aku mohon engkau ampuni dosa Khalid ibnul Walid terhadap tindakannya yang menghalangi jalan-Mu di masa lalu”. Keislaman Khalid saat itu diikuti juga oleh Amr bin Ash dan Utsman bin Thalhah. Selepas prosesi masuk Islam Khalid maka Khalid bergabung menjadi pendukung perjuangan menegakkan Al Islam bersama barisan Rasulullah SAW.

Kontribusi Khalid dalam perjuangan Islam terutama di medan jihad qittal, pertempuran untuk menjaga keagungan panji Islam layaknya sudah menjadi rumah bagi dirinya. Dalam Perang Mut’ah melawan kekaisaran Romawi Timur Khalid bin Walid berhasil memimpin pasukan Muslimin terhindar dari kehancuran melawan pasukan Romawi yang berjumlah puluhan kali lipatnya. Dengan strateginya Khalid berhasil membawa pasukan Muslimin yang telah dikepung rapat untuk undur dari medan peperangan setelah sebelumnya membuat kerusakan dalam barisan pasukan Romawi. Dalam peristiwa Futuh Mekah (pembebasan Kota Mekah) Khalid termasuk salah seorang sahabat yang ditunjuk Rasulullah untuk memimpin pasukan Muslimin.Dengan ijin Allah SWT pasukan Muslimin dapat membebaskan Mekah dari Kaum Musyrikin Quraisy tanpa pertumpahan darah.

Khalid panglima perang yang tangguh

Sepeninggal Rasulullah SAW, kepemimpinan umat Islam diserahkan kepada sahabat Abu Bakar Ashidiq r.a. Kemurtadan dan nabi palsu merajalela, pemberontakan yang paling kuat dipimpin oleh Musailamah yang juga mengaku dirinya Nabi di bagian Yamamah. Pertempuran pun tidak bisa terelakan antara pemberontak kaum murtad di pihak Yamamah dengan pasukan Muslimin di pimpin oleh Khalid Bin Walid. Awalnya pasukan Muslimin terpojok oleh pasukan Musailamah yang berjumlah besar, dengan kesigapan Khalid dan analisis militernya yang tajam atas ijin Allah SWT Khalid mampu membalikkan keadaan menjadi kemenangan di pihak Kaum Muslimin. Khalifah Abu Bakar Ashidiq di Madinah langsung melakukan sujud syukur atas nikmat kemenangan yang Allah SWT berikan ditengah kegentingan perpecahan umat Islam.

Tugas dan amanah yang diberikan kepadanya senantiasa dijalankan dengan penuh tanggung jawab dan kedisiplinan tinggi. Karakter kepemimpinan yang tegas tapi jauh dari kedzaliman merupakan karakter dari Khalid bin Walid. Dalam setiap pertempuran beliau selalu ingat pesan Rasulullah SAW untuk tidak menyakiti penduduk sipil, hanya memerangi orang-orang yang memerangi kaum muslimin. Peperangan yang di lakukan senantiasa mengedepankan keagungan nilai-nilai islam. Peperangan untuk menjaga dan mengagungkan panji Islam bukan untuk ambisi kekuasaan dan ketamakan pribadi.

Khalid bin Walid dapat menyelesaikan tugas yang diembannya dengan sukses. Atas ijin Allah SWT melalui tangan Khalid kemenangan demi kemenangan dapat dicapai pasukan Kaum Muslimin dalam peperangan melawan musuh Islam. Persia melaui komandonya dapat ditaklukan. Selanjutnya menyusul Kekaisaran Romawi Timur. Kunci keberhasilan Khalid bin Walid dalam setiap peperangan adalah “tsabat” artinya tetap tabah dan disiplin. Pandangannya ketidak disiplinan satu atau dua orang, lari dari peperangan dapat merusak keutuhan suatu barisan pasukan. Sikapnya terhada hal ini sangat tegas, hukumannya adalah hukuman mati.

Setelah Persia takluk, konfrontasi dan peperangan dengan Romawi pun tidak terelakkan. Perang Yarmuk berkobar. Khalid kembali ditunjuk menjadi Panglima pasukan muslimin bersama Abu Ubaidah dan Ikrimah. Pasukan Muslimin dengan startegi Khalid bin Walid berhasil menguasai jalannya pertempuran walaupun dengan jumlah yang lebih sedikit. Hidup mulia dan mati syahid menjadi semboyan masing-masing prajurit muslim. Kekuatan apa yang bisa mengalahkan orang-orang yang bertempur mencari kematian atas dasar keimanan ?.

Dari panglima tinggi menjadi prajurit biasa

Saat pertempuran menjelang akhir sampai seorang utusan kepada Khalid Bin Walid. Utusan tersebut dating dari Khalifah yang baru, Umar Bin Khattab r.a yang menggantikan Abu Bakar r.a yang telah wafat. Surat itu isinya pemberhentian Khalid dari jabatannya sebagai panglima perang dengan Abu Ubaidah sebagai pengganti. Dengan tenang Khalid bin Walid membaca surat dan meminta kepada kurir untuk tidak memberitahukan isi surat kepada siapapun sampai peperangan berakhir. Pertimbangan Khalid saat itu adalah khawatir instruksi dari Khalifah ini dapat memecah konsentrasi pasukan muslimin. Pertempuran terus berlanjut sampai akhirnya pasukan muslimin dapat mencapai kemenangan. Setelah perang usai Khalid menjumpai Abu Ubaidah untuk menyampaikan pesan pengangkatannya sebagai panglima pengganti Khalid.

Adapun pemecatan Khalid oleh Umar Bi Khattab bukan sama sekali dilandasi ketidaksukaan terhadap Khalid atau iri. Tapi lebih didasarkan atas pandangan Umar untuk menyelamatkan aqidah umat dan Khalid. Kemenangan demi kemenangan yang dicapai Khalid dalam pertempuran menjadikannya namanya harum semerbak. Bahkan ada kecenderungan pengkultusan oleh beberapa orang. Khalifah Umar khawatir umat terperosok dan Khalid pun akan mendapatkan fitnah yang besar.

Selanjutnya Khalid kembali berjuang sebagai mujahid tanpa memperdulikan statusnya yang “turun pangkat”. Ketika ditanya beliau menjawab : “aku berperang bukan untuk Umar tapi karena Allah SWT”.

Khalid bin Walid wafat dengan hanya meninggalkan kuda perang dan pedang.

Sungguh kita bisa belajar keikhlasan dalam berjuang darinya. Setiap gerak langkah kehidupan selalu ditujukan untuk penghambaan kepada Allah semata.

Wallahu’alam Bishawab.

Sumber literatur: Karakteristik 60 Sahabat Rasulullah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s