wagenugraha

Small Office Home Office, produktif bekerja dari rumah mengapa tidak ?

In Experience on December 5, 2009 at 8:53 am

Ditengah tingkat kehidupan yang cukup stress di daerah perkotaan ada sebuah budaya kerja yang menarik, bekerja dari rumah. Ditengah kondisi kemacetan perjalanan pulang pergi ke tempat kerja, biaya penyediaan kantor dan pemeliharaannya yang cukup mahal maka metoda bekerja dari rumah (small office home office-SOHO) menjadi salah satu alternatif yang dilirik agar tetap bisa produktif. Selain efisiensi dan produktifitas, insentif dari bekerja dari rumah agar para pegawai profesional dapat senantiasa dekat dengan keluarga sambil tetap berprestasi dalm karir profesionalnya.

Untuk para pelaku bisnis, entrepreneur ataupun self employee mungkin bukan suatu hal yang sukar jika menetapkan keputusan untuk melakukan pekerjaan dari rumah, karena mereka dapat mengendalikan sepenuhnya pekerjaan. Lain halnya untuk para pegawai professional disebuah perusahaan, umumnya sebuah perusahaan menetapkan para pegawainya untuk dating setiap hari kerja ke kantor. Dan terkadang pada kondisi-kondisi tertentu stress diperjalanan, stress di kantor dapat mereduksi  tingkat produktifitas kerja para pegawainya.

Ada suatu ungkapan yang menarik dari sebuah blog yang dimiliki (sekarang mantan) Managing Director Cisco Indonesia; “Work is an activity it isn’t a place”. Sangat menarik sebuah aktifitas pekerjaan sebetulnya sebuah kegiatan yang tidak dibatasi oleh tempat.

Dan ternyata dinegara-negara maju konsep Small Office Home Office (SOHO) banyak diterapkan termasuk dikalangan perusahaan-perusahaan. Mereka membuat system yang memungkinkan para pegawainya tidak selalu harus “ngantor” setiap hari, tanpa menghilangkan produktifitas serta mengurangi kualitas pekerjaan. Dan dibeberapa tempat di Indonesia atau diperusahaan-perusahaan tertentu, model bekerja seperti ini sudah diadopsi untuk diaplikasikan.

Dengan adanya teknologi informasi yang sekarang sudah sangat handal, serta menggunakan Web 2.0 sebetulnya hal tersebut sudah bisa dilakukan. Pekerjaan dapat dikolaborasikan melalui e-mail, blog, Wiki bahkan bisa menggunakan situs jejaring social (perusahaan-perusahaan tertentu membuat situs jejaring social internal mereka sendiri). Untuk berkomunikasi langsung antar karyawan dan manajemen dapat melalui telepon, VoIP, Instant Messaging, Telepresence, Teleconfrence.

Untuk bisa mengoptimalkan bekerja dari rumah atau tempat lainnya yang bukan kantor, maka ada hal-hal  tertentu yang perlu disiapkan dan ditekankan.  Bekerja dari rumah bukan artinya bersantai ria dan berleha-leha tapi lebih merupakan kebebasan untuk mengambil  tanggung jawab terhadap profesi.

Sebagian faktor-faktor yang dapat mendukung keberhasilan bekerja dengan Small Office Home Office :

Punya motivasi yang kuat dan target yang jelas.

    1. Menyediakan infrastruktur teknologi dan telekomunikasi yang memadai
    2. Menyediakan software pendukung, baik untuk komunikasi, conference  sampai pelayanan terhadap pelanggan.
    3. Menyediakan IT Support yang tetap terjaga dan handal.
    4. Merancang kebijakan aturan lingkungan kerja di rumah (work @home policy) yang jelas, benar dan konsisten.
    5. Menerapkan disiplin jam kerja (business hour).
    6. Menjalankan periode transisi untuk membangun kenyamanan dalam bekerja
    7. Melaksanakan executive  meeting setiap pagi melalui conference call.
    8. Menyediakan morning report harian termasuk karyawan non-eksekutif.
    9. Melakukan review harian terhadap kondisi infrastruktur teknologi.
    10. Menjalankan mekanisme control untuk menjaga kualitas produk/ layanan kepada pelanggan.

    Dikutip dari Majalah SWA edisi 25, 2009

    Dari sisi pelaku bekerja dari rumah juga memerlukan semangat, antusias, tanggung jawab dan disiplin yang tinggi karena mereka pada dasarnya sedang melakukan pekerjaan secara professional. Seminimal mungkin hal-hal yang dapat mengganggu pekerjaan dapat diantispasi sebelumnya. Ada tips-tips dari yang sudah melakukan pekerjaan dari rumah :

    • Usahakan memiliki tempat bekerja yang khusus di rumah sehingga tidak terlalu terganggu oleh aktifitas para penghuni rumah lainnya.
    • Sosialisasikan kondisi bekerja di rumah dengan para anggota keluarga lainnya (suami, istri, anak).
    • Menyediakan perangkat kerja yang mendukung (kecuali jika sudah disediakan kantor) mencakup : telepon, computer, jaringan internet, keperluan arsip dokumen sifatnya condional sesuai denga jenis pekerjaan yang dilakukan.
    • Menetapkan jam kerja yang  disiplin serta penuh tanggung jawab (sesuai dengan poin 5 & 6 diatas).

    Selain kelebihan dari sisi efisien, kedekatan dengan keluarga para pegawai, bekerja dari rumah juga memiliki kekurangan. Salah satunya yang dirasakan para perusahaan yang menggunakan metode SOHO ini adalah kurangnya interaksi social secara langsung diantara para pegawainya. Terasa ada sesuatu yang kurang, karena umumnya di kota-kota besar tempat pekerjaan adalah salah satu tempat untuk berinteraksi sosial secara langsung.

    Jalan tengahnya lakukan pertemuan, meeting atau agenda acara yang melibatkan pertemuan secara langsung diantara pegawai dengan periode tertentu sehingga dapat memecah “kekurangan” karena tidak ada interaksi sosial secara langsung.

    Konsep melakukan pekerjaan dari rumah bagi para pegawai dan pekerja professional adalah salah satu cara untuk tetap produktif  secara efisien dan tetap menyeimbangkan peran dalam keluarga masing-masing. Walaupun mungkin tidak semua jenis pekerjaan bisa dilakukan dengan model seperti ini.

    Faktor kedisiplinan, mentalitas kerja, teknologi yang mendukung serta visi dan kebijakan pihak manajemen merupakan factor utama yang akan menentukan keberhasilan metode bekerja di rumah. Karena menurut hemat penulis bekerja dari rumah merupakan salah satu cara agar menyeimbangkan produktifitas pekerjaan secara professional dengan tanggung jawab dalam keluarga.

    “Work is An Activity It isn’t place”

    Sejauh Mana Toleransi Kita?

    In Renungan on December 4, 2009 at 6:14 am

    Artikel menarik untuk disimak menjadi renungan kita semua,

    Dr. Aidh Al Qarni
    Sejauh Mana Toleransi Kita?
    www.eramuslim.com

    Al Quran mengajarkan kita untuk melaksanakan toleransi, perdamaian sosial, perlakuan yang manusiawi, dan kasih sayang sesama manusia, menahan amarah dan memaafkan semua orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik.

    الَّذِينَ يُنفِقُونَ فِي السَّرَّاء وَالضَّرَّاء وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ وَاللّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِين
    (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema’afkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan. (Ali Imran 3:134)

    Toleransi dimulai dengan toleransi dengan diri sendiri, dengan menahan diri dari menyimpan dendam dan kebencian dan permusuhan. Sebaliknya kita harus mengajar diri sendiri rahmat, persahabatan, dan perdamaian. Kita harus mengampuni orang tua kita, kerabat, dan semua kerabat kita, memelihara hubungan darah, karena memang Allah swt telah memerintahkan kita untuk melakukan itu semua.

    Kita harus bermurah hati dengan kerabat kita, merawat mereka, memaafkan kesalahan mereka, dan menoleransi kerugian yang mereka lakukan kepada kita. Kita harus toleran dan memaafkan anggota-anggota masyarakat kita sehingga jika mereka berbuat salah, kita akan membetulkan mereka dengan kelembutan dan nasihat ringan, mengingat bahwa kita mungkin sama seperti yang mereka lakukan.

    Kita harus mengirimkan pesan tentang toleransi dan perdamaian ke dunia. Kita harus menunjukkan kepedulian kepada bangsa-bangsa lain `keselamatan dan kesejahteraan sehingga mereka dapat diyakinkan bahwa kita tidak akan menyakiti mereka. Mereka dan kita hidup di planet yang sama. Kita memiliki kepentingan bersama dan keuntungan. Sebagai manusia, kita semua memiliki tanggung jawab terhadap satu sama lain.

    Di sinilah kita menunjukkan wajah Islam yang indah tanpa kekerasan, penghinaan, dan penindasan. Ia memerintahkan kita untuk menggunakan wacana dan perlakuan yang lembut. Allah swt melarang kita untuk menggunakan terorisme intelektual dan mencoba untuk mengendalikan pikiran orang secara paksa.

    Kita perlu menunjukkan kepada dunia bahwa kita peduli tentang kesuksesan, kebahagiaan, dan kehidupan masyarakat. Nabi Muhammad saw diutus untuk membawa kebahagiaan, bukan kesengsaraan kepada rakyat, untuk memimpin mereka kepada keselamatan, bukan kebinasaan, menjaga keamanan dan kehidupan mereka, dan tidak membunuh mereka, kecuali di jalan kebenaran. Rasulullah mengatakan demikian dalam indah dan terinspirasi khotbah pada suatu waktu: “Kalian dilarang untuk membunuh satu sama lain, mengambil harta, dan kehormatan. Larangan ini suci seperti hari ini, di bulan ini, di tanah yang suci ini.”

    Mengapa orang-orang di dunia selalu melihat orang Islam sebagai pelaku kekerasan? Kita selalu bekerja untuk melakukan kerja kemanusiaan, tapi mengapa sebagian dari kita selalu dianggap sebagai ancaman?

    Selama ini, karena kita tidak benar-benar setia kepada agama kita, kita lemah dan tidak siap. Kita terus dicerai-beraikan, cengeng, dan primitif ketika datang ke dunia materi yang mereka sebut peradaban. Orang-orang asing marah dan lelah dengan dunia dan diri mereka sendiri. Mereka marah dengan segala sesuatu, dengan orang-orang dan bahkan dengan air yang mereka minum dan udara yang mereka hirup. Mereka seperti ini karena mereka memiliki sedikit pengetahuan dan tidak mampu untuk hidup dalam persahabatan dan perdamaian dengan masyarakat mereka. Mereka tidak mampu berinteraksi dengan orang dan menunjukkan atau menerima kasih sayang.

    Wallahu’alam Bishawab

    KERENDAHAN HATI…….

    In Experience on December 1, 2009 at 7:46 am

    Kalau engkau tak mampu menjadi beringin
    yang tegak di puncak bukit
    Jadilah belukar, tetapi belukar yang baik,
    yang tumbuh di tepi danau

    Kalau engkau tak sanggup menjadi belukar,
    Jadilah saja rumput, tetapi rumput yang
    memperkuat tanggul pinggiran jalan

    Kalau engkau tak mampu menjadi jalan raya
    Jadilah saja jalan kecil,
    Tetapi jalan setapak yang
    Membawa orang ke mata air

    Tidaklah semua menjadi kapten
    tentu harus ada awak kapalnya….
    Bukan besar kecilnya tugas yang menjadikan
    tinggi rendahnya nilai dirimu
    Jadilah saja dirimu….
    Sebaik-baiknya dari dirimu sendiri

    -Taufik Ismail-
    BTA 70 95-96