The Start-up of You : Dinamis, Adaptif, Inovatif, Kolaboratif dan Risk Taker (Bagian 1)


Image

“All humans are entrepreneurs not because they should start companies but because the will to create is encoded in human DNA.”

Istilah Start-up biasanya disematkan untuk perusahaan-perusahaan yang baru berdiri yang umumnya bergerak dalam bidang teknologi, internet dan layanan web. Di era tahun 2005 sampai sekarang istilah perusahaan Start-up terdengar seksi dan cool. Perusahaan-perusahaan dot com atau perusahaan teknologi yang sekarang sudah dikenal seperti LinkedIn, Twitter, Facebook, Instagram, Kaskus pada awalnya adalah sebuah entitas start-up yang digerakkan oleh semangat kewirausahaan.

Umumnya perusahaan start-up bersifat dinamis, mudah beradaptasi secara cepat dengan perubahan serta inovatif. Tentunya hal tersebut dituntut ada dalam sebuah start-up, dengan kondisi sumber daya yang relatif terbatas dan dalam iklim bisnis yang penuh ketidakpastian jargon berinovasi atau mati adalah sebuah mantra keharusan.

Buku The Start-up of You yang ditulis oleh Reid Hoffman dan Ben Casnocha yang menyajikan semangat entrepreneurship dalam konteks karir profesional yang sangat menarik (menurut saya). Kedua penulis tersebut memiliki latar belakang entrepreneur bahkan Reid Hoffman co-founder situs jejaring sosial profesional LinkedIn berprofesi sebagai angel investor. Sampai postingan ini ditulis buku The Start-up of You ini masih belum ada versi Bahasa Indonesia.

Reid Hoffman dan Ben Casnoscha menyajikan paparan tentang ide DNA Start-up; dinamis, adaptif, inovatif serta kolaboratif menjadi lebih luas lagi. Tidak hanya untuk entitas perusahaan atau business owner tapi juga untuk karir seseorang (employee atau self employee). Ada satu premis yang menarik yang disajikan dalam awal buku yaitu “sebetulnya semua manusia itu adalah entrepreneur” …ya entrepreneur, sejak jaman dahulu sejak peradaban manusia masih mengandalalkan berburu dan tinggal dialam terbuka insting untuk bertahan hidup menhadapi dan mengelola resiko yang ada sudah ada didalam diri manusia. Menurut saya cukup make sense, entrepreneur di era sekarang adalah banyak berhubungan dengan aktifitas mengelola resiko bukan menghindari resiko. Aktifitas bisnis banyak berhubungan dengan membuat suatu layanan, produk, jasa ditengah market yang penuh resiko untuk menghasilkan nilai tambah bagi konsumen serta perusahaan.

Ide ini pun sebetulnya relevan jika diterapkan dalam kerangka profesi sebagai pekerja atau free lance. Mengelola resiko, dinamis, adaptif, inovatif dan kolaboratif dapat diterapkan dalam perjalanan karir ataupun saat membangun kompetensi. Meniti karir dalam sebuah korporasi pun tentu tidak lepas dari faktor resiko. Karena sebuah korporasi bisnis adalah pelaku usaha yang “berselancar” dalam lautan bisnis yang penuh resiko dan perubahan selera pasar serta iklim bisnis maka status pegawai pun tidak lepas dari resiko PHK, pemutusan kontrak kerja.

Reid Hoffman memberikan contoh Detroit Amerika Serikat yang pada awalnya adalah daerah bisnis otomotif raksasa kebanggaan Amerika, yang seakan imun dengan resesi ataupun perubahan iklim bisnis. Akhirnya Detroit dan kerajaan-kerajaan otomotif General Motor, Chrysler, Ford rontok tersapu oleh badai krisis moneter serta persaingan ketat dengan industri otomotif Jepang. Jajaran bisnis keuangan di Wall Street; Lehman Brothers, Merryl Lynch, JP Morgan tidak luput dari hantaman badai krisis keuangan tahun 2009. Pemutusan kontrak kerja terjadi dimana-mana di Amerika mengakibatkan angka pengangguran meningkat. Para pekerja yang sudah biasa hidup dan beraktifitas dalam zona nyaman pun harus banting stir. Disinilah mungkin naluri untuk bertahan hidup diperlukan.

Beta Permanent

Pola pikir dan mental  untuk bertahan mengelola resiko ala seorang entrepreneur diperlukan untuk bisa terus bertahan, tumbuh berkembang dalam profesi apapun. Berhubung kebutuhan terhadap suatu keahlian, produk senantiasa berkembang dalam suatu proses karir ataupun dunia usaha, Hoffman dan Casnoscha menawarkan konsep “permanent beta”. Yaitu senantiasa menempatkan aktifitas profesional dalam fase yang harus terus menerus diasah ataupun diperbaiki. Mungkin mirip dengan konsep “Kaizen” Jepang. Istilah “beta” ini biasanya digunakan untuk fase peluncuran suatu produk teknologi ke market yang masih belum 100% sempurna, untuk dapat mendapatkan umpan balik dari pengguna. Masih ingat saat kita menggunakan layanan Google tahun 1998 yang masih versi beta ataupun layanan email Gmail-beta.

Kemampuan Kompetitif

Dalam iklim persaingan profesional dan dunia bisnis yang keras seperti sekarang iklim persaingan berlangsung sangat ketat. Dengan adanya teknologi internet hampir setiap orang dibelahan bumi memiliki akses yang relatif sama terhadap informasi. Iklim profesional pun cenderung untuk bersifat global. ontoh kasus produk teknologi dengan merek Amerika Serikat di rakit di pabrik Shenzen Cina dan dipasarkan melalui Singapura. Sehingga agar bisa berkompetisi diperlukan kemampuan yang kompetitif baik untuk sebuah perusahaan ataupun seorang profesional. Tidak selalu harus menjadi yang terbaik dari semua kompetitor tapi menjadi yang terbaik disuatu bidang yang spesifik. yang memiliki nilai tambah untuk pangsa pasar tertentu. Mengasah kompetensi yang relevan dengan bidang profesional kita ataupun dengan portofolio bisnis akan sangat menunjang untuk dapat bertahan dalam era kompetisi yang ketat.

Image

Aset, Visi & Market

Komponen aset yang kita miliki, visi kedepan serta market yang ada menjadi titik tolak kemampuan kompetensi apa yang kita miliki. Misalkan seorang peneliti di perusahaan life science dengan latar belakang kemampuan bioteknologi yang kuat, bertugas dalam tim pengembangan suatu produk baru menambah kemampuan kompetensi dengan mengasah kemampuan dalam patent analysis atau patent forecasting. Sebagai “senjata” tambahan dalam melaksanakan aktifitas profesional penelitian dan pengembangan diperusahaan tempat bekerja. Untuk mendapatkan suatu kemampuan kompetitif yang baru dan kuat tentu diperlukan investasi baik investasi waktu, biaya.

Adaptif

Image

Rencana A-B-Z

Perubahan dalam kehidupan adalah sesuatu yang tidak bisa dihindari. Termasuk dalam karir profesional ataupun dunia usaha. Kemampuan untuk beradaptasi secara cepat dan mengantisipasi perubahan adalah suatu kemampuan yang kritikal untuk bisa bertahan dan tumbuh berkembang. Tetap teguh dan konsisten dalam konteks kekinian akan tetapi fleksibel dalam mengadopsi perubahan yang mungkin terjadi. Ibaratnya dalam strategi militer, tedapat rencana A, B atau Z dalam karir profesional ataupun dalam aktifitas bisnis. Saat sewaktu-waktu terdapat perubahan moderat ataupun radikal dalam lingkungan profesional ataupun pangsa pasar sudah terdapat rencana antisipasi yang cukup terukur dan sistematis.

Contoh perjalanan karir Sheryl Sandberg adalah contoh perjalanan karir yang cukup menarik untuk disimak. Wanita nomor dua di Facebook mendampingi Mark Zuckerberg sebagai COO Facebook awal mulanya meniti karir sebagai asisten Larry Summer dalam  kabinet Barack Obama, beralih ke Google bagian periklanan dimana saat itu Google masih sebagai Start-up belum sampai tahap raksasa internet seperti sekarang. Sampai akhirnya “banting stir” berlabuh membesarkan Facebook (masih berbentuk Start-up) sebagai COO, mendampingi Mark Zuckerberg yang masih “miskin” kemampuan manajerial dalam membesarkan facebook. Kiprah Sheryl di Facebook banyak dipuji sebagai wanita karir yang membesarkan Facebook baik dalam skala bisnis ataupun dalam konteks internal Facebook (buku Lean In Sheryl Sandberg banyak mengupas sisi leadership dan karir dari ibu yang satu ini).

Membangun Jaringan yang Relevan 

Jaringan pertemanan atau bahasa kerennya networking memiliki kontribusi dalam membangun karir profesional ataupun aktifitas bisnis yang kuat. Perkembangan karir profesional atauoun bisnis bisa berkembangan secara eksponensial dengan bantuan jaringan yang tepat dan relevan (tentunya bukan dengan jaringan politik transaksional yang cenderung korup). Jaringan yang relevan bisa sebagai rekan kerja, partner bisnis ataupun mentor yang mampu melejitkan kemampuan atauoun membuka akses kedalam sumber modal, teknologi ataupun sumber daya lainnya. Di Silicon valley sebagai icon dunia technopreneur sudah lazim jejaring profesional ataupun pertemanan yang relevan menghantarkan kedalam resource yang tepat untuk membantu tumbuh berkembang. Contoh saat tatkala membangun Facebook, Mark Zuckerberg mendapatkan pendanaan awal dari Peter Thiel seorang angel investor terkemuka berkat rekomendasi dari Sean Parker, seorang kawan Zuckerberg.

Di Indonesia terdapat Komunitas TDA (Tangan Di Atas) yang bisa sebagai role model networking business. Komunitas TDA ini mengkolaborasikan para wirausahawan dan membentuk agregat-agregat komunitas pelaku usaha serta calon pelaku usaha dengan visi tumbuh berkembang bersama secara sehat. Komunitas ini terlihat aktif dan dinamis mendukung perkembangan aktifitas bisnis para anggotanya serta terlibat aktif dalam masalah sosial di negeri ini.

=======================================================================

Berhubung topik buku ini masih ada beberapa chapter yang menarik untuk dibahas, postingan ini dilanjut ke postingan berikutnya🙂.

Semoga bermanfaat.

Bandung 23 Februari 2014

(Bersambung)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s