OOo4Kids aplikasi Open Office untuk Anak
Kemarin sempat mencoba mengunduh dan menggunakan aplikasi pengolah kata OOo4Kids (Open Office .org for kids). Sebuah aplikasi pengolah kata, spread sheet, presentasi dan gambar yang lebih ditujukan untuk anak-anak usia 7-12 tahun.

Sekilas mirip sekali dengan Open Office biasa cuma tampilan menunya lebih sederhana. Silakan dapat di unduh caplikasinya di sini.
Honda dan CEO Honda, Takanobu Ito
Siapa yang tidak kenal Honda ? produsen otomotif kelas dunia yang terkenal . Memiliki kelebihan dalam memproduksi kendaraan bermotor dengan teknologi yang inovatif, serta sesuai dengan keperluan konsumen di berbagai belahan dunia. Di Indonesia Honda terkenal karena produk motornya, salip menyalip dengan Yamaha. Seiring dengan krisis ekonomi sebagai dampak dari krisis ekonomi Amerika, Industri Otomotif dan Honda mengalami imbas akibat daya beli konsumen yang merosot.
Tapi dengan kekuatan budaya bisnis Honda yang menekankan terhadap prinsip berpikir cepat, investasi yang konservatif, dan menakar dengan kepala dingin kemampuan mereka sendiri. Honda menolak untuk mengikuti competitor dengan tidak memproduksi kendaraan pickup besar, walaupun dari segi margin keuntungan cukup menggiurkan. Untuk mobil, Honda fokus di empat model utama, mobil kompak Fit (Jazz), sedan Civic dan Accord serta CR-V, SUV kecil. Diseluruh dunia masing-masing model ini terjual lebih dari 50.000 unit per-tahun.
Fokus dan penghematan yang dilakukan mampu membantu Honda survive mengarungi badai krisis dan tetap membukukan keuntungan $ 1,5 miliar (Tahun Fiskal Maret 2009) padahal rivalnya Toyota dan Nissan merugi miliaran dollar.
Adalah Takanobu Ito seorang insinyur Honda yang sekarang didaulat menjadi CEO Honda. Ito yang telah bekerja 25 tahun di Honda terbiasa bekerja dengan anggaran yang ketat. Sehari-hari bekerja di meja kayu yang sederhana dalam ruangan yang dipakai bersama dengan eksekutif lainnya.
Pengehematan dan efisiensi terasa kental dalam budaya Honda. Dan hal ini sangat membantu Honda untuk “survive” dan lebih ramping dalam bergerak didalam iklim kompetisi industry otomotif yang super ketat. Ekspansi besar-besaran ditunda, menarik diri dari ajang balap Formula 1 untuk dapat menghemat sekitar $500 juta pertahun dilakukan oleh CEO Ito.
Satu hal menarik dari Honda dan CEO Takanobu Ito, Honda adalah perusahaan dengan budaya hierarki yang tidak terlalu kaku. Sebagian besar eksekutif level atas termasuk Takanobu Ito adalah insinyur yang lebih bersemangat membicarakan teknologi ketimbang keuangan. Kepada Ito yang telah menjabat CEO pun semua orang nyaris menyapanya dengan sebutan “Ito-san” bukan sebutan yang lebih formal “Ito-Shacho” (Presiden Ito). Kini Ito harus menjalani masa-masa penjualan yang berat ditambah dengan menguatnya Yen sehingga mengikis laba ekspor.
Honda pun mulai focus menciptakan jajaran produk yang irit BBM. Kecenderungan konsumen yang meninggalkan SUV besar dengan mobil yang kompak membantu mendogkrak penjualan Honda. “Kami ingin memproduksi dan menawarkan mobil yang nyaman dikendarai, bukan mobil yang boros” kata CEO Ito.
Budaya egaliter Ito-san dengan semangat kerja dan inovasi yang kuat mengingatkan kepada Founder Sony Corporation. Seperti inikah profil pemimpin-pemimpin korporasi Jepang ?. Efisien, egaliter dan focus untuk bisa bertahan menjawab tantangan medan yang selalu berubah.
–disadur dari Businessweek 4 November 2009 –
Cara mudah update blog wordpress setiap saat
Dengan berkembangnya teknologi komunikasi dengan perangkat bergerak maka cara untuk mengupdate blog pun menjadi bervariasi. Tidak haruis melalui Desktop PC ataupun Notebook dan Netbook. Bahkan dengan hand phone apalagi “smartphone” ada beberapa cara mudah untuk selalu update blog.
Bayangkan jika kita seorang jurnalis media digital atau blogger profesional, maka tuntutan untuk dapat mengupdate blog atau web dengan informasi yang fresh adalah tuntutan. Dengan piranti bergerak (smart phone) kita dapat mudah mengakses dan mengupdate blog. Termasuk blog worrdpress.
Cara pertama (yang saya tahu) adalah melalui email. Kita dapat mensetting blog wordpress kita agar aktif alamat email yang dapat kita kiimkan postingan-postingan. Email tersebut memiliki account .wordprress.com serta spesifik untuk setiap blog. Selanjutnya dengan had phone kita bisa mengupdate postingan blog, dengan mengirimkan tulisan ke email spesifik wordpress kita. Cukup mudah bukan ?.
Cara kedua dengan mengupdate blog melalui mini browser yang dapat diinstall dalam hand phne kita. Bagi saya pribadi brrowser opera mini atau bolt, cukup nyaman untuk dapat mengakses dan mengupdate blog.
Cara ketiga, sayangnya hanya bisa digunakan oleh para pemakai hand set Blackberry-RIM, dengan memasang aplikasi wordpress mobile untuk blackberry. Dengan aplikasi itu kita bisa mengatur blog hampir semudah menggunakan komputer, termasuk update dan edit postingan blog. Silakan dapat mengunjungi www.wordpress.com/download.
Pertarungan seru di pasar “Smart Phone”
Sebagai pengamat dan penyuka gadget amatir seru juga mengamati perkembangan dan pertarungan seru di pasaran phone cell terutama pasar smart phone. Berbagai vendor ramai-ramai terjun kedalam pasar yang di nilai berrgengsi dan menjanjikan ini. Harga yang di tawarkan pun mulai beragam mulai dari harga yang cukup ekonomis, sampai harga yang fantastis.
Kecenderungan para pengguna internet yang lebih banyak mengakses internet via perangkat mobile plus maraknya situs jejaring sosial dan teknologi web 2.0 turut mendongkrak daya tarik penggunaan “smart phone”.
Istilah smart phone biasanya ditujukan untuk hand set yang memiliki sistem operasi mobile, entah itu Palm, Windows Mobile, Symbian, Apple, RIM ataupun pendatang baru Android. Dengan adanya sistem operasi yang terpasang dalam handset tersebut menjadikan handset tsb memiliki kemampuan yang lebih menyerupai “komputer mobile”. Dapat melakukan fungsi lebih dari sekedar alat komunikasi. Umumnya smart phone memiliki kemampuan untuk akses data yang dapat diandalkan, seperti e-mail, browsing. Sebagai edit dan document viewer pun biasanya sudah dapat dilakukan smart phone, sehingga bisa mendukung aktifitas para pekerja karena bisa menggunakan peralatan phonecell nya untuk bekerja. Nilai tambahan lainnya smart phone dapat dipasang beragam aplikasi yang diperlukan para pengguna, sesuai dengan template sistem operasinya.
Nokia, Sony Ericsson telah lama dikenal sebagai vendor smartphone yang cukup dikenal, umumnya menggunakan sistem operasi Symbian. Naiknya pamor smart phone Blackberry prduksi Research in Motion (RiIM) serta masuknya iPhone buatan Apple, ternyata mampu merubah peta pasaran smartphone.
Walaupun mungkin dari segi kuantitas smartphone dengan OS Symbian masih memiliki kuantitas penyerapan pasar yang lebih besar, kehadiran Apple iPhone dan RIM Blackberry mampu mendefinisikan ulang fungsi dan kemampuan Smartphone. iPhone dengan teknologi layar sentuh “kontemporer” mampu memberikan rasa baru menggunakan sebuah smartphone. Tampilan grafis dan layar yang memukau didukung beragam aplikasi menarik menjadi daya tarilk menggunakan iPhone. Dan jangan lupa citra “keren” yang dimiliki setiap produk besutan Apple juga menular ke iPhone ini. Sehingga secara target konsumen iPhone kelihatannya tidak ditujukan untuk mass consumen tapi lebih menyasar segmen menengah ke atas dengan harga yang ditawarkan relatif lebih mahal.
Blackberry…siapa yang tidak kenal merek gadget yang fenomenal ini di Indonesia. Seiring dengan menjamurnya situs-situs jejaring sosial citra merek Blackberry pun terdongkrak. Awalnya lebih dikenal dengan perangakat komunikasi dan data bagi kalangan korporat, dengan fitur push email dan Blackberry service, smartphone ini mulai menyasar kalangan konsumen. Desain yang lebih modis, promosi tidak langsung dari para pesohor yang menggunakan Blackberry seperti Barack Obama turut mengungkit citra Blackberry sebagai suatu icon gaya hidup tidak hanya sebatas perangkat komunikasi dan bekerja. Hasilnya beberapa tahun ini Blackberry di Indonesia laku keras bak kacang goreng.
Google pun ternyata tertarik untuk bermain di pasar Smartphone. Google Android OS adalah sistem operasi untuk perangkat mobile berbasis open source. Kemampuan Google Android ini masih perlu pembuktian karena usia yang masih “hijau”. Tapi ternyata walaupun new comer para vendor smartphone sudah cukup banyak yang mengadopsi Google Android sebagai basis OS smartphone mereka. HTC, LG, Samsung, Motorola adalah vendor yang sudah melepas smartphone berbasis Google Android.
Sampai mana perkembangan teknologi di pasar smartphone? Kita amati saja yang jelas dengan ketatnya kompetisi para konsumen dapat diuntungkan. Harga smartphone kemungkinan akan menurun dengan kemampuan yang lebih mumpuni.
Kita lihat saja perkembangan-perkembangan berikutnya dari teknologi mobile.
(Tulisan ini diposting dengan menggunakan smartphone “jadul” ^_^ )
“Passionate”
Diawal pendirian Google tahun 1998-1999 duo pendiri Google, Sergey Brin dan Larry Page tidak pernah memimpikan akan membangun perusahaan teknologi miliaran dollar. Mereka berdua hanya bekerja keras untuk membuat “search-engine” yang lebih baik, dan mereka merasa senang dan antusias dalam membangun Google dari garasi rumah. Semangat dan rasa antusias duo pendiri ini seakan menjadi “DNA” perusahaan sampai sekarang. Dengan moto Don’t be Evil mereka dan Google bertekad bekerja dengan penuh passion untuk menghasilkan teknologi2 yang memudahkan para pengguna. Uniknya teknologi produk Google umumnya gratis. Mereka berpikir jika produk mereka bagus dan disukai orang-orang, maka keuntungan akan datang mengikuti. Dan selama ini Google telah bertransformasi tidak hanya sebagai raksasa mesin pencari tapi juga menjadi perusahaan internet yang unggul. Gmail, Google News, Google Earth, Google Map, Picassa adalah salah satu produk Google yang berhasil.
Room to Read, sebuah organisasi nirlaba yang membangun perpustakaan, sekolah serta menyediakan beasiswa bagi siswa-siswi negara miskin, dibangun oleh John Wood, mantan eksekutif Microsoft Corporation (baca memoar: Leaving Microsoft to Change The World). John Wood memutuskan banting setir, hengkang dari Micrsoft saat karir di Microsoftnya sedang bersinar, beralih menjadi CEO proyek nirlaba yang jauh dari gelimang harta dan popularitas. Dalam memoarnya Wood menuliskan “orientasi hidup saya telah berubah, pekerjaan di Microsoft tidak membuat saya menjadi bersemangat, proyek kecil mengirimkan buku-buku ke Nepal jauh lebih membuat saya merasa antusias”.
Ada sebuah kisah tentang dua orang tukang batu yang sedang membuat mesjid; saat ditanya tentang apa pekerjaannya, tukang batu pertama mengatakan : “Saya sedang memecahkan batu dan menyusunnya agar jadi bangunan”. Sedangkan tukang batu yang kedua menjawab: “Saya sedang bekerja ikut membangun sebuah mesjid, yang nantinya akan menjadi tempat beribadah masyarakat negeri ini”.Dari tiga cerita diatas mungkin pesan moral yang dapat diambil adalah “passionate”, semangat dan rasa antusias merupakan, salah satu modal untuk dapat menghasilkan pekerjaan “besar” yang menghasilkan manfaat bagi banyak orang. Semangat dan antusias dalam beraktifitas dalam semua bidang akan mengeluarkan potensi terbaik masing-masing orang. Walaupun mungkin perlu energi dan proses untuk membangun, membangkitkan serta menjaga “passionate” agar tetap membara.
Selamat beraktifitas dengan penuh semangat dan antusias. Beraktifitas dan bekerja untuk memberikan kebaikan dan kemaslahatan bagi semua, tidak hanya sebatas pencapaian materi.
Outliers, 10000 jam kerja keras menuju puncak keberhasilan
Dalam bukunya Outliers, Malcolm Gladwell mengupas jalan yang ditempuh oleh para juara dalam berbagai bidang, dan menemukan bahwa latihan serta kerja keras mengalahka kecerdasan dan bakat.
Mengapa Bill Gates sukses menjadi seorang miliarder dan teknokrat ? Menurut analisa Gladwell dalam bukunya tersebut selain cerdas dan ambisius Bill Gates memiliki kesempatan-kesempatan dan momen yang istimewa. Tahun kelahiran Gates yaitu tahun 1955 membuatnya berada dalam iklim yang cukup dewasa untuk bisa memanfaatkan secara optimal momen peluncuran komputer Altair 8800 (komputer pribadi yang terkenal dan cukup mudah digunakan di tahun 1975). Tahun kelahiran tersebut menyebabkan saat itu menjadikan Gates belum terlalu tua dan mapan, sehingga memberikan peluang besar kepadanya untuk lebih leluasa memilih peluang yang lebih besar, dan lebih beresiko. Sampai akhirnya melahirkan Microsoft Corporation yang sekarang telah bertransformasi menjadi perusahaan software raksasa. Apakah ini suatu kebetulan ? Gladwell selanjutnya memberikan contoh enterpreneur-enterpreneur teknologi sukses lainnya, di Silicon Valley yang memiliki kedekatan tahun kelahiran. Paul Allen co-founder Microsoft lahir tahun 1953, pendiri Apple Computer Steve Jobs lahir tahun 1955, Bill Joy dan Scott Mcnealy pendiri Sun Microsystem lahir tahun 1954. Para teknokrat Silicon Valley tersebut berhasil tidak karena kecerdasan dan bakat tapi juga didukung oleh kesempatan yang tepat dan waktu yang tepat.
Malcolm Gladwell yang telah menulis dua buku menarik sebelumnya Blink dan The Tipping Point, kembali menulis buku berikutnya Outliers. Analisa yang diajukan Gladwell dalam bukunya adalah bahwa suatu keberhasilan tidak hanya ditunjang oleh factor intrinsik seseorang tapi juga dipengaruhi oleh budaya, lingkungan, kesempatan dan waktu yang tepat. Salah satu contoh ilustrasi yang mendukung gagasannya Bill Gates (pendiri Microsoft) serta Bill Joy (pendiri Sun Microsystem) “matang” serta memiliki keahlian yang mengagumkan dalam bidang program komputer karena memiliki akses yang bagus dengan komputer. Selain itu juga, kemajuan teknologi komputer saat itu memungkinkan dua “geek” tersebut mengembangkan keahlian programming mereka tanpa terhambat kelambanan prosesing data. Dari sini muncul efek 10000 jam latihan yang disarankan oleh Gladwell mutlak diperlukan oleh seseorang jika ingin mendongkrak keberhasilan dalam bidang apapaun. Dalam buku ini dibahas juga pemain Hockey, The Beattles yang meraih keberhasilan dalam bidangnya setelah kira-kira menghabiskan 10000 jam berlatih. Berdasarkan analisisnya Gladwell mengajukan usul perpanjangan waktu akademis dalam sistem pendidikan Amerika Serikat, agar dapat lebih menghantarkan keunggulan siswa-siswa Amerika. Dibanding rekan- rekannya dari Asia yang menjalani waktu sekolah lebih panjang.
Gagasan ini terkesan sangat sederhana, tapi dengan analisis data dan contoh kasus yang dikupas dalam bukunya Gladwell berpendapat bahwa keberhasilan ditunjang oleh warisan budaya yang dianut, kegigihan, kejelian menangkap peluang. Kecerdasan ataupun kelebihan intrinsic lainnya memang diperlukan, tapi pada satu fase tertentu hal tersebut tidak akan banyak membantu. Yang diperlukan lebih utama adalah porsi latihan yang lebih sering, kurang lebih 10000 jam. Dalam bidang apapun seprti The Beatles yang banyak menghabiskan waktu manggung mengasahnya di Hamburg, Bill Gates yang menghabiskan waktu melakukan programming di Goerge Washington University. Atau seperti Bill Joy (pendiri Sun Microsystem) yang mengasah kemampuan programmingnya di kampus University Of Michigan dan University of California yang memiliki akses computer terbaik saat itu.
Bayangkan jika kesempatan-kesempatan yang positif diberikan kepada generasi muda, berapa banyak “rising star-rising star” dalam berbagai bidang yang akan muncul. Sehingga dalam kesimpulannya Gladwell menuliskan “Jika kita mengabaikan atau salah memahami pelajaran keberhasilan yang sebenarnya , berarti kita telah menyia-nyiakan bakat”.
Buku yang sangat menarik untuk menambah perbendaharaan pemahaman mengenai proses suatu keberhasilan.
Anak, orang tua dan amanah pembinaan
Memiliki anak yang sehat, shalih merupakan dambaan setiap orang tua. Kehadiran anak dirasakan sebagai pelengkap sebuah keluarga. Akan tetapi sebagai seorang mukmin, kehadiran anak dalam sebuah keluarga tidak lepas dari kehendak Allah SWT. Dan yang pastinya keberadaan anak sebagai sebuah titipan mengandung makna amanah yang besar. Keberadaan anak tidak hanya semata hasil dari proses biologi semata tapi lebih dari itu, ada tugas yang sudah include dalam amanah anak ini.
Salah satunya adalah amanah pembinaan yang paripurna. Pembinaan yang benar sehingga anak yang di titipkan kepada kita tumbuh menjadi generasi terbaik pembela umat. Generasi yang memiliki akhlak mulia dengan karakter yang kuat.
Sehingga sudah seharusnya para orang tua memiliki kesadaran dan kesanggupan dalam mengemban amanah ini. Untuk mampu membina guna membentuk generasi yang kuat melalui pembinaan dalam keluarga.
Semoga predikat orang tua; ayah, ibu tidak semata-mata di”sematkan” karena sudah memiliki anak. Tapi harus lebih dari itu. Saat menjadi orang tua kita harus memiliki kemampuan menjadi orang tua. Kemampuan yang dibangun melalui kesadaran, pengalaman dan pembelajaran yang terus menerus.
Dalam Al Qur’an surat An-Nisa:9 : “Dan hendaklah takut kepada ALLAH orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatirkan keadaannya. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada ALLAH dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar”. Generasi yang kuat akan muncul jika dibesarkan di atas pijakan ketaqwaan kepada ALLAH serta berkata perkataan yang benar. Dengan dua “guide line” ini insya Allah akan terbentuk anak-anak dengan karakter yang kuat yang mampu berperan sebagai generasi shalih pewaris semangat para Nabi dan golongan orang-orang yang shalih.
Semoga kita semua yang sudah diamanahi tanggung jawab ini dimampukan oleh ALLAH untuk membina membentuk generasi yang kuat. Generasi yang mampu mengusung risalah kebenaran mengukir prestasi dan amal shalih dalam berbagai peran dalam masyarakat. Amin.
Wallahu’alam Bishawab
Sony..dari bengkel radio menjadi perusahaan inovatif kelas dunia
Setiap orang pasti mengenal merek Sony dan kemungkinan besar pernah menggunakan produk Sony. Sebagai perusahaan elektronik Sony dinilai berhasil membesut produk produk yang laris manis atau menjadi icon di dunia teknologi. Sebut saja televisi Trinitron, pemutar musik Walkman, notebook VAIO, komputer genggam CLIE, konsol game Play Station, phone cell Sony Ericsson dan sederet produk lainnya.
Tapi dibalik kesuksesan menjadi salah satu icon teknologi dan inovasi, Sony pada mulanya “hanyalah” sebuah bengkel radio di Tokyo jepang; Tokyo Tsushin Kogyo (Tokyo Telecomunication Engineering Corporation). Di dirikan oleh Akio Morita dan Ibuka setelah perang dunia ke II. Setelah memutuskan untuk melakukan manufaktur produk, Morita dan Ibuka mempoduksi penanak nasi dari kayu (khas Jepang) dengan sumber energi listrik untuk memanaskan nasinya. Tapi entah kenapa nasi yang ditanak tidak pernah matang. Akhinya produk pertama mereka gagal.
Sony, ditangan Morita dan Ibuka dapat berkembang dari sebuah perusahaan lokal menjadi sebuah perusahaan elektonika pertama Jepang yang merambah secara Global. Bermula dari Morita yang berkunjung ke perusahaan Phillips Belanda di era 50-an. Kunjungan itu membawa mimpi bagi Morita untuk membawa Sony menjadi perusahaan kelas dunia. Disini kita bisa belajar contoh kekuatan sebuah visi dan tekad untuk mewujudkannya.
Morita dan Ibuka merupakan contoh pemimpin bertangan dingin dan memiliki visi yang kuat. Walaupun pucuk pimpinan dipegang oleh dua orang tapi mereka mampu “membagi” kekuasaan dan bersinergi membangun budaya perusahaan yang solid. Budaya perusahaan inilah yang menjadi “resep rahasia” Sony selain sumber daya manusia yang bagus.
Kedisiplinan, inovasi, keberanian untuk mengambil resiko, kebersamaan, kesedehanaan, merupakan sebagian budaya perusahaan Sony yang dapat diaplikasikan dengan baik. Maka tidak heran di Sony sang pendiri Sony berinteraksi secara langsung dengan petugas kebersihan dan karyawan level paling bawah. Budaya egaliter merupakan salah satu pemicu inovasi Sony. Memungkinkan orang-orang Sony mengeluarkan potensi terbaiknya untuk perusahaan. Kesederhanaan merupakan budaya yang di anut seluruh karyawan mulai dari level bawah sampai top management. Morita dan Ibuka mencontohkan sikap bahwa budaya mewah bukanlah taraf pencapaian terbaik. Berprestasi terus menerus merupakan pencapaian yang lebih beharga ketimbang bermewah-mewah.
Inovasi merupakan ciri khas Sony yang sudah mendarah daging. Produk produk Sony terkenal dengan desain dan kinerja yang prima, walaupun tidak semua laris dipasaran. Diawali dengan produk radio transistor portable Sony yang laris, Sony menggulirkan produk lainnya dengan “DNA” yang sama: pemutar musik portable WALKMAN, notebook VAIO, konsol game Play Station. Walaupun ada lini-lini produk yang gagal tapi tidak menyurutkan inovasi Sony dan investasi untuk mengembangkan bisnisnya. Sampai sekarang budaya Sony yang ditanamkan sang pendiri masih mengakar kuat walaupun Sony adalah sebuah perusahaan global. Suatu contoh perusahaan global dengan budaya lokal yang kuat dan positif.
Hal yang menyentuh lainnya dari budaya Sony: Sony meletakkan tujuan usahanya bukan hanya untuk mencetak laba semata. Yang paling utama bagi Sony adalah mengembangkan pertumbuhan jangka panjang dengan memberikan produk terbaik bagi konsumen, serta kesejahteraan bagi para karyawannya.
Suatu budaya yang mungkin dianggap utopia oleh kultur corporat barat tapi nyatanya sampai sekarang Sony masih bertahan sebagai perusahaan yang disegani.
Disadur dari : The Sony Way
Kekuatan dalam kesederhanaan
Saya suka kagum pada orang yang mampu memberikan penjelasan atau “mentrransfer” ilmu dengan bahasa yang sederhana & mudah dipahami. Memang kemampuan seperti itu merupakan hasil dari suatu pemahaman yang matang atau hasil pengalaman yang panjang. Tipe orang2 yang seperti itu menggunakan bahasa yang “membumi” alih-alih menggunakan bahasa “langit”.
Beberapa waktu yang lalu saya sempat mengikuti kursus singkat mengenai sistem pendingin untuk penyimpanan vaksin. Mentornya adalah salah seorang insinyur senior di peusahaan. Tanpa menggunakan istilah yang rumit apalagi persamaan-persamaan Termodinamika beliau mampu menjabarkan proses pendingin menjadi suatu cerita yang menarik untuk disimak. Membuat kami para peserta lebih sering mengangguk daripada mengernyitkan kening : ).
Pendapat saya keterampilan untuk mampu meramu hal yang rumit menjadi hal yang lebih sederhana adalah keterampilan yang berguna dimanapun kita berada. Tidak hanya dikampus atau didunia kerja, tapi dikeluarga serta di masyarakat luas keterampilan itu akan banyak bermanfaat.
Seorang dosen pernah berbagi cerita saat mengambil program Ph.D bidang ilmu bahan, profesornya saat penelitian memberi tugas untuk mempresentasikan hasil risetnya kepada istri sang dosen tsb, yang tentunya adalah orang awam untuk bidang ilmu rekayasa material. “Jika anda mampu menjelaskan hasil riset anda kepada istri anda maka kemungkinan besar anda akan berhasil saat sidang desertasi nanti”…begitu sang profesor berujar. Dan memang sang dosen ini memiliki kekhasan dalam mengajar, materi-materi kuliah yang rumit dalam ilmu material disajikan dalam kelas dengan bahasa populer yang mudah dipahami.
Dalam bukunya A Brief History of Time, fisikawan kondang Stephen Hawkin menuliskan konsep Fisika Modern mengenai ruang, waktu dalam bentuk tulisan yang populer. Tanpa ada persamaan-persamaan fisika yang rumit. Tapi tidak menghilangkan inti dari penjelasan yang disampaikannya dalam bidang Fisika Modern, Luar Biasa !.
Dalam sebuah hadist Rasulullah SAW bersabda “sampaikan Islam dengan bahasa masing-masing kaum”. Ternyata dalam berdakwah pun dianjurkan dengan bahasa sederhana yang penuh hikmah. Dan dalam perjalanan dakwah Rasulullah SAW senantiasa mencontohkan berdakwah dengan bahasa yang mudah dipahami. Bahasa dakwah islam yang disampaikan oleh beliau kepada seorang arab badui berbeda dengan yang disampaikan kepada Kaisar Romawi timur.
Terkadang kita terlalu berkutat dalam hal yang detail dan istilah-istilah ilmiah tapi belum menyentuh inti dari sebuah keilmuan.
Word of Mouth Marketing (WOMM)….dahsyatnya kekuatan pemasaran dari mulut ke mulut
Konsumen sebagai sasaran bidik sebuah produk sebetulnya memiliki potensi yang besar untuk memasarkan produk yang dipasarkan. Bagaikan virus yang dapat melakukan penyebaran sangat cepat yang semula hanya diawali oleh satu orang yang memiliki jaringan luas, dapat memberikan pengaruh terhadap pemasaran sebuah produk. Rekomendasi dan pemasaran “dari mulut ke mulut”.
Sehingga saat produk memiliki nilai positif akan memiliki peluang yan sangat besar untuk direkomendasikan konsumen kepada konsumen yang lainnya dan begitu juga sebaliknya saat produk yang dilempar kepasaran dinilai memiliki nilai negatif, maka akan mendapatkan publisikasi negatif oleh para konsumen. Bahkan hasil penelitian sebuah lembaga research menunjukkan untuk hal-hal yang negatif (Negative Word of Mouth, NWOM) memiliki angka penyebaran yang lebih besar dibandingkan hal-hal yang positif (Positive Word of Mouth, PWOM). Berdasarkan hasil riset rata-rata konsumen di Indoensia menceritakan hal yang positif kepada 7 orang, sedangkan hal yang negatif kepada 11 orang. Cukup significant bukan ?. Ternyata konsumen sendiri memiliki kontribusi terhadap aktifitas pemasaran dan pencitraan produk entah itu barang ataupun jasa. Contoh yang mudah terlihat dalam realita adalah bagaimana rumah makan-rumah makan yang sederhana tapi memiliki keunikan tetap mendapatkan pelanggan padahal mereka tidak pernah beriklan sama sekali dalam media massa. Ya kekuatan pemasaran lewat mulut para pelanggannya. Fenomena ini diangkat juga oleh Jurnalis Malcolm Gladwell dalam bukunya “THE TIPPING POINT”. Yang secara umum menyajikan analisa bagaimana hal-hal yang besar dipengaruhi oleh hal-hal kecil termasuk aktifitas Word of Mouth dalam pemasaran.
Sehingga dengan melihat kekuatan pengaruh pemasaran dari mulut ke mulut produsen sebuah produk perlu untuk lebih fokus dalam menjalankan Word of Mouth Marketing. Membuat para pelanggan kita membicarakan (do the talking), mempromosikan (do the promotion) dan menjual (do the selling).
Dalam aktifitas Word of Mouth Marketing, produsen dapat memanfaatkan para pelanggan potensialnya untuk memberikan kontribusi merubah konsumen lainnya menjadi bersikap positif terhadap produk yang dipasarkan. Para pelanggan ini merupakan profitable talkers yang memiliki pengaruh serta jaringan yang cukup besar untuk mempengaruhi konsumen yang lainnya untuk menjadi positif, mencoba dan membeli produk.
Dalam buku THE TIPPING POINT, Malcolm Gladwell menyajikan analisa mengenai bagaimana beberapa golongan orang dapat memberikan pengaruh yang besar terhadap masyarakat. Entah itu membentuk opini, menggerakkan massa sampai mempromosikan suatu produk. Malcolm menyebut golongan tersebut sebagai para Maven (orang bijak), Connector (penghubung), Salesman (penjual). Masing-masing memberikan kontribusi yang besar dalam memberikan pengaruh kepada massa.
Maven (orang bijak) merupakan orang dengan perbendaharaan informasi yang banyak terutama informasi-informasi baru. Para Maven ini memiliki kecenderungan untuk berbagi pengetahuan yang dimilikinya dengan orang lain tanpa pamrih. Bagi mereka membantu dan menolong orang lain adalah suatu kepuasan. Salesman (penjual), golongan orang yang memiliki pengaruh yang kuat untuk dapat mempengaruhi orang lain secara halus. Umumnya tipe-tipe orang yang memiliki kemampuan lebih dalam hal bernegosiasi dan mempengaruhi. Connector (penghubung) merupakan tipe orang yang memiliki akses pergaulan yang luas kedalam berbagai jenis kalangan strata social serta mampu “menghubungkan” diantara mereka. Tipe-tipe orang tersebut kemungkinan besar juga terdapat dalam pelanggan yang dimiliki oleh sebuah perusahaan. Bayangkan kekuatan pemasaran yang muncul jika mereka merekomendasikan sebuah produk.
Banyak perusahaan-perusahaan yang mensponsori komunitas pengguna produk, menggandeng pelanggan potensial untuk menjadi “agen” yang dapat membantu memasarkan. Di tengah kelesuan belanja iklan konvensional di media massa serta tuntutan untuk berasing ketat dalam iklim bisnis yang masih kelabu, aktifitas Word of Mouth Marketing merupakan salah satu “resep” jitu untuk meningkatkan brand image produk dan mendongkrak keuntungan usaha.
Bahkan produk-produk berteknologi tinggi serta perusahaan-perusahaan baru banyak menggunakan aktifitas pemasaran Word of Mouth Marketing ini. Produk RIM, Smartphone Blackberry, situs pencarian Google, situs took online Amazon.com, situs jejaring sosial FaceBook merupakan salah satu contoh bagaimana kekuatan pemasaran dari mulut ke mulut memberikan hasil citra positif dimata konsumen, sehingga memunculkan ketertarikan untuk mencoba dan menggunakan produk mereka.
Tentunya hal ini harus dibarengi dengan penyajian produk yang prima bukan hanya sekedar lips service. Sehingga pelanggan betul-betl tergerak untuk mempromosikan dan memberikan kontribusi pemasaran yang significant. Make your custumers do the talking, promoting and selling.
Refrensi : Businessweek Mei 2009, Sumardy Head of Consulting Octovate




Recent Comments