Buku Kopassus untuk Indonesia


20130105-093413.jpg

Akhirnya berhasil juga dapat buku tentang Kopassus ini : “Kopassus untuk Indonesia”. Buku yang secara resmi dirilis oleh pihak Kopassus dengan penulis dari pihak sipil. Berhubung di seluruh toko buku di Bandung buku ini sudah habis, akhirnya saya memperolehnya langsung memesan ke penerbit. Buku Kopassus untuk Indonesia di terbitkan oleh Red & White Publishing, dengan desain buku yang cukup trendy.

Buku ini banyak mengupas karakter kesatuan pasukan khusus mulai dari perekrutan yang super ketat dengan seleksi materi super berat, sampai beragam tugas di daerah operasi.

Banyak pengalaman yang unik dan menarik dari para personel anggota pasukan parakomando ini. Mulai dari anggota Kopassus yang baru satu kali merasakan landing karena setiap kali terbang selalu di drop dengan parasut, sampai personel Kopassus yang menyamar sebagai penjual durian untuk menembus petinggi GAM di Aceh.

Di balik hawa “angker” Korps Kopassus, pembaca buku ini di ajak “memahami” para anggota pasukan elite ini bahwa mereka juga manusia biasa yang masih memiliki perasaan dan hati nurani.

20130110-182917.jpg

11 thoughts on “Buku Kopassus untuk Indonesia

  1. Ini sosok yang pernah saya cita- citakan saat usia SD- SMP Mas Wage🙂 Sebagai anak kecil yang dibesarkan di lingkungan pedesaan/ pegunungan Jawa Tengah, tradisi militer itu punya kharisma tersendiri, entah kenapa, ini juga masih saya coba tengok ke belakang, ke generasi sebelum saya, dan ekosistem di zamannya.

    Bukan karena kegagahan, tapi lebih karena kemampuan untuk melakukan optimasi dalam kondisi keterbatasan, berikut jiwa korsa yang yang menjadi roh aktivitasnya. Kemampuan untuk selalu mampu beradaptasi di segala medan keadaan, berikut janji untuk menyelesaikan tugas, berbagi tugas dengan kawan, disitu juga yang saya dapat dari Pramuka ( kepanduan), memori itu selalu membekas, sampai sekarang.

    Waktu memilih ITB, itu pilihan sekunder sebenarnya, karena primernya adalah Akmil. Entah kenapa waktu itu jadinya SNMPTN memilih universitas, bukan akademi ketentaraan. Jadinya ya hasrat untuk selalu berusaha beradaptasi dengan segala medan keadaan, terbiasa dengan keterbatasan untuk mengoptimasi ( Less For More), solider dengan kawan seperjuangan, selalu dipegang, walau posisinya sebagai orang sipil, bukan militer.

    Wah, jadi curhat nih Mas🙂

    1. Terimakasih banyak Mas Galih kunjungannya🙂

      Semangat militansi serta kesan sosok tangguh korps militer & pasukan khusus memang jadi magnet.

      Wah saya baru tahu ternyata pilihan utama Mas Galih waktu itu adalah AKMIL.

      Setuju mas spirit survival & bertindak taktis bisa kita adopt walaupun sebagai warga sipil.🙂
      gak pa2 mas, nuhun sudah bersedia berbagi cerita,

      Wassalam

      Wage

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s