“Be Good” atau “Looks Good” ?


Di lingkungan masyarakat “kredibilitas” ataupun citra merupakan hal yang dirasa penting oleh masing-masing orang. Dengan penilaian kredibilitas yang baik ataupun citra diri yang baik akan memuluskan berinteraksi dalam lingkungan masyarakat, mendapatkan pengakuan, atau lebih jauhnya lagi meraih kekuasaan.

Sayangnya “kredibilitas” tersebut tidak selalu dicapai melalui kompetensi yang nyata terkadang “kredibilitas” tersebut diciptakan melalui pencitraan dan lips service. Jadilah muncul orang-orang yang terlihat hebat diluar padahal bobrok didalam. Seakan-akan wajah aslinya yang rusak tertutup oleh topeng “citra” yang hebat.

Dalam sebuah majalah pernah dibahas nilai sebuah bisnis pencitraan terutama pencitraan politik yang bisa menembus angka rupiah yang fantastis. Lucu dan ironis, disatu sisi ada pelaku pasar yang menjajakan service untuk memoles orang agar memiliki citra baik (yang tak lepas kemunculannya dari permintaan pasar) disatu sisi lain ternyata kredibilitas bisa diciptakan dengan instant melalui polesan-polesan kampanye media. Sebetulnya mungkin tidak ada yang keliru dengan pencitraan positif sepanjang diiringi dengan perbaikan kompetensi yang nyata.

Jika tidak, yang muncul adalah kebohongan semata. Jadi teringat sebuah kolom di Majalah SWA yang ditulis Arvan Pradiansyah yang baru saya baca, beliau menuliskan :

Terkait nama baik dan kredibilitas manusia dapat dibedakan dalam tiga golongan; Orang pertama adalah manusia politis. Yang tidak selalu seorang politisi tapi mereka adalah golongan orang-orang yang menjadikan citra sebagai fokus perhatian utama. Bahkan bagi mereka citra dan persepsi lebih penting dari kenyataan. Manusia tipe ini adalah tipe yang selalu menghias, memoles dan memermak diri ntuk mendongkrak citra.

Mereka membangun persepsi bahwa mereka lah yang paling hebat dan paling mampu. Sayangnya mereka tidak berusaha meningkatkan kualitas diri mereka karena telah cukup puas “bermain” dalam level persepsi. Mereka cukup puas kalau kelihatan baik (Looks Good) padahal mereka tidak benar-benar baik. Mereka telah melanggar hukum alam yang mensyaratkan pertumbuhan dari dalam (Be Good) ke luar (Looks Good). Karena itu suatu saat nanti mereka akan menanggung akibatnya dalam bentuk hilangnya kepercayaan (trust).Rumus yang dianut golongan pertama tadi adalah Looks Good > Be Good.

Golongan orang kedua adalah “Manusia Bisnis” dengan rumus : Looks Good = Be Good. Jenis orang ini berusaha mengkomunikasikan semua potensi yang ia miliki agar dapat dikenali “pasar”. Mereka menyadarai bahwa promosi (Looks Good) penting, tetapi yang lebih penting adalah membangun kualitas ke dalam (Be Good).

Golongan orang ketiga adalah Manusia Spiritual dengan rumus : Looks Good < Be Good. Bagi golongan ini Be Good jauh lebih penting dari Looks Good. Mungkin kita bertanya-tanya koq bisa ?. Bagi Manusia Spiritual satu-satunya yang penting adalah Be Good, yaitu bagaimana caranya hidup menjadi orang yang baik. Karena itu seluruh waktu yang dimilikinya dicurahkan untuk meningkatkan kualitas diri. Tidak ada waktu untuk pencitraan.

Bagi Manusia Spiritual persepsi atau pandangan orang kepadanya menjadi tidak begitu penting karena yang paling penting adalah bagaimana pandangan Allah SWT kepada dirinya. Dan ketika kita berbicara mengenai Allah SWT sejatinya tidak ada persepsi yang ada adalah realita karena Allah SWT, Yang Maha Mengetahui.Bukankah dihadapan-Nya tidak ada yang namanya Looks Good ? yang ada hanyalah Be Good. Inilah yang membuat Manusia Spiritual tidak pernah membuang-buang waktunya untuk Looks Good. Pemahaman berikutnya yang dimiliki Manusia Spiritual adalah yakin bahwa Be Good akan mengalahkan Looks Good.

Manusia Spiritual memahami bahwa Looks Good adalah sebuah persepsi, sebuah penampakan yang tidak kekal dan bisa jadi penuh kepalsuan. Manusia Spiritual sadar bahwa terlalu memikirkan citra akan merusak nilai kebaikan yang mereka berikan. Sehingga seluruh energi dan kehidupan mereka dedikasikan untuk kebaikan mereka tidak pernah mengharapkan balasan apapun.

Mereka hanya yakin sepenuhnya dengan hukum kekekalan energi bahwa apa yang mereka berikan kepada dunia luar akan kembali lagi kepada mereka dalam bentuk yang berbeda.

Sebagai pengingat bagi kita semua, dalam Al Qur’an Surat Ash-Shaff ayat 3 :”Amat besar kebencian disisi Allah SWT bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tiada kamu kerjakan”.

Jadi tipe yang seperti apakah yang akan anda tiru ?

Wallahu’alam Bishawab

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s