The Pixar Touch ; cerita “dapur film ajaib” Pixar


Pixar, ah nama yang sudah tidak asing bagi para penyuka film-film animasi yang segar. Sebut saja Toy Story, Monster Inc, Finding Nemo, The Incredible, Ratatouille sampai Cars 2 adalah sebagian buah kerja keras Pixar. Ciri khas film-film Pixar adalah animasi yang detail nan elegan serta karakter tokoh cerita yang mantap. Tidak hanya anak-anak, orang dewasa pun banyak yang menggemari film-film Pixar. Tapi selain filmnya mungkin tak banyak orang yang tahu tentang Pixar dan orang-orang yang ada di balik “dapur ajaib” studio film ini.

 

 

Sebetulnya sejarah studio film ini agak-agak mirip kisah Cindirella, didirikan oleh pHD Fisika yang “frustasi” Edwin Catmull. Yang juga seorang genius animasi komputer grafis, yang saat itu  komputer grafis belum dikenal sebagai media utama membuat film. Buku “The Pixar Touch; The Making Of A Company” mengupas Pixar secara apik dan menarik.

 

Ternyata di belakang kiprah Pixar banyak tokoh-tokoh menarik dan punya talenta mengagumkan. Ada sosok Edwin Catmull pH.D Fisika yang bertangan dingin mengatur para staff kreatifnya yang “hippie” sambil berhasil meyakinkan Goerge Lucas (sineas pembuat film Star Wars) serta Steve Jobs untuk membeli Studio Film ini. Ada John Lasseter, seniman luar biasa yang sangat “passionate” dengan film dan animasi. Sebagai catatan di tahun 80-an sampai 90-an teknologi komputer masih mendapat porsi yang sedikit untuk digunakan dalam pembuatan film. Dan semua orang yang berkiprah di Pixar sama-sama memiliki “passion” yang kuat akan animasi dan film.

 

Khusus tentang Steve Jobs (Founder Apple Computer) yang saat itu baru didepak dari Apple, ia banyak bertaruh habis-habisan dengan Pixar, Studio Film yang baru dibelinya tahun 1986. Dekade berikutnya Oom Steve sampai harus menguras dompetnya demi kelangsungan Pixar dan teknologi pendukungnya. Walaupun begitu, di Pixar Oom Steve bergaya pemimpin yang “baik” jauh dari kesan “megalomania” dan keras kepala waktu masih di Apple Komputer. Sampai akhirnya peruntungannya berubah, Toy Story Film laris di tahun 1995 membalikkan nasib Pixar dan Steve Jobs. Padahal nyaris saja Steve mau menjual Pixar ke Microsoft; “musuh bebuyutannya” J. Selanjutnya Pixar cukup konsisten sebagai Fim Maker yang mampu menghasilkan film-film bermutu baik secara estetis maupun secara bisnis. Pixar sudah menelurkan tujuh Blockbuster movie berturut-turut dan menetapkan dirinya sebagai entitas independen yang kreatif.

 

Sejak tahun 2006 Pixar menjadi bagian dari Walt Disney dengan nilai $7,4 Milliar. Walaupun dalam segi operasional Pixar tetap diberikan kebebasan yang penuh untuk berkreasi tanpa banyak di interverensi Walt Disney. DNA kretaif Pixar seakan lebih kuat dari Walt Disney.

 

Pada awal perkembangan Pixar bersama Steve Jobs, Pixar lebih mengedepankan aspek bisnis komputer untuk proses grafis ketimbang memproduksi film animasi yang laris. Hal ini tidak lepas dari arahan Steve Jobs sebagai CEO Pixar dan juga CEO NeXT Computer.

 

Sejak tahun 1985 tim di Pixar sudah mampu mengembangkan Pixar Image Computer (PIC) komputer dengan tenaga komputasi besar (saat itu) yang didesain khusus untuk urusan pergrafisan tingkat tinggi. Tapi ternyata bisnis Komputer Grafis tidak semenarik perkiraan Steve Jobs, disamping harganya yang relatif  mahal daya serap pasar saat itu belum besar. Tapi ada hal yang menjadi penyelamat, film animasi pendek buatan Pixar berjudul Luxo Jr menjadikan Pixar mendapatkan pujian baik dari kalangan ilmuwan komputer serta dari kalangan sineas sampai dijadikan nominasi Oscar untuk Best Short Animated Film. Padahal awalnya film animasi pendek Luxo Jr adalah film animasi untuk mempromosikan PIC, komputer grafis buatan Pixar.

 

Keberhasilan ini memberikan amunisi percaya diri yang kuat bagi Pixar untuk memproduksi film-film animasi. Dan Steve Jobs sebagai CEO pun mengubah haluan bisnis Pixar menjadi Studio Film animasi, dan menjual bisnis Komputer Grafis Pixar. Dan momentum Film Toy Story mampu mengorbitkan Pixar menjadi Studio Film berkelas yang dikuti oleh film-film animasi lainnya.

 

Pekerjaan yang dilakukan oleh Tim Pixar dalam membuat film animasi adalah pekerjaan gabungan aktifitas engineering serta aktifitas “make an art”. Gerak bulu yang terlihat nyata pada tokoh Monster “Sullie”  Sullivan di Monster Inc atau animasi laut yang memukau di Finding Nemo adalah salah satu contoh karya yang fantastik.

Pesan moral yang dapat diambil dari The Pixar Touch adalah bagaimana “passion” untuk berkarya, orang-orang yang bertalenta dan dapat saling bersinergi secara team work, menciptakan suatu karya yang outstanding.

 

*Pixar; diambil dari Bahasa Spayol; membuat gambar atau membuat pixel

3 thoughts on “The Pixar Touch ; cerita “dapur film ajaib” Pixar

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s