Memimpin apakah hanya dengan memberi perintah (?)


Saya suka merasa “geli” dan “gatal” jika melihat suatu aktifitas kepemimpinan hanya dijalankan sebatas memberi perintah: “gue beri perintah, loe laksanakan” kira-kira kasarnya seperti itu ๐Ÿ˜œ.

Sang pejabat pemimpin biasanya merasa sudah menjalankan tugasnya hanya dengan memberikan intruksi, perintah, permintaan, titik hanya berhenti disana.

Sisanya duduk manis dibalik meja tanpa mau tahu apa yang terjadi di lapangan. Kalimat favorit saat bertatap muka langsung dengan sub ordinatnya biasanya adalah : “saya tidak mau tahu…….” Atau sebatas “Fyi (for your information)” melalui e-mail (familiar dengan kondisi ini ๐Ÿ˜ƒ).

Saya yakin kepemimpinan dengan cara seperti ini pada kondisi normal akan banyak memberikan deficiency, ketidak puasan sub ordinat, ketidak jelasan pembagian tugas, lingkungan kerja yang kontraproduktif dan yang paling parahnya bisa merusak budaya suatu organisasi atau korporasi.

Output dari suatu aktifitas kepemimpinan adalah menggerakkan, memberdayakan serta mengarahkan personal dan semua resource yang ada untuk bergerak menuju misi-tujuan bersama yang telah disepakati.

Tugas seorang pemimpin memang memberdayakan semua resource yang ada untuk mencapai tujuan bersama. Hal ini dilakukan melalui instruksi-instruksi yang diberikan untuk mencapai tahapan-tahapan tertentu dalam mencapai tujuan.

Tapi dalam aktifitas kepemimpinan tidak hanya sebatas melulu target dan tujuan tekstual yang menjadi target utama. Proses yang sehat (walaupun bisa jadi tidak selalu ideal) bagi semua elemen yang terlibat didalamnya adalah target yang tidak kalah penting.

Ini berhubungan dengan bagaimana sub ordinat, kolega, partner masing-masing menjadi individu terbaik saat berada dalam kepemimpinan yang kita lakukan. Mereka semua bisa “melejitkan” potensi terbaiknya menjadi individu-individu yang bersemangat menjalankan amanah tugasnya (dalam beragam porsi dan konteks).

Aktifitas kepemimpinan adalah aktifitas yang berhubungan dengan manusia. Yang pastinya akan melibatkan beragam parameter yang kompleks. Seorang pemimpin harus memiliki sisi empati, kebijaksanaan yang sepadan dengan integritas, disiplin dan kompetensi teknis.

Kemampuan berempati, melihat sesuatu permasalahan secara bijak adalah modal pemimpin untuk dapat “menyentuh” dan “menggerakkan” individu yang dipimpinnya. Termasuk juga keteladanan adalah salah satu tool efektif untuk dapat memotivasi dan menggerakkan orang.

Keteladanan hanya bisa diberikan jika seorang pemimpin sering berinteraksi secara alamiah dan sehat dengan kolega yang dipimpinnya. Sekat-sekat struktural yang ataupun protokoler birokrasi yang kaku hendaklah tidak berlaku saat interaksi ini.

Standar yang digunakan adalah rasa saling menghormati dan menghargai sebagai sesama anak Adam dan anak Hawa yang bersama-sama sedang berjuang meraih prestasi dihadapanNya.

Aktifitas kepemimpinan adalah suatu seni dalam bekerja bersama (bukan hanya memerintah) untuk menggapai keberhasilan bersama. Aktifitas in tidak hanya sebatas aktifitas high tech get things donetapi juga high touch get everybody growing.

Bagaimana menurut anda ?

20131105-215120.jpg

Catatan kecil 1 Muharram 1435 Hijriyah

3 thoughts on “Memimpin apakah hanya dengan memberi perintah (?)

  1. Aku setuju sepenuhnya….entah kenapa banyak orang yang cenderung lebih senang menjadi “bos” daripada “leader”…apakah karena merasa gengsi untuk turun tangan mengerjakan rutinitas atau hanya sekedar menghabiskan waktu bila ikut melaksanakan tugas? padahal bila kita diberi amanat dengan training pekerjaan yang jelas akan lebih mudah melaksanakannya dan komunikasi pun jadi jauh lebih baik. Dan anehnya lagi banyak pula yang memberikan training kepemimpinan dengan cara seperti itu, misalnya dari lembaga trainer yang mengatakan bahwa kita harus bisa memberi perintah, atau bila kita menanyakan pekerjaan ada yang memberi instruksi : suruh si A atau si B saja…..itu juga membuatku “geli” , berarti itu semua hanya sebatas memberi perintah : gue perintah loe laksanakan dan kita pun di ajarkan untuk menjadi pemimpin yang seperti itu. Bila kita hanya diajarkan “suruh si A atau si B ” bagaimana kita tahu kendala teknis operasional pekerjaan kita? Dan yang lebih “geli ” lagi, banyak pula masyarakat kita yang tersinggunng setelah saya kritik dalam masalah leadership ini. Saya pikir bagaimana bisa maju suatu organisasi bila pemimpin tak mau terlibat langsung dalam masalah pelaksanaan teknis…..
    nice posting

  2. Absolutely agree that you can’t lead with your feet on the desk๐Ÿ™‚

    Actually the persuasive method is an ideal method for giving an assignment. But if there is a big difference of knowledge and experience of both parties, the discussion will be tiresome. It seems not everyone is pretty patient to give an explanation for all of his decision๐Ÿ™‚

    Terkadang loading pekerjaan yang menumpuk, plus tenggat waktu yang mepet, membuat diskusi menjadi barang mewah. Untuk kasus tersebut sebaiknya dipilih tugas-tugas tertentu saja yang didiskusikan panjang lebar dan diberi asistensi saat pelaksanaan. Sebagai anak buah rasanya saya juga tidak happy jika atasan terlalu sering memberi petunjuk rinci tentang apa yang harus saya lakukan, atau memberi asistensi intensif terhadap semua tugas, Tugas-tugas tertentu saja yang membutuhkan perlakuan seperti itu.

    High touch get everybody growing? Iyes, bagus sekali klo leader bisa sekaligus berfungsi sebagai Mario Teguh bagi timnya๐Ÿ™‚

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s