Inside Steve’s Brain (Resensi Buku)


“Innovation has nothing to do with how many R&D dollars you have. When Apple came up with the Mac, IBM was spending at least 100 times more on R&D. It’s not about money. It’s about the people you have, how you’re led, and how much you get.”

Steve Jobs

Gimana rasanya saat sedang memimpin perusahaan yang diambang kebangkrutan ?.

Pasti bukanlah posisi yang menyenangkan. Itulah mungkin hal yang sama yang dirasakan Steve Jobs saat kembali lagi ke Apple di tahun 1997. Saat Apple diambang kehancuran yang ironis. Padahal Steve bukan tipe orang yang “kekurangan uang” saat itu. NeXT dan PIXAR telah membuatnya menjadi miliuner.

Steve Jobs merupakan pemimpin yang mumpuni yang dapat menebarkan inovasi, kreatifitas serta cita rasa desain yang tinggi. Walalupun bukan seorang insinyur ataupun ahli komputer. Maka tidak heran saat Apple ditinggalkan Steve Jobs (Steve Jobs pernah dipecat dari Apple tahun 1985), Apple seakan kehilangan “jiwa kreatif & inovasi”.

Steve Jobs yang kembali ke Apple di tahun 1997, perusahaan yang didirikannya tahun 1976 . Dan dapat membalikkan Apple yang “sekarat” menjadi perusahaan sehat yang inovatif, “keren” dan membukukan margin yang tinggi. Sekarang Apple lebih dikenal sebagai perusahaan inovatif yang banyak mengahsilkan produk digital berkualitas terbaik. Mulai dari pemutar music iPod, smartphone iPhone, desktop iMac, laptop keren MacBook serta terakhir komputer tablet iPad yang fenomenal.

Kerja keras, Tegas dan Fokus

Saat awal-awal mengambil alih kemudi Apple Inc, Steve Jobs betul-betul dihadapkan dengan kondisi yang berat. Dana cadangan perusahaan yang terbatas, kedisiplinan yang rendah, over load pegawai serta kualitas produk yang mebosankan. Steve diawal menerapkan ketegasan yang kuat. Produk-produk dipangkas menjadi hanya beberapa item; produk desktop iMac PowerMac, notebook iBook. Untuk produk-produk lainnya dipangkas termasuk komputer genggam Apple Newton yang difavoritkan tapi sudah banyak menghabiskan dana pengembangan yang sangat besar.

Disinilah pentingnya seorang leader yang tegas, visioner dan memiliki komitmen kuat untuk kemajuan perusahaan. Steve betul-betul kerja keras tidak hanya duduk manis diruangan eksekutif tapi terjun langsung menangani hal-hal yang kritis yang dikuasainya dengan baik. Mulai dari desain produk, harga, periklanan dan penanganan merek perusahaan. Kerja kerasnya didukung tim yang solid mampu membalikkan keadaan Apple.

Sederhana serta Konsisten dengan desain & kualitas

Ah banyak orang yang jatuh hati dengan produk-produk Apple. Desain yang elegan (cenderung minimalis), material yang bagus serta perangkat lunak yang mudah digunakan menjadi daya tarik hampir semua produk Apple sejak dulu. Mulai dari Apple II, Macintosh mesin yang canggih dijamannya, iMac komputer personal berbentuk tetesan air yang transparan warna-warni sampai komputer tablet iPad yang elegan.

Semua desain ini walaupun terlihat sederhana merupakan proses kompleks yang melibatkan konsistensi komitmen terhadap desain, kualitas kerja yang mengagumkan serta kuantias kerja tim yang spartan. Dalam dunia desain hal hal yang sederhana  sebetulnya merupakan fungsi dari parameter-parameter dan proses yang kompleks.

Steve Jobs lebih sebagai artis teknologi dan desain selain visioner yang mampu “menebak” produk yang disukai konsumen. Steve sangat memperhatikan desain mulai dari hal-hal yang kecil. Bahkan kardus pembungkus pun menjadi focus desain Steve Jobs dan team. Pembungkus Komputer merupakan awal mula sentuhan pelanggan dengan produk maka harus diperlakukan dengan desain yang elegan dan membawa pengalaman pelanggan yang baik, demikian pendapat Steve. Dalam buku ini banyak dibahas bagaimana “ terobsesinya” Steve dengan desain yang baik.

Desain bagi Steve bukan hanya bentuk tapi lebih sekedar fungsi. Sampai muncul istilah Steve mendesain produk-produk Apple pixel demi pixel, hal-hal yang mungkin diremehkan oleh timnya bagi Steve akan dianggap sebagai isu yang serius yang harus diperhatikan. Memang dampaknya untuk membuat hal yang kecil akan menghabiskan jam kerja serta energi yang luar biasa terkuras. Hasilnya ? ….la voilla produk-produk Apple adalah produk yang mengagumkan, dan mungkin banyak juga para pemakai produk digital yang setuju dengan hal ini.

Kualitas adalah mantra nomor satu di perusahaan ini, karena Steve memiliki “ideologi” untuk memproduksi produk digital berkualitas tinggi yang akan awet dan disukai konsumen ketimbang produk “pasaran” yang mudah rusak, walaupun mungkin produk-produk Apple lebih mahal ketimbang produk competitor lainnya. Tapi disinilah Apple menangguk untung. Dalam bisnis persaingan PC yang sangat ketat Apple mampu tetap menikmati laba tinggi dari hasil penjualan produk-produknya yang “bermargin tinggi”.

Mengambil ide-ide hebat dari luar

Walaupun Apple terkenal hebat dalam hal inovasi, Steve tidak pantang untuk mengambil teknologi dari luar Apple. Contoh yang sangat terkenal adalah teknologi GUI (Graphycal User Interface) dengan mouse untuk PC serta USB. Mouse sebetulnya bukan produk original Apple. Apple mengadopsinya dari XEROX yang juga terkenal dengan inovasinya. Di XEROX teknologi mouse ini dianggap hanya mainan, sedangkan ditangan Steve Jobs teknologi ini menjadi teknologi standar yang mengubah cara orang menggunakan komputer. Sedangkan USB merupakan teknologi Intel yang diadopsi oleh Apple sebagai konektor universal pertama di komputer.

Pelajari keinginan pasar lalu eksekusi dengan tepat

Bagaikan menerapkan filosofi The Art Of War; Sun Tzu, pelaku bisnis perlu memahami karakter pasar dan konsumen. Inilah keahlian yang dimiliki dengan sangat kuat oleh Steve Jobs. Leander dalam bukunya menuliskan Steve yang boleh dibilang bukan orang teknik memiliki sense yang bagus dari sudut pandang konsumen diluar perusahaan. Dalam majalah BusinessWeek edisi Juli 2010 menurunkan  artikel yang menuliskan Steve Jobs adalah “The Best Pitchman In Computer Industry”, sebutan untuk seorang tokoh yang mampu meramal bahkan menggiring selera pasar kearah produk yang didesainnya.

Yang paling terkini, dengan iPhone nya  Apple mencoba menciptakan pengalaman internet mobile yang jauh lebih baik bagi pamakai bersaing dengan Nokia, RIM (produsen BlackBerry) serta Google Android. iPad gadget fenomenal terakhir juga turut menguatkan trend akses internet secara mobile. Dilengkapi dengan berbagai aplikasi yang mendukung pekerjaan atau hiburan yang dikembangkan pihak luar untuk iPhone dan iPad, menjadikan trend ini membawa trend ekonomi digital yang baru, Apps Economy.

Lakukan Strategi Pemasaran Yang Tepat

Sejak dulu Steve Jobs lebih terkenal sebagai Sales Guy ketimbang Techie Guy. Dulu saat masih ada Wozniak di Apple, Steve Wozniak adalah Techie Guy nya. Saat awal di Apple Steve Jobs menggandeng biro periklanan yang dulu pernah membuat iklan Apple fenomenal di Super Bowl Cup tahun 1984. Steve memandang brand Apple sebagai sesuatu asset yang masih memiliki nilai jual, Apple masih memiliki para loyalist. Maka diluncurkan lah tag line-tag line pemasaran Apple mulai dari kampanye “Think Different” yang memasang icon-icon budaya, politik dunia seperti John Lennon, Muhamad Ali. Tag line I am  a Mac pun sukses menuai buzz yang berimbas positif terhadap merek Apple dan lini produknya dipasaran.

Strategi Steve Jobs yang menjaga kerahasiaan produk patut diacungi jempol. Sehingga produk terbaru dari Apple bagaikan misteri yang sangat mengundang rasa ingintahu publik. Ujung-ujungnya mampu mendongkrak penjualan. Steve Jobs sangat berusaha menghindari Efek Osborne, yaitu produk baru dengan teknologi baru bocor informasinya keluar sebelum waktunya. Efek ini dapat mengakibatkan pasar menarik diri dari pembelian produk yang ada demi produk yang lebih baru. Efek ini pernah terjadi di Apple era 80-an saat peluncuran komputer Lisa yang dibayang-bayangi Macintosh, komputer Apple yang lebih ekonomis.

Satu hal lagi dalam kepiawaian Steve Jobs adalah ahli dalam melakukan pemasaran getok ular (word of mouth marketing-WOMM). Salah satunya saat peluncuran tablet iPad. Publik sudah gencar disuguhi informasi mengenai bayangan tentang iPad oleh para blogger dan analis produk digital. Keuntungannya Apple mendapatkan publikasi senilai jutaan dollar padahal mereka nyaris tidak mengeluarkan sepeserpun uang untuk pemasaran iPad.

Senantiasa Melakukan Perbaikan Yang Berkesinambungan

Produk digital adalah produk teknologi tinggi yang paling cepat life cyclenya. Sehingga diperlukan upaya-upaya perbaikan yang berkesinambungan untuk memperpanjang usia produk agar diterima terus oleh pasar. Contoh yang paling nyata adalah pemutar music iPod. Yang sejak tahun 2002 terus menerus mengalami perbaikan dan inovasi mulai dari iPod Classic, iPod Shuffle, iPod Nano, iPod Touch. Dan dalam hal ini Steve sangat piawai menjadi arsiteknya.

Berinvestasi untuk Manusia

Walaupun terkenal sebagai personal yang meledak-ledak, Steve Jobs adalah pemimpin yang menyadari pentingnya sumber daya manusia yang hebat, terutama dalam industri teknologi tinggi yang sangat ketat persaingannya. Steve Jobs selalu berusaha menarik orang-orang hebat untuk bekerja dengannya baik di Apple, di NeXT ataupun di PIXAR.

Khusus di Apple saat pemangkasan lini produk dan sebagian karyawan, Steve tetap menjaga karyawan-karyawan yang brilliant untuk membuat gebrakan Apple yang baru. Dan walaupun dikenal suka memprovokasi Steve Jobs mampu menjaga hubungan jangka panjang yang baik dengan orang-orang hebat didalam dan diluar Apple. Sebut saja Jonathan Ive desain produk Apple yang genius, Steve Wozniak partnernya dulu yang sangat piawai dalam mendesain sirkuit elektronik serta Tim Cook.

Steve terkenal suka mengajak karyawan-karyawannya ke museum saat sedang merayakan sesuatu. Sebagai bentuk untuk mempertajam kemampuan desain serta taste.

Bangun Team Work Yang Solid

Walaupun brilliant Steve Jobs bukanlah orang yang dikenal one man show. Di Apple selalu dikembangkan budaya debat yang konstruktif serta produktif. Steve dikenal bukan tipe orang yang suka karyawan yes man, tapi lebih menantang timnya untuk adu argumen yang disertai data.

Tim-tim yang kecil selalu disukai Steve Jobs untuk mengerjakan proyek-proyek di Apple. Tim kecil dapat lebih solid dan dinamis bekerja. Brainstorming, prototype senantiasa menjadi alat dari tim untuk dapat menggali dan mendesain inovasi-inovasi yang hebat dan layak dieksekusi.

Bagi Steve Inovais bukanlah masalah berapa banyak biaya yang dihabiskan untuk riset dan pengembangan. Inovasi bagi Steve Jobs dan Apple lebih ke buadaya kerja tim yang tepat, orang-orang yang tepat, kepemimpinan tepat serta hal yang didapatkan. Semua perusahaan memiliki budaya unik yang dapat dikembangkan untuk menghasilkan suatu inovasi hebat.

Tidak ada gading yang tidak retak, walaupun terkenal sebagai pemimpin yang inspiratif  Steve Jobs dikenal juga memiliki karakter yang meledak-ledak, diktator dan obsesif. Tapi dengan prestasi dan dedikasinya dalam bidang teknologi Steve masih layak mendapatkan tempat terhormat sebagai the most respected leader.

Terinspirasi : Inside Steve’s Brain ; Leander Kehney

One thought on “Inside Steve’s Brain (Resensi Buku)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s