Zynga dan Game Jejaring Sosial


Bagi yang hobi “nongkrongin” Facebook barangkali sudah tidak asing lagi dengan game apps seperti FarmVille, CityVille, Mafia Wars, CafeWorld. Game yang berbasis jejaring sosial tersebut memang menyenangkan dan memberikan pengalaman bermain game yang unik alias bikin “kecanduan”. Game-game berbasis web dan berjalan di dalam engine Facebook tersebut sangat kental dengan “cita rasa” sosialnya. Dalam arti kita bisa berbagi info permainan, mengajak friend Facebook untuk bareng main game. Serta game yang dimainkan tidak menuntut untuk menang, berkolaborasi dengan sesama teman untuk bermain game bersama.

 

 

 

Tapi mungkin perusahaan yang ada dibalik apps game-game Facebook tersebut belum begitu banyak dikenal. Adalah Zynga, perusahaan yang mengembangkan FarmVille, CityVille, Mafia Wars, Cafe World. Perusahaan yang berbasis di San Fransisco ini di dirikan oleh Mark Pincus, technopreneur yang sudah cukup mengenal medan bisnis internet. Untuk menekan biaya Zynga memilih mengembangkan jenis game yang berbasis web, bukan game consol seperti Atari, Sony-PS, Nintendo atau Electronic Arts.

 

Strategi berikutnya game-game Zynga memilih dijalankan sebagai suatu apps game di situs jejaring sosial; dalam hal ini di situs My Space dan Facebook. Dengan strategi ini kemungkinan game-game Zynga dapat banyak dimainkan oleh para pengguna My Space dan Facebook. Apalagi dengan game yang didesain untuk “sosial” menjadikan game ini dapat secara tidak langsung di populerkan oleh para pemain game kepada rekan-rekannya di Facebook atau My Space (walaupun sebagian menganggapnya sebagai spam).

 

Dan sampai akhir tahun 2010 game-game Zynga menuai sukses dengan angka active user lebih 61 juta pengguna untuk CityVille dan lebih dari 16 juta pengguna aktif harian. Apps game buatan Zynga jauh lebih berhasil daripada apps buatan Facebook sendiri. Dan memberikan 30% pemasukan kepada Facebook dari total income yang didapat  Zynga dari para penggunanya.

 

Lantas bagaimana model bisnis Zynga untuk mendapatkan profit ?.

 

 

 

 

Secara kreatif Zynga mengembangkan model bisnis melalui penjualan barang-barang virtual serta “energy” untuk menjalankan game-gamenya secara optimal. Game buatan Zynga semuanya bersifat free. Tapi diperlukan “energy” ataupun barang-barang virtual yang diperlukan untuk lebih mengoptimalkan pengalaman memainkan game-game Zynga. Jadilah penjualan helicopter virtual (dalam Mafia Wars), traktor virtual (dalam Farm Ville), sumber energy (dalam game City Ville) menjadi sumber pemasukan yang real untuk Zynga. Pembayaran dapat dilakukan melalui Facebook Credits, Tokken, Pay Pal ataupun kartu kredit langsung. Dan para pemakai game Zynga yang “fanatik” dengan suka rela mau merogoh kocek sampai beberapa dollar agar permainan mereka terasa lebih menarik.

 

Pendapatan yang diperoleh di tahun 2010 adalah 850 juta dollar, suatu angka yang bukan main-main untuk perusahaan yang portofolio bisnisnya adalah permainan jejaring sosial yang online. Tentunya keberhasilan Zynga sampai posisi sekarang tidak lepas dari kerja ekstra keras serta strategi yang tepat sejak tahun 2007. Budaya perusahaan yang enterpreneur benar-benar diterapkan oleh Mark Pincus. Membeli perusahaan-perusahaan game yang potensial, fokus dengan game jejaring sosial berbasis Facebook dan My Space (walaupun ada resiko besar tergantung dengan pihak luar).

 

Di lain pihak kritikan-kritikan terkait isu hak cipta, spam di jejaring sosial, kualitas game yang monoton kerap mendera Zynga. Tapi fakta dipasaran game-game Zynga, sampai saat ini masih laku dan menggembungkan pundi-pundi uang Zynga, Facebook dan My Space (selain game berplatform situs jejaring sosial, game zynga sudah ada yang versi untuk perangkat mobile). Pelajaran yang diambbil dari studi kasus Zynga ini adalah  dengan kerja keras dan cerdas, sesuatu yang berupa “mainan” dapat disulap menjadi bisnis bernilai  luar biasa. Sampai dimana keberhasilan yang dapat dicapai oleh Zynga ? mungkin perjalanan waktu yang dapat menunjukkan apakah resep Zynga akan tetap disukai oleh para netter.

 

Bagaimana dengan di Indonesia ? bagaimana geliat technopreneur-technopreneur anak bangsa ? ternyata banyak potensi yang sedang berkembang walaupun mungkin namanya belum setenar Zynga. Sebut saja pengembang game produksi anak bangsa : Agate Studio, Logika Interaktif, Sangkuriang Studio, Sratego Optima (Sumber SWA no.4 2011).

 

Kita lihat bagaimana kiprah pengembang game dan aplikasi lokal gaungnya terdengar sampai mancanegara.

 

4 thoughts on “Zynga dan Game Jejaring Sosial

    1. yap Zynga dinilai cukup kreatif walaupun banyak juga isu kontroversi terkait dengan hak cipta, jadi teringat Microsoft di awal 90-an🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s