“Gadget” Produktifitas : Buku Catatan
Di tengah euforia era digital dimana hampir setiap perangkat digital di elu-elukan sebagai alat bantu mendongkrak produktifitas, masih adakah tempat untuk buku catatan berbasis kertas
?
Bagi para pekerja kerah biru di era sekarang kehadiran beragam gadget yang di anggap sebagai alat bantu yang sangat efektif pastilah sudah sangat biasa entah itu Smartphone dari beraneka ragam marga Android, iOS, Blackberry, Windows Phone, Symbian ataupun bisa juga laptop dan variannya seperti netbook ataupun tablet PC yang sedang ngeboom. Tentunya menggunakan jenis-jenis perangkat digital tersebut diharapkan dapat membantu beragam pekerjaan mulai dari mencatat hal-hal penting, mengatur jadwal, membuat dokumen dan beragam aneka pekerjaan “office” lainnya. Dan dengan perkembangan teknologi digital sekarang hampir semua tugas dan ragam kebutuhan ita dapat dilakukan oleh beragam perangkat digital yang tadi disebutkan. Budaya dan karakter multi-tasking seakan sudah menjadi tuntutan bagi kaum pekerja “modern”.
Tapi ada sedikit ganjalan bagi saya pribadi, sebetulnya perangkat-perangkat digital tersebut tidak sepenuhnya mendukung produktifitas. Bahkan jika tidak bijak perangkat digital yang menjadi “senjata organik” dapat menjadi barang yang merepotkan dan mengganggu. Masalah biaya dan harga perangkat gadget tidak saya permasalahkan, tapi yang lebih utama adalah berpotensinya alat-alat tersebut jadi sumber distraction. Melalui perangkat digital bergerak seperti Smartphone ataupun tablet PC beragam gangguan yang sangat menggoda berupa pop-up notification email, social network, chatting, newsfeed. Faktanya mas banyak kita jumpai saat pertemuan rapat, seminar, kuliah banyak peserta yang asyik atau setidaknya sekali-kali sibuk sendiri dengan perangkat gadgetnya untuk melakukan hal-hal. Tentunya beragam distraction yang ada berakibat negatif untuk konsentrasi.
Memang kembali lagi dengan kendali diri dari pengguna perangkat-perangkat tersebut. Tapi saya jadi tergugah dengan gadget kuno, buku tulis kecil..ya buku catatan kecil yang bisa masuk kedalam saku. Ternyata nyaman dan mudah digunakan untuk mencatat ide-ide yang harus segera “ditangkap”. Tinggal buka halaman buku dan menuliskan dengan ballpoint, semudah itu, efektif dan efisien. Menulis tulisan tangan bagi saya terasa lebih intuitif daripada mengetik melalui keyboard ataupun thumbs keyboard, dan masih jauh lebih nyaman dibandingkan menulis melalui stylus (masih ingat dengan era PDA/Pocket PC era awal tahun 2000, sekarang beberapa perangkat Smartphone atau Tablet PC mengadopsi kembali penggunaan stylus) jadi ingat dulu pernah tergila-gila dengan PDA jenis Palm OS walaupun fitur hand writing recognition; Grafitti dari Palm sangat inovatif menulis dengan tulisan tangan manual terasa masih lebih nyaman.
Tentunya opini ini tidak bermaksud menghilangkan kelebihan-kelebihan yang dimiliki oleh gadget-gadget perangkat digital. Tapi lebih menekankan bahwa tidak selalu untuk produktif selalu harus menggunakan gadget-gadget digital yang sexy :p dan high-end. Cukup dengan buku catatan kecil dan ball-point kita bisa tetap mengerjakan hal-hal yang berguna.
Hanya sebatas opini dan pegalaman menggunakan kembali buku catatan kecil, ditengah hingar bingar nya bombardir beragam perangkat digital yang menawarkan beragam fungsi dan fitur.
Lenovo dan kampanye “For Those Who Do”
Banyak cara untuk memasarkan suatu produk. Tidak melulu menawarkan tentang spesifik dan keunggulan produk tapi bisa dengan jalan lain yang “embeded” atau di asosiasikan dengan produk yang ditawarkan. Bahkan dengan jalan ini emosi konsumen bisa tersentuh dan brand produk akan mendapatkan perhatian lebih. Hemm maka tidak salah marketing adalah sebuah seni yang melibatkan berbagai keterampilan dan berbagai sisi kecerdasan
.
Para perusahaan besar yang mencoba mendifferensiasikan produknya biasanya jarang hanya dengan polosnya mempromosikan spesifikasi suatu produk. Biasanya menggunakan asosiasi ataupun hal-hal yang dapat diasosiasikan secara cerdas dengan produknya. Saya jadi teringat tag line promosi Apple saat awal-awal kembalinya Steve Jobs yaitu : Think Different. Yang mengasosiasikan produk Apple dengan icon-icon dunia yang mampu menorehkan perubahan, walaupun yang pasti mereka tidak pernah menggunakan produk-produk Apple. Atau Cisco System perusahaan teknologi yang bergerak dalam bidang router internet, CEO Cisco John Chambers tidak menawarkan semata-mata routers internet dan sejenisnya tetapi menawarkan hal yang lain. Produk-produk Cisco diposisikan sebagai tools untuk membuat kekuatan Human Network. Facebook jejaring sosial media terbesar, alih-alih sebagai sosial media yang “gaul” memposisikan diri nya sebagai media yang dapat merubah cara orang berinteraksi dan berkomuikasi.
Saya tertarik dengan Lenovo, produsen PC global dari Cina yang mengkampanyekan Lenovo For Those Who Do. Suatu kampanye Lenovo yang memposisikan produk-produk PC dan variannya, sebagai alat produktifitas bagi para inovator atau insan kreatif. Dalam kampanye nya Lenovo memberi istilah para inovator dan orang-orang kreatif sebagai “The Do’ers”. Melalui kampanye nya Lenovo banyak menggandeng para inovator ataupun pelaku bisnis sebagai endoser produk Lenovo mulai dari pencipta Jetpad, pemilik restoran. Melalui kiprah para inovator dan orang-orang kreatif tersebut, brand image produk Lenovo seperti Thinkpad, IdeaPad ataupun Tablet Lenovo akan makin menguat di mindset segmen pasar yang dibidik Lenovo. Tentunya dalam hal ini adalah para pelaku industri kreatif, peneliti , pengusaha atau pu The Do’ers versi Lenovo lainnya.
Selain itu Lenovo For Those Who Do menawarkan semacam sayembara ide-ide inovatif yang belum pernah dikerjakan sebelumnya melalui situs Lenovo Do network.
Gambar Via AddSoftTheWord
Dalam percaturan bisnis teknologi terutama PC yang sudah crowded memang mutlak diperlukan strategi-strategi pemasaran yang jitu. Lenovo yang secara head to head bersaing dengan vendor-vendor global lainnya seperti Acer, DELL, HP memerluka jurus jitu yang mampu memperkuat mindset konsumen dan brand image produk.
Sebetulnya kampanye Lenovo ini merupakan langkah positioning produk-produk Lenovo dengan mengambil isu tentang alat produktifitas yang cocok bagi para inovator dan pelaku industr kreatif. Cukup cerdas menurut saya, karena memang kalangan ini yang banyak menggunakan komputer dan variannya sebagai alat bekerja.
Keterangan : Lenovo adalah produsen PC dari Cina yang memilii pangsa pasar cukup besar dalam skala global, mengakusisi Divisi PC IBM sehingga Brand Notebook ThinkPad menjadi salah satu icon Lenovo.
Posting blog ini bukan iklan Lenovo lho, hanya sebatas studi kasus marketing produk yang cukup menarik bagi penulis untuk diangkat jadi bahan tulisan
.
Catatan Kecil tentang Keluarga
Keluarga adalah elemen kehidupan yang vital, karena di dalam keluarga berlangsungnya pembinaan generasi baru agar lebih baik. Bagi yang sudah berkeluarga, secara mutlak harus memberikan waktu, energi dan perhatian untuk keluarga. Sesuatu yang saya pikir adalah konsekuensi mutlak saat mengambil tanggung jawab berkeluarga.
Ibaratnya mengelola perusahaan, perhatian, energi yang diberikan bisa dianalogikan investasi jangka panjang agar keluarga tumbuh berkembang menjadi lingkungan yang sehat membawa ketenangan dan meneruskan generasi yang kuat. Bagaikan sebuah pohon perlu ketekunan dan kesabaran dalam menjaga keluarga. Dari keluarga yang sehat dan kuat pastinya akan membentuk masyarakat dan lingkungan yang lebih luas agar lebih baik lagi. Jika keluarga tidak mampu memberikan performance yang positif jangan harap sebuah bangsa bisa maju.
Buku The Shallows ; what the internet is doing to our brains
Bagi pengguna internet dengan dosis yang cukup besar (termasuk saya) buku ini menjadi “kabar buruk” tentang dampak internet terhadap cara berpikir kita. Berlawanan dengan buku-buku lainnya yang banyak memuji-muji teknologi internet sebagai suatu terobosan positif, misalkan buku The World Is Flat ataupun buku Free. Buku The Shallows dari Nicholas Carr menyajikan suatu fakta dan analisis yang berbeda tentang dampak lain dari internet.
Dengan melimpahnya informasi melalui internet serta kecepatan untuk dapat mengaksesnya memberika dampak berupa berubahnya cara bekerja dari otak kita. Pengguna internet memiliki kecenderungan untuk kurang bisa berkonsentrasi dalam jangka waktu yang lama. Otak para netters cenderung “menolak” menyerap informasi yang panjang, informasi singkat dan hyperlink yang umum tersedia dalam dunia cyber menjadikan otak kita berubah dalam cara mengelola informasi yang diperoleh. Carr dalam bukunya memaparkan ada perubahan cara kerja otak ataupun berpikir kita dalam menyerap informasi melalui buku-buku serta menyerap informasi melalui internet. Dalam argumennya Carr menjelaskan internet mendorong otak untuk lebih menyerap informasi secara singkat, enggan untuk membaca teks secara panjang dan runut, lebih menyukai karakter teks yang singkat (seperti hal nya panjang karakter huruf dalam Twitters).
Apalagi dengan maraknya internet dan jejaring sosial menjadikan pengguna internet seakan terjauhkan dari lingkungan sosial yang “nyata” dan lebih nyaman bersosialisasi dalam lingkungan yang “maya”. Tentunya hal ini juga kurang sehat bagi kualitas kehidupan seseorang sebagai mahluk yang bersifat sosial. Gaya hidup solitaire akan lebih dominan dengan budaya internet yang tidak terkendali.
Mengamati fenomena sekarang dimana internet sudah menjadi oksigen bagi sebagian orang terutama kalangan masyarakat muda usia, sehingga nyaris kebutuhan terkoneksi ke internet menjadi kebutuhan utama. Seakan-akan menjadi sesuatu yang kurang jika tidak terhubung ke internet baik itu melalui PC ataupun perangkat bergerak seperti smartphone ataupun Tablet PC (untuk perangkat yang satu ini cukup menjadi primadona di tahun 2010 dan 2011 melalui iPad Apple dan jenis Tablet Android).
Tidak bisa dinafikan teknologi internet memang menawarkan banyak kemudahan dan keasyikan yang menyenangkan bagi para penggunanya, mulai dari memudahkan pekerjaan, hiburan, berinteraksi serta menjadi daya ungkit terhadap budaya, sosial, ekonomi dan politik. Tapi tentunya suatu teknologi ada dampak negatifnya jika tidak digunakan secara tepat dan bijak.Buku The Shallows ini cukup memberikan “pencerahan” dan fakta-fakta yang menarik tentang memanfaatkan teknologi agar benar-benar memberikan nilai tambah, bukannya bersifat destruktif dan kontra-produktif.
Bandung, diakhir tahun 2011
Bagaimana pendapat anda ?













leave a comment